PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Firasat Wanita


__ADS_3

"Jangan berpikiran buruk seperti itu Mas Jul. Bisa saja apa yang terjadi pada ayah mertua tidak seperti yang Mas Jul pikirkan."


"Benar, Mas Jul. Mungkin saja ayah mertua juga mencari Mas Jul dan ibu selama ini. Kalau tidak, mana mungkin tiba tiba dia ngirim uang dan sebagainya."


Julian hanya terdiam. Apa yang dikatakan para istri memang ada benarnya. Mungkin sang ayah memang mencarinya. Tapi yang menjadi pertanyaan dalam hati Julian, kenapa hanya uangnya yang datang disaat sudah mengtahui keberadaanya? Namun Julian hanya bisa menanyakan hal itu dalam hati.


Di saat keadaan mendadak hening, ponsel Julian terdengar berdering. Pria itu langsung bangkit dari meja makan serta beranjak menuju sofa dimana ponselnya dia letakkan di sana sedari tadi sebelum saat sarapan tiba.


Kening Julian berkerut saat melihat layar ponselnya terpampang nomer baru. Dia pun langsung menggeser tanda hijau dan menempelkan ponsel pada telinga. Setelah bertanya ini siapa dan ada jawaban dari seberang, nampak wajah tanda tanya Julian yang tadi dia tunjukkan memudar berganti senyum yang merekah.


"Oke! Nanti aku segera kabari jika jadi datang, makasih."


Klik!


Panggilan telefon berakhir. Senyum julian masih terukir saat ponselnya sudah tidak menempel pada telinganya. Sikap Julian tentu saja dipantau sang istri dari meja makan. Bahkan salah satu dari tiga istrinya beranjak menghampiri Julian yang sekarang duduk di sofa.


"Telfon dari siapa? Kayaknya senang banget, sampai senyum senyum sendiri?"


Julian yang sedang menatap layar ponsel, mengalihkan pandangannya sejenak ke arah sang istri yang baru saja melempar pertanyaan dan duduk di sofa yang sama dengan dirinya. "Bukan siapa siapa, cuma orang yang kemarin datang ke rumah untuk pesan batagor."


"Yang kemarin datang ke rumah? Siapa?" tanya Kamila dengan kening berkerut, mencoba mengingat kembali siapa yang telah pesan batagor pada suaminya.


"Itu loh, Dek, dua cewek yang pakai mobil pas datang ke rumah lama. Yang akan menjadikan batagorku di menu restorannya," balas Julian sembari mengingatkan tamunya yang datang beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Oh yang itu? Yang pakaiannya seksi banget ya?" tanya Kamila menegaskan, dan sang suami mengiyakan. "Dia serius mau menjadikan menu batagor di restorannya?"


"Ya pasti seriuslah, Dek. Orang dia kembali menghubungi aku. Kalau nggak serius, mana mungkin dia masih nyimpen nomerku."


"Ya syukur sih kalau serius, Mas, berarti batagor Mas Jul ada kemajuan," Namira yang baru saja bergabung langsung ikut bersuara. "Tapi kok aku ngerasa janggal ya, Mas."


"Janggal gimana?" tanya Julian dengan tatapan heran.


"Takutnya ini hanya penipuan aja."


Julian mendengus kasar nafasnya. "Jangan terlalu berpikiran buruk. Kalau ini penipuan, ngapain tadi dia nawarin aku untuk datang ke rumahnya."


"Hah! Jadi dia ngajak ketemuan?" tanya Namira nampak terkejut.


"Apa! Kenapa nggak bisa?" Namira nampak terkejut mendengar ucapan sang suami. Begitu juga dengan Kamila dan Safira yang baru saja bergabung bersama yang lainnya.


"Alasannya apa, Mas Jul nggak boleh bawa istri?" tanya Kamila terlihat begitu penasaran.


"Ya kan kita akan membicarakan bisnis. Masa iya bicara kerja sama, aku malah bawa istri? Itu permintaan dia sih sebenarnya, bukan permintaan saya."


"Mas Jul setuju?"


Dengan mantap Julian mengangguk. "Ya setuju aja lah, Dek. Kan ini juga buat perkembangan usaha kita."

__ADS_1


"Emang orang mana sih, Mas?"


"Orang kota, restorannya aja dekat sama tempat wisata."


"Kok bisa ya, pesan batagornya kesini? Kan jaraknya lumayan jauh?"


Julian lantas tersenyum. "Jangan terlalu berpikiran buruk, Dek. Bisa saja kan ini salah satu jalan sukses, kita nggak tahu loh jalannya darimana. Kalian tenang saja ya?"


Ketiga istri Julian langsung terdiam dengan perasaan penuh tanda tanya. Sedangkan Julian malah senang melihat raut wajah tiga istrinya yang sedang dilanda bimbang. Tanpa Julian sadari, kalau firasat ketiga istrinya itu benar.


Di seberang sana, tepatnya di kota kabupaten, wanita yang baru saja melakukan panggilan kepada Julian nampak tersenyum senang. Wanita bernama Lita itu masih penasaran dengan penjual batagor yang katanya telah merebut pacar Reynan.


"Gimana, Lit? Pedagang batagornya mau di ajak ketemuan?" tanya teman Lita yang akrab dipanggil Febi.


"Mau dong. Laki laki mana sih yang nolak kalau diajak ketemu sama aku," balas Lita dengan percaya diri yang tinggi.


"Tapi kan dia udah punya istri, Lit."


"Hahaha ... kamu tuh kayak nggak tahu laki laki aja sih, Feb. Sekalinya brengsek tetap brengsek. Aku nyuruh dia datang sendiri aja dia mau. Kalau dia laki laki setia, harusnya nego, minta bawa istri. Orang dia mau kok datang sendirian. Ya udah, dengan senang hati aku akan menyambutnya nanti."


"Benar juga ya? Ternyata semua laki laki sama. Ada barang bagus, langsung aja tuh semangat dan lupa kalau dia punya istri."


"Nah, Tuh tahu. Hahha ..."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2