PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Amarah Sang Pembenci


__ADS_3

"Hallo, Mah."


"Apa! Surat panggilan dari kantor polisi? Tentang apa?"


"Sialan! Padahal Papah udah atur semuanya loh?"


"Yaya, Papah akan segera pulang!"


Klik.


"Kurang ajar!" Wajah Suryo nampak merah padam saat ini. Dia langsung menyambar jass dan tas kerjanya lalu bergegas keluar dari gedung tempat dirinya bekerja. Ada amarah yang langsung meluap begitu mendengar kabar dari istrinya. Bagaimana mungkin surat panggilan untuk anaknya tetap datang disaat dia sudah mengatur semuanya agar kasus yang menimpa Reynan tidak bisa diproses.


"Mana surat pemeriksaannya, Mah?" ucap Suryo begitu dia sampai rumah dan menemui sang istri yang sedang manunggunya. Istri Suryo langsung menyerahkan surat itu kepada suaminya.


"Gimana sih, Pah? Kok Papah bisa kecolongann seperti ini? Pokoknya Papah harus menemui kepala aparat untuk menangguhkan laporan itu!" hardik sang istri begitu Suryo membaca surat dadi kantor polisi untuk anaknya.


"Ya Papah juga nggak tahu, Mah. Papah juga sudah menyuruh oknum agar laporan yang dilayangkan Julian ditangguhkan saja. Sialan! Apa Julian menyuap aparat?" Suryo membantah dengan geram ucapan istrinya.


"Bisa jadi itu, Pah. Pasti Julian menyuap polisi agar kasusnya segera diproses. Kurang ajar, dia benar benar mau menjatuhkan harga diri keluarga kita, Pah."


"Udah, Mamah tenang aja. Biar Papah sama pengacara yang ngatasin. Berani beraninya dia ngusik hidup kita," Suryo langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Di tempat lain, Reynan sendiri terlihat sedang menikmati bakso bersama Mirna. Kata orang tua dari masing masing pihak, Reynan dan Mirna disuruh sering meluangkan waktu untuk ketemuan agar keduanya bisa saling mengenal lebih jauh satu sama lain.


Di saat Mirna sedang membayangkan yang indah indah karena akan menjadi istri seorang pria dari keluarga yang kaya raya, Reynan jutsru memikirkan hal yang berbeda. Dia justru sedang memikirkan Julian dan mencari cara agar bisa melumpuhkan Julian serta membuat pria itu jatuh ke dalam pelukannnya.


"Rey, Rey!" panggil Mirna saat dia menyadari kalau calon suaminya sedang melamun. "Kamu melamun?"

__ADS_1


Reynan nampak terkejut begitu dia sadar dari lamunannya. "Hehehe ... maaf, Mir."


"Apa ada yang sedang kamu pikirkan, Rey?"


Reynan kembali tersenyum. "Tadi aku sedang mikirin, bagaimana caranya memberi pelajaran pada Julian dan istrinya. Kesal aku tuh," kilah Reynan.


"Loh, katanya dia mau laporin kamu ke polisi? Ya kamu ladenin aja. Bukankah kamu nggak salah? Nggak perlu takut. Biar malu sekalian mereka."


"Menurutku kurang seru kalau memberi pelajaran lewat hukum. Penginnya lewat jalur pribadi loh, lebih puas."


"Kamu kan banyak duit, Rey. Suruh orang lain aja buat ngasih pelajaran Julian. Aku yakin sih, dengan kuasa dari ayahmu, kamu nggak akan diproses hukum, jadi kamu tetap aman dan bisa melumpuhkan Julian tanpa menyentuhnya."


"Ah ... benar juga. Baiklah, nanti aku coba ide kamu, Mir."


"Baguslah, biar tahu rasa si Julian."


Disaat bersamaan, telfon Reynan berdering. Pria itu langsung meraih ponselnya yang tergelak di meja dan menggeser tombol hijau.


"Lagi di tempat Om Rastam, Pah."


"Apa! Yang bener, Pah? Sialan! Iya, Pah, nanti Reynan sama Lehan ke rumah."


"Iya, Pah."


Klik


"Ada apa?" tanya Mirna begitu pria di sebelahnya mengakhiri sambungan telfonnya.

__ADS_1


"Papah ngasih tahu, katanya surat pemanggilan atas namaku sudah sampai di rumah. Sialan, Julian. Dia benar benar serius dengan ucapannya."


"Terus, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku harus pulang, nggak apa apa yah,aku pulang dulu. Karena ini masaalahnya cukup genting."


"Baiklah, semoga urusannya cepat kelar dan Julian mendapat pelajaran yang setimpal."


Reynan mengaminkan. Mereka berdua beranjak dari warung bakso dan bergegas menuju rumah kakak Mirna karena mobil yang digunakan Reynan terparkir di sana. Begitu Reynan sudah berada di dalam mobil, dia langsung menancap gas dan pergi menuju rumah Lehan.


Sesampainya di rumah Lehan, ternyata rumahnya nampak sepi. Padahal pintu rumah terbuka tapi Reynan mengucap salam beberapa kali, tak ada jawaban dari si pemilik rumah.


"Ini rumah nggak ada orang apa gimana? Kok sepi?" gumam Reynan. Dia melihat ada orang lewat dengan langkah tergesa gesa.


"Cari Lehan, Mas?" tanya orang itu.


"Iya, Bu. Tapi kayaknya nggak ada orang. Padahal pintu rumahnya terbuka."


"Lehan sama orang tuanya lagi di rumah Pakdenya tuh. Mereka sedang ribut besar."


"Loh? Ribut? Ribut kenapa, Bu?"


"Gara gara menantu Pakdenya Lehan melaporkan Lehan kepada polisi. Perang deh itu keluarga. Benar benar nggak ada yang mau ngalah."


Sementara itu di tempat lain, seorang pria berperut buncit dengan mengenakan pakaian rapi mendatangi kantor polisi dengan wajah yang merah padam. Orang itu langsung masuk di ruangan pimpinan kantor tersebut.


"Eh, Pak Sumanto, apa kabar? Tumben Bapak datang ke kantor siang siang begini?"

__ADS_1


"Nggak perlu basa basi! Langsung saja ke intinya. Kenapa anda memproses laporan dari Julian? Hah!"


...@@@@@...


__ADS_2