
Semakin murka, itulah yang dirasakan seorang pria yang mengaku sebagai orang yang paling kaya di kampung ini. Setelah mendengar kenyataan dari menantunya dan dilengkapi dengan pengakuan dari anak perempuannya, amarah pria bernama Rastam semakin tidak bisa di kendalikan.
"Dasar anak sialan! Anak bodoh! Bisa bisanya kamu menipu Bapakmu, hah! Puas sudah menghancurkan kehormatan orang tuamu, Mirna? Puas!" bentak Rastam lantang. Sedangkan yang dibentak hanya menunduk ketakutan.
Wajar jika sang ayah sangat murka. Meski Rastam terkenal angkuh dan sombong, tapi pria paruh baya itu dari dulu tidak pernah mengusik kehidupan Julian dan keluarganya. Rastam akan mengusik hidup orang jika orang yang bersangkutan mengusik hidupnya maupun keluarganya.
Dari sifat Bapaknya inilah, Mirna berbohong tentang tujuannya. Gara gara obsesinya yang ingin menikah dengan Julian yang ternyata kaya raya, dia memanfaatkan ayahnya untuk meraih impiannya. Mirna berpikir jika sang ayah bertindak, maka segalanya akan lancar.
Namun apa yang terjadi? Semua benar benar diluar dugaan Mirna. Dia tidak menyangka rencananya justu akan menyeret keluarganya ke ranah hukum. Mirna tidak menyangka kalau keluarga Julian tidak main main dengan ucapannya.
"Lah, apa Bapak dari awal nggak curiga sama Mirna? Mirna itu pernah ketangkap basah masuk ke rumah Julian diam diam, Pak. Karena hal itulah Mirna ngarang cerita kalau Julian maksain Mirna, padahal bukan begitu kejadiannya."
Rastam terdiam dengan deru nafas yang sangat menderu dan mata menatap tajam ke arah anak gadisnya. Rastam ingat betul kejadian dia memaki Julian dan ibunya di malam hari. Itu semua dia lakukan setelah mendapat aduan dari Mirna. Dengan sandiwara yang cukup bagus, Mirna benar benar bisa menyulut emosi sang ayah. Dari kejadian itulah, Rastam mulai mengusik kehidupan Julian.
"Mbak, Mbak Widia kenapa sih? Kok malah nyalahin aku saja? Bukankah dari awal, Mbak yang mendukung aku untuk mendekati Julian," Mirna malah melampiaskan amarahnya ke kakak ipar. Dia terlihat tidak terima karena Widia membongkar apa yang telah dia lakukan sebenarnya.
"Loh, aku kan cuma mendukung kamu mendekati Julian, bukan mendukung kamu ngadu domba Bapak sama keluarga Julian. Kamu itu harusnya mikir, jangan melibatkan orang tua. Kamu nyuruh Bapak agar ngasih peringatan ke Julian untuk tidak mendekati kamu, eh sekarang, kamu minta Bapak membujuk julian mau menikahi kamu. Kamu mikir nggak harga diri Bapak bagaimana? Hancur, Mir. Gara gara ulah kamu. Bahkan Mas Samsul yang berniat membantu kamu, kemarin malah dibuat malu. Kamu mikir nggak, hah! Harusnya kamu berjuang sendiri, nggak perlu adu domba kayak gitu. Awalnya menghina, sekarang malah ngemis sama Julian. Enggak dapat orangnya, tapi malah dapat malu."
__ADS_1
Mirna langsung terbungkam. Meski emosi, dia tidak berani lagi membantah ucapan sang kakak ipar. Mirna kembali menunduk dalam rasa panik dan bingung. Pada akhirnya dia harus menuai apa yang dia tanam. Selama ini Mirna selalu meremehkan pria karena merasa cantik dan kaya, dan mungkin yang terjadi pada Mirna dan keluarganya saat ini adalah berkat doa dari orang orang yang pernah tersakiti.
Di hari yang sama, di rumah lama Julian, terlihat Alonso sedang menemani si kembar bermain. Mereka sedang memainkan permainan baru yang dibelikan Alonso beberapa waktu lalu. Ibu si kembar sedang sibuk mencuci baju, sedangkan ayahnya sudah berangkat ke pasar. Sukma sendiri masih di rumah karena dia sudah dilarang jualan di pasar oleh suaminya.
"Cinta, kamu nggak pengin hamil lagi? Kasian loh Julian, nggak punya saudara kandung?" tanya Alonso kepada istrinya yang sedang fokus nonton televisi, tak jauh dari keberadaannya sekarang.
"Udah tua, mana bisa hamil. Lagian Julian udah nikah, dia nggak bakal kesepian."
Alonso langsung nyengir. "Seneng ya, Julian. Punya istri tiga. Ayahnya saja kalah."
"Emang kenapa kalau kalah? Mau nambah istri juga?"
Sukma langsung melirik tajam sang suami. "Silakan kalau mau nikah lagi, bakalan aku racun kamu!"
"Astaga, jahatnya! Emang cinta udah siap kehilangan suami?"
"Loh, dua puluh tahun hidup tanpa Mas aja aku mampu. Yang ada kan, Mas Alonso yang nggak bisa hidup tanpa kita."
__ADS_1
"Ya ampun!" Alonso langsung menghampiri sang suami dan memeluknya dari belakang. "Becanda, Cinta. Mas nggak mungkin berani duain cinta."
"Halah, nggak berani duain aku, tapi selama aku pergi, pasti di negara sana, Mas icip icip wanita lain, hih!"
"Hahahah ... ya salah sendiri kamu kabur. Terpaksa dong Mas harus jajan, Mas kan pria normal. Tapi kan Mas jajan doang, nggak pake hati. Soalnya hati Mas hanya untuk Cinta."
"Hih!"
Di saat Alonso dan Sukma sedang asyik menimati waktu, tiba tiba mereka mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Mau tidak mau Sukma pun beranjak untuk membuka pintu.
"Iya, ada apa ya?" sapa Sukma begitu berhadapan dengan sang tamu.
"Maaf mengganggu, saya mau bertemu dengan ibunya Julian."
"Maaf, ibu siapa ya?"
"Saya Munaroh, dan ini Vita, anak saya, Bu."
__ADS_1
...@@@@@...