
"Aku tuh suka sama kamu, Jul. Suka banget. Udah lama aku suka sama kamu."
"Kamu gila? Sejak kapan kamu menyukai pria miskin? Sorry, aku sudah punya istri. Nggak ada waktu buat cewek lain."
"Tapi kamu nggak cinta sama istri kamu kan?"
Julian tertegun. Matanya langsung menatap tajam wanita itu. Namun, di saat Julian hendak membalas ucapan Mirna, sebuah suara menggema sampai membuat Julian terbungkam.
"Nggak tahu malu banget sih, suka kok sama suami orang!"
Julian dan Mirna sontak mengedarkan pandanngannya ke arah suara lantang tadi. Dilhatnya tiga orang wanita sedang menatap tajam ke arah Julian beserta wanita yang baru saja menyatakan perasaannya. Tiga wanita yang ternyata adalah istri Julian itu melangkah ke arah Julian dengan tatapan yang menusuk hingga Julian sendiri dibuat salah tingkah.
"Mas Jul, suka sama dia?" Julian menggeleng. "Cinta sama dia?" Julian menggeleng lagi. "Lihat! Jawabannya!" suara Namira terdengar sangat lantang hingga beberapa orang yang ada di sana memandang ke arah mereka.
"Tapi dulu Julian suka sama aku," Mirna membela diri. Meski agak tergagap, sepertinya dia berusaha keras agar terlihat berani.
"Benar, Mas Jul pernah suka sama dia?" tanya Namira dengan tatapan yang sangat mengerikan. Belum lagi tatapan Kamila, terlihat sangat garang. Yang lembut hanya tatapan Safira saja.
"Nggak pernah," sangkal Julian. "Kalian kan tahu sendiri jawabannya. Apa lagi Mirna kan sukanya sama cowok bermobil."
"Owalah cewek matre toh!" seru Kamila sinis menatap Mirna.
"Eh aku tuh bukan cewek matre!" elak Mirna. "Wajar dong ya aku nyari pasangan yang sepadan dengan keluargaku."
"Ya udah sana nyari diluar. Ngapain godain suami orang?" sungut Namira.
__ADS_1
"Loh siapa yang menggoda?" bantah Mirna. "Aku tuh cuma mau membuka mata hati Julian supaya tidak terjebak terus sama permainan wanita licik kayak kalian."
"Makud kamu apa? Ngatain kita wanita licik?" Kamila naik pitam.
"Hohoho ... masa kalian lupa bagaimana awal kalian menikah. Apa ada cinta? Nggak kan?" balas Mirna dengan angkuhnya. "Aku sih yakin, kalian menjebak Julian karena kalian tahu dia sebenarnya kaya raya bukan?"
Kamila dan Namira saling pandang, lalu suara tawanya langsung meledak. "Gini nih kalau kebanyakan makanan otak sapi. Otak aslinya jadi nggak berungsi," cibir Kamila. "Kalau nggak tahu jalan ceritanya itu jangan sok tahu."
"Udahlah jangan diladenin," pinta Julian. "Mending kita masuk, kita bahas soal rumah," ucapnya sembari berlalu meninggalkan istri istrinya masuk, masuk ke dalam rumah.
"Tuh lihat!" Ucap Kamila dengan bangga. "Kita bertiga itu udah cukup bagi Julian, jadi jangan harap deh, kamu pengin jadi istri kempat. Dia aja nggak peduli sama kamu,"
Kamu bawa apa tuh?" Safira yang sedari tadi diam langsung bertanya sembari menatap sterofom di tangan Mirna.
"Makasih ya udangnya," ucap Safira tanpa merasa berdosa. Dia segera saja berlalu pergi menyusul sang suami.
"Eh enak aja, balikin!" teriak Mirna tidak terima. Dia hendak beranjak menyusul Safira tapi kalah cepat gerakannya dengan gerakan Namira yang langsung mencekal tangannya. "Lepasin!"
"Eh, kamu nggak malu? Tuh dilihatin banyak orang! hardik Namira. "Kamu mau terkenal sebagai pelakor?"
Tubuh Mirna langsung berhenti berontak. Dia memandang kesekitar, dan benar saja, banyak mata memandang ke arah dirinya berada. Dengan tatapan sinis, Mirna memilih beranjak meninggalkan tempat itu tanpa kata kata. Namira dan Kamila langsung tos tangan dan segera menyusul Safira dan Julian.
"Sepertinya setelah banyak yang tahu kalau suami kita kaya raya, akan banyak cewek yang pengin jadi istri kamu, Mas?" tanya Safira sembari melahap udang hasil rampasan. Kini mereka berada di rumah kursi tamu yang ada di rumah baru mereka.
"Benar, kemarin Vita, sekarang siapa tadi namanya? Mirna ya? Besok siapa lagi," Namira ikut menimpali. "Kamu mau nambah lmistri lagi, Mas?"
__ADS_1
Julian yang sedari tadi melihat ketiga istrinya melahap udang hasil rampasan, langsung saja menggeleng cepat. "Nggak akan! Pasti mereka hanya cinta hartaku saja."
"Hahaha ... berarti kita beruntung dong!" seru kamila. "Kita dinikahi sebelum tahu kalau Julian banyak duit."
"Hahaha ... berarti kita dapat bonus ya?"
"Betul!"
Ketiga wanita itu malah saling terbahak. Sedangkan Julian hanya geleng geleng kepala beberapa kali sembari tersenyum melihat tingkah ketiga istrinya.
"Mas Jul, tadi nyuruh kita ngumpul disini mau ngapain?" tanya Kamila.
"Oh iya, gara gara ada calon pelakor, sampai kita lupa kedatangan kita kemari mau ngapain," ucap Namira menimpali.
"Aku mau nyuruh kalian mencatat, kira kira barang apa lagi yang kita butuhkan untuk rumah kita ini," jawab Julian.
"Oh gitu, oke! Nanti habis ini kita catet," balas Namira.
"Sama itu loh, Dek. Yang buat dagang."
"Apa! Dek!" seru ketiga istrinya. "Wuih! Ada kemajuan nih!"
Julian langsung menutup wajahnya sambil senyum senyum.
...@@@@@@...
__ADS_1