
Hari kini berganti lagi, pagi pun menjelang menyapa para penduduk di muka bumi. Seperti biasa, Julian melewati pagi di rumah sang mertua dengan sangat baik. Meski kadang masih terdengar ledekan dari sang kakak ipar, tapi untuk pagi ini, malu yang dia rasakan tidak separah seperti malam tadi.
Namun dari kejadian itu, Julian merasa bersyukur. Rasa panik yang selalu menderanya, justru tidak terasa menggganggu sepanjang malam. Entah para istri dapat ilmu darimana, tapi apa yang mereka katakan memang benar, Julian harus melawan rasa takut itu.
Julian juga tidak menyangka, dirinya bisa seganas itu dalam berciuman. Mungkin karena banyak faktor yang mempengaruhi, Julian sampai tidak merasa kalau ciuman bibirnya menyebabkan lecet pada bibir sang istri. Antara merasa bersalah tapi juga senang, cuma itu yang dirasakan hati Julian saat ini.
Setelah selesai sarapan, Julian terlihat sedang duduk diteras rumah menunggu sang istri yang sedang merapikan barang untuk pulang. Di saat Julian sedang asyik memainkan ponselnya, dia didatangi oleh seorang wanita dengan wajah terlihat sangat tidak ramah.
"Heh! Kamu suami Kamila?" tanya wanita itu terdengar sangat ketus.
"Iya, Bu. Ada apa yah?" jawab Julian dengan ramah dan sopan meski ada rasa heran dalam hatinya.
"Otak kamu masih berfungsi dengan baik nggak sih?" maki ibu itu terdengar sangat kesal.
"Maksudnya?" Julian bertanya karena semakin tak mengerti dengan sikap ibu itu.
__ADS_1
"Kamu itu korban, yang penjahat itu Kamila. Kenapa anakku yang kamu tuntut? Hah!" bentak Ibu itu sampai suaranya menggema dan memancing beberapa tetangga yang melihatnya dan juga keluarga Kamila yang kebetulan hanya tinggal Arif, Ibu dan Kamila.
"Kamu kenapa, Roh? Kok marah marah kayak gitu?" celetuk sesorang tetangga yang mendekat hingga batas pagar tembok rumah Kamila. Keluarga Kamila juga ikut keluar, sedangkan Julian masih diam karena sempat terkejut dengan ucapan ibu ini.
"Gini ya, Mbak Parti, menurutmu aneh nggak sih? Pria ini suami Kamila. Dia korban dari kejahatan Kamila. Kok ya bisa bisanya dia ingin menuntut si Lehan. Jelas jelas anakku itu tidak bersalah, dia juga korban karena disuruh Kamila. Harusnya yang dituntut kan si Kamila, eh ini yang dituntut anak saya. Apa nggak aneh!" seru wanita itu dengan sangat lantang. Sungguh ucapan ibu itu membuat Ibu mertua semakin geram dan sangat malu. Begitu juga dengan Arif dan Kamila.
Wajah para tetangga juga nampak bingung. Mereka hanya bisa bersuara dalam hati saat ini. Entah mereka memihak keluarga Kamila atau memihak Ibunya Lehan, cuma mereka yang tahu.
"Bibi apa apaan sih! Pagi pagi udah bikin ribut?" bentak Arif terdengar sangat emosi karena untuk kesekian kalinya keluaranya dipermalukan atas apa yang menimpa pada Kamila.
"Kenapa? Kamu nggak terima? Kalian itu harusnya jangan menghasut anak ini! Kalau bukan hasutan kalian, dia tidak akan mungkin mengusut kasus yang menimpanya!" balas wanita itu lantang dengan segala dugaan berdasarkan asumsinya sendiri.
"Pria berpenampilan wanita? Mana mungkin? Anak saya tidak punya teman seperti itu?" bantah Ibu lantang.
"Keluarga saya bisa jadi saksi, karena saat itu keluarga saya yang menemui Lehan dan pria gemulai itu," cerca Julian tak kalah lantang. "Kalau Lehan juga korban, harusnya dia tidak takut jika kasus ini aku usut sampai tuntas."
__ADS_1
"Cih!" Ibu itu berdecih dan menatap remeh pada Julian. "Sewa pengacara itu mahal. Emang hasil jualan batagor kamu cukup untuk sewa pengacara? Ingat! Temannya Lehan itu orang kaya. Mereka pasti akan menyewa pengacara yang mahal dan berkelas. Apa kamu mampu?"
"Kita lihat saja nanti."
"Sombongnya. Baru jualan batagor saja gayanya selangit. Yang ada, kamu bakalan jual rumah untuk sewa pengacara," ejek Ibunya Lehan dan dia lansung pergi begitu saja dengan wajah puas penuh kemenangan.
"Harusnya dulu aku rekam perbuatan Lehan, hih!" dumel Kamila dengan wajah yang terlihat kesal.
"Jul, kamu serius mau ngusut kasus kamu?" tanya Arif. Sepertinya dia meragukan adik iparnya.
"Seriuslah, Mas. Ngapain pakai bohong," Kamila yang menjawabnya.
"Tapi kan benar apa kata Bibi, sewa pengacara itu mahal. Suami kamu nanti bangkrut gimana?"
"Mas Arif tenang saja. Adik ipar kamu ini, nggak akan pernah mengalami yang namanya bangkrut. Oke! Jadi Mas Arif jangan khawatir."
__ADS_1
Bukannya langsung percaya, Arif malah semakin mengerutkan keningnya dengan benak yang bertanya tanya.
...@@@@@...