PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Gerakan Tak Sengaja


__ADS_3

"Ya jangan grogi gitu dong, Mas," celetuk Safira. Ternyata diam diam, dia memperhatikan suaminya.


"Hehehe .. kamu kan tahu, itu kekuranganku," balas Julian dengan gugup dan senyum yang dipaksakan. Safira lantas tersenyum dan dia perlahan mendekat ke arah Julian hingga pria itu semakin gelagapan. "Kamu mau ngapain?"


Wajah panik Julian semakin jelas terlihat saat ini. Apalagi tubuhnya seperti terkunci karena wajah Safira benar benar berada di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat. Mata Julian terpejam, dadanya kembang kempis dengan rasa gugup yang luar biasa.


"Coba Mas jul, pikirkan yang indah indah," bisik Safira. "Bayangkan kalau kamu punya istri yang kamu cintai, terus kalian mempunyai anak yang lucu. Anak itu sedang merangkak, lalu saat melihat kamu pulang ke rumah, anak itu memberi kejutan. Dia berdiri dan tiba tiba melangkah menyambut kepulanganmu."


Julian tertegun. Suara Safira begitu lembut. Bahkan hembusan nafasnya juga terasa sedikit menyentuh kulit wajah. Yang menjadi pusat perhatian Julian adalah ucapan Sang istri saat ini. Suara yang lembut membuat Julian seperti terhipnotis dan dia dengan segenap kekuatan mencoba melawan rasa gugupnya dengan menuruti semua yang Safira katakan.


Ajaib memang, dengan membayangkan yang indah indah bersama seorang wanita, rasa gugup Julian berangsur sirna. Meski tidak sepenuhnya hilang. Hingga beberapa menit berlalu, Julian perlahan mambuka kedua matanya. Hatinya sedikit tenang meski rasa panik masih turut hadir.


Saat mata Julian perlahan terbuka, wajah cantik istrinya masih terpampang sangat jelas di hadapannya. Wanita itu tersenyum sangat manis, senyum yang menambah kadar kecantikan alami yang dimilki sang istri. Julian menatap lekat wajah Safira dalam balutan kerudung putih. Entah dapat kekuatan dari mana, kepala Julian bergerak dengan cepat ke arah wajah istrinya.


Cup!


Bibir mereka menempel dan mata keduanya langsung membelalak. Julian langsung menarik wajahnya dan wajah mereka bersemu merah serta tatapan mereka terputus dengan hati yang berdebar kencang. Mereka berdua langsung salah tingkah.

__ADS_1


"A-ku ... mau bantuin Umi masak dulu," ucap Safira gugup dan salah tingkah. Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Safira langsung saja bangkit dan beranjak keluar kamar dengan cepat.


"Apa yang aku lakukan? Astaga!" pekik Julian begitu Safira menghilang dari pandangannya. Pria itu mengacak rambutnya, mengusap wajahnya, menepuk nepuk bibirnya. Antara senang dan frustasi, itulah yang dirasakan Julian saat ini. Dia jadi senyum senyum sendiri membayangkan perbuatan konyolnya itu.


"Mas, makan dulu," suara gugup Safira terdengar dari pintu kamar setelah berberapa menit berlalu. Julian yang saat itu sedang rebahan sembari membayangkan ciuman pertamanya, langsung terdiam begitu sang istri memangnggil.


"Oh, iya," balas Julian tak kalah gugup dan canggungnya. Hatinya semakin berdebar tak karuan hanya karena mendengar suara Safira. Julian bangkit dan dengan berusaha bersikap tenang, dia beranjak keluar kamar.


"Sini, Jul. Kita makan bareng," ajak Abah menyambut kedatangan menantunya di ruang tengah. Beberapa hidangan sederhana telah tertata rapi di atas karpet ruangan itu.


"Iya, Bah," jawab Julian malu malu. Biar bagaimanapun, dia masih merasa asing berada di rumah mertuanya. Di tambah lagi kejadian tadi di kamar, membuat rasa malunya semakin bertambah saat matanya tak sengaja saling tatap dengan mata sang istri.


"Iya, dong. Mbak kan banyak duit," balas Safira berlagak sombong di depan sang adik.


"Kalau Mbak Fira banyak duit, harusnya aku dibeliin yang baru juga dong. Masa dikasih yang bekas? Mana retak lagi layarnya," protes sang adik setelah mendengus kasar.


"Ya nanti kalau Mbak ada rejeki, kita beli yang baru," bujuk Safira.

__ADS_1


"Kelamaaan," gerutu Rasyid sembari meletakan ponsel milik kakaknya.


"Ya udah, habis makan kita ke counter ya?" semua mata keluarga Safira langsung tertuju pada satu orang yang ada disana.


"Beneran, Mas?" tanya Rasyid dengan mata yang berbinar.


"Rasyid ..." ucap bapak dengan tatapan tajam yang bisa diartikan kalau itu adalah larangan. Seketika wajah Rasyid berubah cemberut dan menunduk.


"Nggak apa apa, Bah. Mumpung aku ada rejeki," ucap Julian dengan sopan.


"Tapi, Jul ..."


"Abah jangan berpikir ini ngerepotin. Rasyid sekarang jadi adik aku. Ya nggak salah aku bikin seneng dia juga kan, bah? Lagian tiap hari juga belum tentu ketemu."


Abah dan Umi memandang lekat lekat wajah menantunya. "Ya udah, terima kasih, Jul."


Julian langsung mengangguk lalu matanya tak sengaja saling tatap dengan mata Safira. Seketika mereka saling senyum dan menunduk malu.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2