PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Musyawarh Untuk Mufakat


__ADS_3

"Eh kalau Mas Jul sudah sembuh, berarti kita bisa melakukan malam pertama dong?"


Celetukan Safira seketika mengancurkan suasana. Suara riang yang tadi sempat meramaikan kamar, berubah menjadi hening dengan perasaan yang canggung dan juga pemikiran yang kemana mana. Kening Safira mengkerut ketika Kamila dan Namira malah menatapnya. Sedangkan Julian malah mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dengan perasaan yang tak menentu.


"Kenapa malah jadi pada diem? Emangnya kalian pada nggak mau melakukan malam pertama?" tanya Safira dengan menatap heran kepada dua istrinya Julian, lalu dia bergelayut dan menatap wajah Julian yang sedang salah tingkah. "Mas Jul mau nggak malam pertamaan? Istilahnya belah duren atau berhubungan badan gitu?"


Sontak saja Julian semakin salah tingkah. Dia bahkan bingung dan gelagapan dicerca pertanyaan seperti itu oleh istrinya. Sebagai pria normal, tentu saja tidak hal seperti itu perlu ditanyakan. Sudah pasti jawabannya Julian pasti mau. Apa lagi dia merasa sifat paniknya telah hilang, jadi tidak ada alasan untuk menolak. "Aku terserah kalian saja," jawab Julian.


Mata Safira memicing, lalu tangannya menoyor kepala suaminya hingga Julian terkesiap. "Bilang aja kepengin gitu, pake pura pura segala nunggu keputusan kita."


Julian hanya bisa cengengesan sambil mengusap kepalanya, mendengar cibiran Safira yang memang benar adanya.


"Heh! Nggak sopan! Kepala suami ditoyor! Huu," hardik Namira.


"Ah iya, hahaha ... maaf reflek. Maaf ya Mas Jul," ucap Safira sambil cengengesan lalu dia mengecup pipi suaminya sebagai ungkapan permintaan maafnya.


"Astaga! Anak berhijab yang satu ini perasaan nyosor mulu," dumel Kamila.


"Kan nyosornya sama suami, udah halal, udah sah, jadi bebas dong," Safira membela diri dengan centilnya sembari terus bergelayut di lengan kekar suaminya. Julian yang diperlakukan seperti itu, tentu saja hatinya saat ini sangat bahagia. Apa lagi ada tiga wanita yang menempel di tubuhnya, kurang nikmat apa coba?

__ADS_1


"Tapi kan malam pertama nggak perlu direncanain, Fir. Biarkan itu semua mengalir apa adanya," ucap Namira.


"Loh, kalau nunggu hal seperti itu ya bakalan lama, lagian kita kan nikah tanpa cinta. Nunggu suami kita ngajak ya nggak mungkin, orang dia pemalu. Tapi paling nggak kita kan tahu agama, ada hak suami pada tubuh kita. Nah, kalau emang suami kita sudah ingin meninta hak pada kita, ya kita wajib memberikannya."


"Tapi kan Mas Julian belum cinta sama kita, Fir. Dia kan udah bilang, mau belajar mencintai kita dulu," kini Kamila yang berkata.


"Aku tahu, tapi Kamila sayang, berhubungan badan dengan suami juga bisa menimbulkan rasa cinta. Lagian cinta kan datangnya dari hati, bukan dari pelajaran. Siapa tahu aja setelah berhubungan badan, Mas Julian jatuh cinta sama kita," balas Safira.


Kamila dan Namira saling tatap. Biar bagaimanapun juga ucapan Safira memang ada benarnya. Sedangkan Julian sendiri sebagai suami, hanya bisa menikmati perdebatan tiga istrinya dengan senyum senyum yang dia tahan.


"Kok kamu kayak tahu banyak sih, Fir?"


"Ya tahulah, aku kan ngaji, anak sholehah."


"Ya udah, kita serahkan saja keputusan malam pertama pada suami kita," usul Namira. "Gimana Mas Jul, kamu mau nggak malam pertama tanpa cinta?"


"Iya, Mas Jul. Jangan bilang terserah. Ini kan demi keutuhan rumah tangga kita," Safira ikut mengompori.


"Emm ... gimana yahh ..." Jawab Julian sembari berpikir. "Emang kalian siap kehilangan mahkota kalian?"

__ADS_1


"Siap nggak siap ya harus siap, Mas Jul. Kan kita udah nikah," jawab Kamila.


"Ya sudah kalau jawabannya seperti itu, kapan kita akan melakukannya?"


"Kapan ya enaknya?" ketiga istri Julian nampak berpikir. "Emang Mas Julian mau berhubungan badan dengan tiga wanita sekaligus?" tanya Safira.


"Yang benar saja? Masa satu lawan tiga?" protes Kamila.


"Ya kan istri Julian ada tiga. Masa iya bergilir satu persatu?"


"Ya ampun, Fir, jangan gila dong. Masa iya malam istimewa langsung satu lawan tiga? Bukankah malam pertama itu katanya butuh tenaga lebih besar?" Kamila menimpali.


"Bener, Fir. Pakai logika juga dong. Apa lagi malam pertama bagi cewek yang masih tinting, itu katanya sakit banget. Emang kamu mau, kamu lagi kesakitan, terus ditonton oleh kita?" Namira juga ikut mengemukakan pendapatnya.


"Oh iya, benar juga," balas Safira. "Ya udah berarti kita udah setuju, gimana keputusan Mas Jul?"


"Aku?" tanya Julian agak tergagap, karena dia terkejut ditodong pertanyaan secara tiba tiba. Sedari tadi pikirannya sudah membayangkan yang enek enak tentang malam pertama. "Ya udah, kapan kita melakukannya?"


Para istri Julian kembali berpikir, menentukan waktu yang tepat. Disaat itu juga, Julian nyeletuk. "Tapi aku nggak tahu, cara memasukkanya gimana?"

__ADS_1


Gubrak!


...@@@@@...


__ADS_2