PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kesamaan Ayah dan Anak


__ADS_3

Di suatu pagi menjelang siang, di rumah lama pria beristri tiga, sang ibu nampak berbincang dengan dua orang wanita bernama Munaroh dan Vita yang diketahui sebagai saudara dari salah satu menantunya. Setelah perbincangan serius diantara mereka berlangsung, Sukma nampak terdiam dengan kening yang berkerut, sedangkan Munaroh dan Vita senyumnya terus terkembang dengan keyakinan yang sangat tinggi kalau rencana mereka pasti berhasil.


"Saya rasa daripada Ibu terlalu berpikir, bukankah lebih baik ibu langsung bertanya kepada anak ibu?" desak sang tamu dengan suara lembut dan sopannya. Wanita bernama Munaroh itu sedari tadi memang lebih banyak mengeluarkan suaranya daripada anaknya, Vita. Namun dari raut wajah keduanya, jelas sekali terlihat sebuah keyakinan kalau apa yuang mereka lakukan akan berjalan lancar sesuai dengan yang mereka harapkan.


"Saya tidak setuju!" tiba tiba suara berat terdengar tegas menggelegar dan mengejutkan semua yang ada di sana. Ketiga wanita yang ada di ruang tamu sontak saja langsung menoleh ke sumber suara. Mata Munaroh dan Vita sempat membulat saat tahu siapa yang baru saja mengeluarkan suaranya.


"Saya tidak setuju dan saya tidak akan pernah merestui Julian menikah lagi dengan wanita manapun terutama anak anda!" suara tegas itu kembali keluar dan cukup mengejutkan bagi dua tamunya yang sempat terpesona dengan seorang pria berwajah bule yang baru saja duduk di sebelah Sukma.


"Kenapa anda tidak setuju dan anda ..."


"Saya ayahnya Julian dan saya tidak setuju anak saya menkah lagi dengan putri anda," ucap Alonso dengan tegas dan menatap dua wanita tamunya dengan tajam. "Anda pikir saya tidak tahu anda menawarkan anak anda untuk menikah dengan anak saya?"


"Apa maksud bapak?"


"Kalau bukan karena anak saya banyak uang, lalu tujuan apa lagi anda merelakan anak anda menikah dengan anak saya? Bahkan anda merendahkan diri anda dan anak anda sendiri sampai mau menjadi istri keempat anak saya. Nggak nyangka, seorang Ibu tega menjual anaknya demi bisa hidup kaya raya."

__ADS_1


Munaroh dan Vita sontak saja tercengang mendengarnya. Meski ucapan Alonso benar, tapi mereka merasa ayahnya Julian sangat menghina mereka. Ucapan pria itu terdengar sangat menusuk hati ibu dan anak tersebut.


"Bukan, kami bukan keluarga seperti itu," sangkal Vita. Kali ini dia baru mengeluarkan suaranya. "Saya mau menjadi istri keempat Julain karena saya mencintai Julian."


Alonso sontak tersenyum sinis. "Apa anda tidak malu mengatakan hal seperti itu? Anda pikir saya percaya? Bukankah sebelum anda tahu Julian yang sebenarnya, anda berdua sangat menghina anak saya di saat menjelang pernikahannya?"


Dua wanita ibu dan anak itu kembali membulatkan mata mereka. Keduanya tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. kenyataannya, apa yang dikatakan Alonso benar, dua wanita itu selalu mengatakan sindiran yang mengandung hinaan di saat hari pernikahan Julian.


"Ayah tahu darimana?" tanya Sukma yang juga cukup terkejut dengan perkataan suaminya.


"Mata ayah kan banyak, Cinta. Ayah menyuruh banyak orang untuk mengawasi dan mencari tahu siapa saja yang menghina anak saya. Salah satunya ya mereka."


"Kami tidak pernah ..."


"Tidak perlu menyangkal dengan alasan apapun!" ucap Alonso dengan lantang. "Atau kalian mau kami bawa ke jalur hukum? Oh tenang saja, nanti juga kalian akan saya sidang saat saya berkunjung ke rumah Namira. kita buktikan dan kita lihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan orang tua Namira."

__ADS_1


Skakmat. Munaroh dan VIta tidak bisa berkata kata lagi. Ini sungguh diluar dari harapan mereka. Ditolak secara langsung saja, mereka tidak membayangkannya. Apa lagi dihina dan akan dipermalukan seperti ini. Sungguh, mereka masih dibuat tak percaya. Karena mersa tidak dapat berkutik lagi dari tuduhan yang Alonso. mereka berdua akhirnya pamit dengan segala kekecewaan dan penuh rasa takut.


Begitu dua tamunya menghilang dari pandangan mata, Alonso langsung terkekeh. Hal itu tentu saja membuat sukma merasa heran. "Kenapa? Kok Mas ketawa?"


"Mas heran saja, nggak di negara ini, nggak di negara sana, ada saja yang rela merendahkan harga dirinya demi harta. Bahkan orang kampung sekalipun, ternyata ada."


"Yah, namanya juga hidup, Mas. Pasti selalu ada orang yang seperti itu. Tadi aku juga heran saat mendengar tujuan mereka ke sini."


"Kenapa cinta nggak langsung menolaknya? Untung Mas dari tadi mendengarkan pembicaraan kalian."


"Ya nggak enak aja kalau langsung nolak gitu, Mas."


"Untuk orang seperti mereka itu nggak perlu ngasih harapan. Bisa besar kepala nanti."


Sukma sontak tersenyum. "ternyata Mas bukan hanya menurunkan penyakit panik ke anaknya, omongan pedasnya juga. Sekarang saya tahu, kenapa Julian ucapannya sangat pedas, ternyata keturunan dari ayahnya."

__ADS_1


Alonso sontak terkekeh dan dia malah merasa bangga mendengarnya.


...@@@@@@...


__ADS_2