
"Mbak, beneran nggak sih, Julian orang kaya?"
"Ya beneran dong, Mirna. Dia itu diem diem punya banyak harta. Kenapa sih?"
"Pantas sih, sombong banget dia. Disapa aku, boro boro mau menyahut."
"Hahaha ... ya yang sabar dong, Mir. Kalau pengin dapat suami kaya. Orang kaya sombong ya wajarlah. Kalau miskin sombong baru kurang ajar namanya."
Wanita itu hanya mendengus kesal, tapi tak lama setelahnya dia tersenyum lebar. Wanita itu namanya Mirna, dia adalah adik dari Samsul, tetanggnya Julian. Mungkin kalau bukan mendengar Julian punya kekayaan tersembunyi, wanita itu nggak bakalan mau mendekati pria itu. Bagi Mirna, memiliki pria kaya itu wajib. Makanya dia sangat sulit didekati oleh pria sederhana atau biasa saja.
Namun sayang, gara gara sifat matrenya itu, dia sering dijadikan permainan oleh laki laki. Ada yang menjadikan bahan taruhan. Ada juga yang hanya memanfaatkan uang dia saja. Mantan pacarnya sendiri memang rata rata membawa mobil bagus, tapi sayang akhlaknya banyak yang tidak bagus.
Bagi Mirna, akhlak itu nomer sekian, asal dia pria kaya, ayo saja. Mereka bisa jalan. Makanya, mendengar Julian memiliki kekayaan tersembunyi, Mirna langsung saja bersikap manis kepadanya tadi. Padahal sebelumnya, menoleh ke Julian pun enggan, apa lagi menyapa.
"Pantas sih ya? Julian kayak tenang gitu punya tiga istri. Padahal dia hanya penjual batagor dan siomay. Ternyata dia punya uang yang banyak," ungkap Mirna sembari memandang rumah Julian dari balik kaca rumah kakaknya.
"Nah, maka itu, kamu harus bisa meluluhkan hati Julian. Terus kamu minta dinikahi. Setelah itu kamu usahakan agar Julian mau menceraikan istri lainnya," usul sang kakak ipar.
"Baiklah, demi menjadi nyonya Julian, aku memang harus pake akal. Setidaknya aku bisa membuktikan aku memang berhak dengan pria yang sepadan denganku."
__ADS_1
Dua wanita itu pun saling melempar senyum. Sementara itu, pria yang menjadi topik pembicaraan dua wanita itu, kini sedang melajukan motornya menuju rumah istri yang lain. Malam ini giliran rumah Safira yang dikunjungi Julian. Rumah wanita itu juga tidak terlalu jauh letaknya. Hanya berjarak dua desa dari desa Julian.
"Waahh! Anak dan menantuku datang!" Seru wanita paruh baya yang dipanggil Umi oleh Safira. Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, Julian dan Safira pun segera masuk ke dalam rumah.
"Kirain udah lupa sama rumah, nak?" ledek pria yang dipanggil Abah oleh Safira.
"Apaan sih, Bah. Ya nggaklah, emangnya Safira anak durhaka," gerutu wanita berusia dua puluh tiga tahun lebih eman bulan itu.
"Ya kali aja lupa karena betah tinggal bareng suami. Apa lagi desa kamu ini kan sepi."
"Hahha .. Abah bisa aja."
"Jadi istri memang harus kayak gitu, Fira. Kalau suami benar, dukung. Kalau salah nasehati. Terus sama istri yang lain, kalian akur aja kan?" tanya Abah.
"Alhamdulillah, Bah. Sampai detik ini, kita masih baik baik saja. Semoga kedepannya juga kami akan seperti ini," Julian yang menjawab meski agak gugup.
"Aamiin, semoga kalian semua saling akur satu sama lain," harap Abah. "Ya udah mending kalian istirahat saja dulu. Kamar Safira tiap hari dibersihin sama Umi. Sembari nunggu selesai masak sekalian nunggu adikmu pulang sekolah."
"Baik, Bah."
__ADS_1
Setelah dipersilakan, Safira mengajak suaminya menuju kamar. Kebetulan kamar Safira dekat dengan ruang untuk menerima tamu. Dengan canggung, Julian masuk ke dalam kamar istri keduanya.
"Kamu nggak pake ranjang?" tanya Julian agak terbata setelah berada di dalam kamar.
"Enggak, nnggak suka, jawab Safira sembari duduk di tepi kasur yang lumayan tebal.
Mata Julian mengedar ke segala ruangan yang luasnya tiga kali tiga meter itu. Tidak ada barang lain disana selain lemari kayu yang tidak terlalu besar.
"Kamu nggak pake meja rias?" tanya Julian sambil mendudukan pantatnya di atas karpet dan bersandar pada lemari.
"Ngapain pake meja rias? Orang aku paling pake bedak dan lipstik doang kalau mau pergi."
"Benar juga yah?" balas Julian.
"Ya jangan grogi gitu dong, Mas," celetuk Safira. Ternyata diam diam, dia memperhatikan suaminya.
"Hehehe .. kamu kan tahu, itu kekuranganku."
Safira lantas tersenyum dan dia perlahan mendekat ke arah Julian hingga pria itu semakin gelagapan.
__ADS_1
"Kamu mau apa?"