PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Keluarga Pembenci


__ADS_3

"Dia udah punya istri tiga? Bagaimana bisa?"


"Iya, padahal hanya penjual batagor tapi anaknya sok kaya banget."


"Hah! Penjual batagor punya istri tiga? Keren tuh! Namanya siapa?"


"Julian."


"Julian?" Suryo sedikit terkejut dengan nama yang disebutkan oleh Rastam. "Apa mungkin itu orang yang sama dengan kenalan si Reynan?"


Sekarang gantian Rastam yang menunjukan wajah terkejutnya. "Kayaknya nggak mungkin deh, Yo. Reynan anak kuliahan, nggak mungkin dia kenal sama orang Miskin penjual batagor."


Suryo membenarkan apa kata pria di sebelahnya, tapi di sisi hati yang lain ada rasa penasaran yang menyeruak. "Mungkin saja begitu. Tapi Julian yang dia kenal orang daerah sini juga, Tam. Apa mungkin, Julian yang kamu maksud itu adalah Julian yang nikahnya karena di grebeg warga?"


"Loh kok kamu tahu, Yo? Iya, dia Julian yang itu!"


"Owalah, ternyata benar satu orang. Jadi gini Tam ..." Suryo mulai menceritakan kasus yang melibatkan anaknya yang dilayangkan Julian.


"Lah, Kok bisa bisanya dia berani ngusik kamu, Yo? Harus dikasih pelajaran itu. Itu sama saja, mau mencoreng nama baik kamu. Apa dia udah lapor ke polisi?"


Suryo mengangkat kedua bahunya. "Selama ini aku belum menerima surat panggilan. Entah dia jadi laporin Reynan apa enggak, masih adem aja tuh, Tam."


"Benar benar cari mati tuh si Julian. Terus apa yang akan kamu lakukan, Yo? Apa kamu akan membiarkan anak kamu berurusan dengan hukum?"

__ADS_1


Suryo sontak tersenyum sinis. "Tentu saja aku sudah memikirkan sesuatu. Lagi pula mudah bagi aku untuk memberi pelajaran sama anak itu. Punya apa dia sampai mau menantangku."


"Hahhah ... benar juga. Jangan biarkan dia lolos, Yo. Kasih pelajaran agar dia bisa mengingat seumur hidup dia, kalau berurusan dengan kamu itu akan berakhir buruk."


"Pasti itu, hahaha ..."


Dua pria paruh baya itu serentak tertawa bersama. Mereka semakin terlihat akrab karena memiliki musuh yang sama. Tentu saja keduanya ingin melihat penyesalan Julian karena sudah mengusik kehidupan tenangnya.


Dan acara dua keluarga itu berakhir. Saat semuanya sudah pulang, Rastam menceritakan kembali apa yang Suryo alami kepada keluargnya. Sontak saja, semua terkejut mendengarnya. Berbagai umpatan dan doa yang buruk terlontar dari mulut keluarga Rastam


"Benar benar songong tuh anak, baru jadi orang kaya aja udah belagu. Emang harus dikasih pelajaran dia, Pak," sungut Samsul berapi api.


Rastam menyeringai sinis. "Halah, kaya juga nggak seberapa. Lagian mana mungkin dia akan kaya selamanya. Bentar lagi juga akan kembali miskin."


"Hahaha ..." satu keluarga hampir serentak bersamanya. "Oh iya, Pak. Bapak nggak ikut ambil bagian dengan usahanya Om Suryo?" tanya Mirna.


"Om Suryo kan dipercaya sama orang Italia akan membangun supemall di kecamatan ini? Bapak nggak ikut andil gitu untuk mengisi barang nantinya. Om Suryo pasti banyak kenalan tuh. Kali aja Om Suryo mau bantu Bapak agar bisa mengisi barang barang di Mall nantinya."


"Benar juga. Ya udah nanti kalau ada waktu Bapak akan ngomong. Untuk saat ini, fokus dulu sama pernikahan kamu dan Reynan."


"Yang paling mewah, Pak."


"Pasti dong, biar orang sini membuka matanya lebar lebar dan tahu mana yang kaya bohongan dan mana yang kaya beneran."

__ADS_1


Semua yang duduk bersama Rastam langsung tersenyum sinis. Padahal orang yang mereka bicarakan tidak ada disana, tapi keluarga Suryo benar benar menikmati pembicaraan hal buruk tentang pria beristri tiga itu.


Sedangkan Julian sendiri, saat ini sedang duduk bersama tiga istrinya. Ada sesuatu yang sedang mereka bahas, salah satunya tentang laporan yang baru dia buat.


"Jadi kapan, Mas, laporan Mas Jul bisa diproses?"


"Kayaknya nggak lama lagi. Tapi aku agak ragu tadi sama aparatnya, dia kayak enggan gitu menanggapi laporanku."


"Enggan gimana?"


"Yah saat tahu aku melaporkan Reynan dan Lehan, mereka nanggapinnya kayak berat gitu loh. Kayak nggak ada niat untuk menanganinya."


"Loh, kok bisa gitu?" Julian hanya mengangkat kedua pundaknya karena memang dia tidak tahu alasannya. "Mas Jul pake uang pelicin nggak?"


"Uang pelicin? Maksudnya, Dek?"


"Uang pelicin itu uang sogokan, Mas. Rata rata kan gitu, kalau orang miskin bikin laporan, kadang ada aparat yang mempersulitnya, Mas. Mereka baru mau bertindak jika dikasih uang sogokan."


"Ah iya benar. Apa yang diomongin Kamila emang ada benarnya, Mas. Setahu aku juga gitu Mas Jul. Makanya banyak orang yang bikin laporan tapi nggak ada hasil dalam waktu yang lama, tahu tahu laporan mereka ditangguhkan dengan alasan banyak kasus yang terlebih dahulu datang dan harus ditangani."


"Owalah!" seru Julian. "Kok gitu amat yak? Berarti aku harus main suap gitu?"


"Ya kemungkinan seperti itu, Mas. Apalagi orang yang Mas laporin, anak dari keluarga ternama. Pasti aparatnya juga mikir mikir."

__ADS_1


"Ah, sial!"


...@@@@@...


__ADS_2