PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Senyum Dalam Kecewa


__ADS_3

"Kalau kamu mau, aku akan kenalin sama anaknya Pak Lurah di desaku,dia kerja di bank nasional."


Mata Julian membelalak. "Maksudnya apa kalian bertindak kayak gitu? Kalian mau mempermainkan pernikahan?"


"Bukan kami yang mempermainkan pernikahan, tapi melihat sikap kamu kepada kami membuat kami tidak yakin kalau pernikahan kami ini akan bertahan lama. Setidaknya kami bisa menebus kesalahan kami, walau pada dasarnya kami tidak pernah salah. Tapi dimata kamu, nama kami sudah buruk sejak awal kita kenal, jadi buat apa kami harus bersikap baik kalau pada kenyataannya kami tetap buruk di mata kamu," terang Kamila dengan tenang, walaupun hatinya getir mengatakan itu semua.


Bukan hanya Kamila, dua istri Julian juga merasakan kegetiran yang sama dengan Kamila. Mereka memang sudah pasrah dengan keadaan yang menimpa mereka. Ketiga wanita itu juga sakit hati dengan sikap Julian. Tidak ada alasan bahagia untuk pernikahan yang tidak di inginkan.


Ketiganya memang berniat membalas dendam pada Julian, tapi bukan dengan cara seperti ini. Tak terlintas sedikitpun membayangkan pernikahan dengan seorang yang mereka sukai dalam keadaan begini. Namun nama mereka sudah terlalu buruk, baik dimata Julian maupun di mata orang orang yang tidak tahu kejadian yang sebenarnya.


Julian sendiri tidak menyangka kalau ketiga wanita itu sudah kompak dengan apa yang mereka katakan. Entah sejak kapan mereka merencanakan semuanya, sungguh itu diluar dugaan Julian saat ini. Dia tidak menyangka efek dari hinaan yang dia lontarkan bisa sedalam itu melukai perasaan tiga wanita di hadapannya.


Julian tidak sadar, sikap bencinya kepada wanita itu jelas semakin menccolok sejak kejadian penjebakan di rumah Reynan. Karena emosinya, Julian tidak menyadari kebenaran yang sebenarnya bisa dia rasakan jika tidak ada rasa benci di Julian kepada tiga wanita itu.


"Terserah kalian mikir apa, yang pasti aku nggak akan mempermainkan pernikahan ini," tegas Julian dan dia langsung kembali ke posisi semula memunggungi ketiganya. Sedangkan ketiga istri Julian saling pandang dan mereka memutuskan untuk istirahat daripada melanjutkan perbedatan yang entah dimana ujungnya berada.


Hingga waktu terus berlalu, kini subuh kembali hadir. Meski ketiga istri Julian terlihat sudah pasrah dengan pernikahan mereka, tapi ketiganya tetap menjalankan kewajiban sebagai istri sesuai pesan orang tua mereka masing masing.

__ADS_1


"Harusnya kalian istirahat saja, kalian apa nggak capek?" ucap Bu Sukma kepada tiga menantunya yang saat ini sedang berada di dapur.


"Nggak apa apa, Bu. Semalam kita sudah cukup istirahatnnya kok, Bu," jawab Safira sembari memotong beberapa bumbu.


Bu Sukma lantas tersenyum. "Apa kalian memang sudah terbiasa berada di dapur?"


"Kalau aku sih iya, Bu," jawab Safira. "Tahu tuh mereka berdua."


"Eh jangan salah, aku juga iya," sahut Namira. "Walaupuan jam tiga pagi aku sudah di pasar, aku tahu cara bikin bumbu sop dan bumbu tumis."


"Hhaha ... sialan kamu," seru Namira.


Bu Sukma tersenyum lebar melihat keakraban para menantunya. Begitu juga seseorang yang diam diam mendengar keributan yang terjadi di dapur. Dia tak kuasa menahan senyumnya walau bersembunyi.


"Atas nama Julian, ibu minta maaf jika Julian pernah menyakiti perasaan kalian," ucap Bu Sukma yang berangsur meredupkan suara tawa yang sedari tadi menggema. "Ibu tahu, kalian pasti tidak bahagia dengan pernikahan ini. Apa lagi sikap Julian sangat keterlaluan. Kalian wanita wanita yang baik. Harusnya mendapat suami yang baik juga."


Ketiga wanita menantu Bu Sukma serentak tersenyum kecut, sedangkan seseorang yang bersembunyi langsung tersentil hatinya mendengar ucapan sang ibu.

__ADS_1


"Ibu tidak salah, ngapain ibu yang minta maaf?" protes Safira. "Keadaanlah yang salah hingga kami terjebak dalam keadaan seperti ini. Tapi aku pribadi, aku ikhlas menerima takdir yang saat ini sedang menimpaku."


"Iya, Bu. Ibu tidak salah," Namira menimpali. "Sesuatu yang dipaksakan memang tidak akan menyenangkan, Bu. Apa lagi pernikahan. Tapi biarlah nanti waktu yang menentukan, akan dibawa kemana rumah tangga kami, Bu. Kami pasrah menjalani."


"Benar, Bu, apa kata mereka," kini Kamila yang bersuara. "Setidaknya kami berterima kasih sama anak Ibu. Nama kami bisa sedikit terselamatkan dengan pernikahan ini. Ibu pasti tahu kan? Kalau kami di hujat?"


Bu Sukma mengangguk. "Kalian wanita wanita yang hebat. Terima kasih, sudah menyukai anak ibu."


"Hahaha ..." Namira malah tergelak. "Tahu nggak, Bu. Banyak wanita patah hati loh gara gara Julian menikah."


"Hhaha ... benar," sahut. "Karena itu juga, kita tambah dihujat."


"Hhahah ... "


Suara tawa kembali menggema. Senyum seseorang tersembunyi pun ikut terkembang.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2