
"Bu, apa ayah tidak ingin bertemu kita lagi?" Julian menatap lekat wajah sang ibu yang juga sedang menatapnya. Namun tak lama setelah itu, Julian menunduk dengan segala kegetiran yang dia rasakan.
Sejak usia lima tahun, Julian sudah kehilangan sosok ayahnya. Sejak itu pula dia hanya bisa memendam rasa rindu pada pria yang pernah menjadi idolanya disaat Julian masih merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap. Pernah Julian bertanya pada sang ibu, tapi hanya amarah dan airmata yang ditunjukan Ibunya. Karena hal itulah Julian tidak pernah bertanya lagi tentang ayahnya.
Meski ada sosok Paman yang kasih sayangnya hampir sama dengan sang ayah, tapi Julian tetap merasa ada yang kurang. Dari pengalaman itulah, Julian juga punya tekad, jika menjadi ayah nanti, dia akan berusaha menjadi ayah yang selalu ada untuk anaknya.
"Sudahlah, Nak. Kamu jangan terlalu memikirkan ayahmu. Mungkin sekarang dia sudah tahu kabar tentang kita."
"Tahu darimana, Bu? Ketemu aja belum pernah."
"Itu kartu hitam yang kamu terima, darimana lagi kalau bukan dari ayah kamu."
"Apa ayah orang yang sangat kaya raya, Bu? Sampai dia ngasih kartu yang nggak ada batas habisnya?"
"Tidak perlu ditanyakan, kamu pasti sudah tahu jawabannya, bukan?"
Julian lantas mengangguk. Dia hendak membalas ucapan ibunya tapi mulutnya terbungkam saat dia mendengar suara teriakan yang tiba tiba datang, mencercanya.
"Hei, Julian! Apa yang kamu lakukan pada Mirna, hah!" bentak pria itu dengan lantang begitu dia mendekat ke arah Julian dan ibunya.
"Maksudnya, Pak?" tanya Julian yang terlihat bingung dengan sikap pria yang dia kenal sebagai ayahnya Mirna bernama Rastam.
__ADS_1
"Nggak usah pura pura tidak tahu kamu!" bentak Pak rastam lantang dan menggelegar. Suara teriakan itu tentu saja mengejutkan semua orang yang ada di rumah Julian dan mereka langsung saja behamburan.
"Ada apa, Pak Rastam? Kok teriak teriak di depan rumahku?" tanya Paman Seno dengan suarra sedikit meninggi karena terganggu dengan teriakan tetangganya itu.
"Keponakanmu ini kurang ajar, Sen. Dia ngajakin Mirna nikah!"
"Apa!" Semua memekik bersamaan dengan mata membelalak. Apa, Pak? Aku ngajakin Mirna nikah? Nggak salah?" tanya Julian dengan raut wajay yang terlihat sangat terkejut.
"Nggak usah mengelak kamu! Mirna sudah cerita semuanya!"
"Mana Mirna? Suruh datang kesini!" Julian tersulut emosi karena tidak terima difitnah seperti itu.
"Buat apa! Agar kamu bisa ngancam, gitu! Ingat Jul, kamu itu miskin. Menikah aja karena kasus. Coba kalau nggak ada kasus, mana mungkin ada cewek yang mau menikah sama kamu!" teriakan Rastam semakin menggelegar.
"Hei Sukma! Ajari tuh anak haram kamu agar tahu diri dia itu siapa! Dasar anak nggak jelas asal asulnya!"
"Pak Rastam!" bentak Julian dengan emosinya yang sudah berada di ubun ubun. Semua yang ada disana terkejut menyaksikan Julian yang sudah ada diambang batas.
Melihat Julian yang hendak meluapkan emosinya, Paman Seno langsung bergerak. Dia memasang badan untuk menghalangi Julian agar pria itu tidak melakukan tindakan yang diuar batas.
"Dasar anak haram! Awas aja kalau kamu masih berani mendekati Mirna!" maki Pak Rastam, dan dia lanngsung pergi.
__ADS_1
"Woi orang tua keparrat! Berhenti kamu! Wow!"
"Jul, Jul. Udah Jul. Udah."
"Aku nggak bisa membiarkannya, Paman! Itu Fitnah! Aku bukan anak haram!"
"Iya, Paman ngerti. Nanti kita bicarakan baik baik."
"Nggak perlu bicara baik baik pada orang seperti itu! Aku harus memberi mereka pelajaran!"
"JULIAN!" bentak Paman Seno dengan sangat keras sampi Julian terkesiap dan berhenti memberontak. Apa untungnya kamu memberi pelajaran sama mereka? APA UNTUNGNYA!"
Julian terbungkam. Yang lain juga sangat terkejut mendengar teriakan Paman Seno termasuk tiga istri Julian. Mereka sangat syok dan hampir tak percaya melihat amarah Julian dan Pamannya yang sangat menakutkan.
Dengan dada yang kembas kempis, Julian menatap tajam sang paman. Lalu dia langsung beranjak masuk ke dalam rumah dengan segala amarah yang sudah ingin dia lampiaskan.
Brak!
Terdengar dari luar, suara benda keras yang mungkin menjadi pelampiasan amarah pemuda beristri tiga itu.
"Kalian masuklah!" titah sang paman kedapa tiga istri Julian. "Tenangkan suami kalian."
__ADS_1
"Baik, Paman," jawab ketiganya serentak dan mereka langsung saja beranjak masuk menyusul sang suami dengan perasaan was was.
...@@@@@...