PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Hadiah Tak Terduga


__ADS_3

Ketiga istri Julian juga merasa heran melihat suaminya yang bersikap semakin aneh karena pergi begitu saja. Karena penasaran, Safira mengambil kertas yang baru saja dibaca isinya oleh Julian. Betapa kagetnya ketiga wanita saat membaca isi kertas tersebut.


"Astaga! Beneran kunci rumah!" seru Kamila. "Perumahan Diamond house? Sebelah mana sih tempatnya?"


"Itu, depan lapangan, kalau dari jalan rumah Julian berarti ke utara," balas Namira.


"Owalah. Perumahan itu? Tapi kok kayak beli dua rumah ya?" tanya Kamila.


"Sepertinya begitu. Beli dua rumah untuk hadiah, daebak," jawab Namira berdasarkan tulisan yang sedang mereka baca.


"Astaga! Siapa yang ngasih ya? Apa Julian punya saudara yang kaya raya?" Safira pun tak kalah penasaran.


"Aku jadi paham sekarang, kenapa Julian nggak mau menerima cewek kaya kita," ucap Kamila menyimpulkan.


"Kenapa emangnya?" tanya Safira.


"Dia punya keluarga yang kaya raya jadi dia seleranya juga selevel sama dia," jawab Kamila.


"Ah iya benar, pantas saja. Masuk akal sih," ucap Safira.


"Jadi gimana? Kita lanjutin misi kita buat nyariin Julian jodoh yang selevel sama dia?" Namira bertanya.


"Lanjutlah. Setidaknya saat kita di cerai nanti, kita bisa melakukan hal yang baik dan membahagiakan untuk hidup Julian."


"Setuju!"

__ADS_1


Dan di saat yang sama, Julian justru sedang bertanya mengenai hadiah yang baru saja dia dapat pada sang ibu. Kebetulan saat ini Bu sukma sedang bersama Paman Seno dan Bibi Atikah serta dua bocah kembar.


"Kalau bukan ibu yang ngasih, terus siapa? Nggak mungkin Bapak kan?" ucap Julian setelah Bu Sukma menyangkal karena memang bukan dia yang memberi hadiah rumah beserta kartu itu. "Masa bisa sampai tahu tanggal lahirku?"


Bu Sukma dan Paman Seno saling pandang. Sepertinya mereka tahu siapa yang memberi hadiah rumah itu pada Julian. Tapi mereka juga tidak yakin kalau itu adalah pemberian dari orang di masa lalu.


Karena tidak mendapat jawaban dari Ibunya, Julian melangkah lemah menuju kamarnya kembali. Sedangkan Bu Sukma langsug bersuara saat Julian sudah tidak terlihat.


"Apa mungkin itu perbuatan Alonso, Sen?" tanya Bu Sukma dengan suara lirih.


"Kayaknya bukanlah, Mbak. Udah hampir dua puluh tahun loh," balas Seno. "Mungkin dia sudah lupa sama anaknya."


"Jahat benar Alonso. Mentang mentang orang kaya. Seenaknya sama orang miskin," dumel Bi Atikah.


"Yang jahat itu keluarganya, Bu. Alonso sebenarnya pria yang baik," bantah Seno.


"Udah udah, kenapa kalian jadi yang ribut? Mungkin itu udah rejeki Julian," Bu Sukma menengahi pasangan suami istri itu, meski hatinya cukup panik mendengar Julian mendapat hadiah rumah.


Julian kembali masuk kamar dan terduduk di tempat yang sama sebelum dia pergi menemui sang ibu tadi. Ketiga istrinya pun menatap Julian dengan tatapan penuh tanya.


"Gimana, Mas Jul? Udah tahu hadiah itu dari siapa?" tanya Safira.


Julian mengangkat kedua bahunya. "Ibu tidak tahu," jawab Julian lemah.


Ketiga istrinya pun lantas saling pandang dengan pandangan heran. "Coba Mas Jul cari tahu ke pihak pemasaran perumahan itu. Pasti mereka punya data siapa yang membeli rumah disana," usul Namira.

__ADS_1


Julian seketika mendongak dan menatap Namira. "Benar juga," ucap Julian dengan wajah berbinar. Baru kali ini dia menunjukkan sikap yang berbeda pada istrinya.


Ketiga istri Julian malah tersenyum canggung saat Julian tersenyum kepadanya. Wajar jika ketiganya merasa canggung, Karena sejak kejadian malam penjebakan, Julian selalu menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. Dari pertemuan keluarga sampai acara pernikahan, Julian selalu menunjukan rasa bencinya kepada tiga wanita itu.


"Jul, ada tamu!" teriak Bi Atikah dari luar kamar Julian.


"Siapa, Bi?" balas Julian tak kalah keras.


"Nggak tahu. Laki laki!"


"Ya, Bi. Bentar lagi aku keluar."


Julian kembali beranjak keluar kamar menemui tamu yang memilih menungu di lapak jualannya.


"Siapa, Yak?" tanya Julian begitu melihat tamunya yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Mas Julian?" tanya orang itu, dan Julian mengangguk. "Kenalin, aku bagas."


Julian pun menangkap uluran tangan tamunya. "Oh iya, ada apa ya, mas Bagas?"


"Enggak, cuma mau memastikan aja. Apa benar kamu kenal seseorang yang bernama Reynan?" tanya pria bernama Bagas.


Kening Julian sontak berkerut. "Reynan? Baru kenal beberapa hari, waktu dia pesan dagangan saya. Kenapa memang?"


Pria bernama Bagas pun tersenyum sinis. "Modusnya sama. Pasti setelah kamu datang ke rumahnya kamu diberi minuman lalu kamu pusing dan tertidur."

__ADS_1


"Kok kamu tahu?"


...@@@@@@...


__ADS_2