
"Mas Jul," panggil Safira sembari melipat beberapa kerudung.
"Hum? Apa, Dek?" Sahut Julian dengan kepala yang masih menunduk karena merapikan barang dalam karung.
"Apa Mas Jul mau, nanti kita melakukan malam pertama di rumahku?"
Gerakan tangan Julian sontak saja langsung berhenti. Tiba tiba dadanya berdegup kencang tak karuan. Disatu sisi hatinya merasa senang, Julian mendapat kesempatan dapat merasakan seuatu yang paling nikmat dari sebuah hubungan yang sah. Tapi disisi lain, Julian ragu. Dia merasa belum mampu melakukannya. Takut, hasilnya akan mengecewakan.
"Apa kamu sudah sangat kepengin melakukannya, Dek?" bukannya bilang setuju, Juliann malah melempar pertanyaan yang seakan kalau dia tidak menginginkannya. Pertanyaan Julian tentu saja sedikit membuat kesal istrinya.
"Kalau Mas Jul nggak mau ya udah. Aku cuma tanya, mumpung ada kesempatan. Setidaknya aku ada niat untuk memberikan hak suami atas tubuhku," setelah mengatakan hal itu, Safira segera beranjak untuk memanggil tukang ojek.
Julian terkejut mendengar jawaban yang terlontar dari mulut sang istri. Julian merasa kalau Safira saat ini kecewa atas sikapnya. Julian memandangi kepergian sang istri dengan perasaan yang tak menentu. "Apa aku salah ngomong?" gumam Julian sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Safira kembali dengan seoang tukang ojek. Barang barang yang sudah dia kemas, diantarkan oleh tukang ojek untuk ditaruh di rumah Julian. Setelah semuanya beres, Safira pamit kepada teman teman jualan di sekitar lapak karena akan pindah tempat dagangnya.
Kini, Julian dan Safira sudah dalam perjalananan menuju rumahnya, tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara keduanya. Hingga Julian memutuskan mampir ke warung mie ayam yang dia lihat saat menuju ke rumah mertuanya. Awalnya Safira hendak protes tapi karena Julian bilang dia lapar, jadi Safira pasrah saja mengikuti keinginan suaminya.
"Dek," panggil Julian. Saat ini keduanya duduk di lesehan yang paling belakang menghadap hamparan sawah. "Kamu marah?"
__ADS_1
Kening Safira berkerut. Ditatapny wajah Julain sejenak. "Marah kenapa, Mas?" setelah bertanya, Zafira kembali melempar pandangannya ke arah sawah sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Soal malam pertama tadi."
"Ngapain aku harus marah, Mas? Kan dari jawaban Mas Jul sudah pasti kalau Mas Jul nggak mau. Ya udah, akukan hanya menawarkan."
"Aku kan nggak bilang kalau aku nggak mau, Dek. Aku kan cuma tanya."
"Aku tahu, kamu bertanya, Mas. Tapi dari pertanyaanmu aku tahu kalau kamu keberatan. Jadi kamu melempar pertanyaan seperti itu. Ya kalau kamu keberatan ya nggak apa apa. Nunggu sama sama siap aja."
Julian terbungkam, dia tidak menduga hanya karena satu pertanyaan malah jadi melebar seperti sebuah masalah yang sangat besar. "Kamu salah paham, Dek. Kamu kan tahu kalau aku ..."
"Iya, iya, nggak usah dibahas lagi ya? Aku ngerti kok."
Beruntung, begitu sampai di rumah mertua, Julian disambut oleh Umi serta Abi dan mereka duduk bersama di ruang tamu. Sedangkan Safira langsung merapikan dan membereskan semua barang dagangannya di ruang tengah.
"Mau dibantuin nggak, Dek?" Julian tiba tiba datang menghampiri istrinya.
"Udah mau selesai, Mas," jawab Safira santai tapi membuat Julian merasa tidak enak sendiri.
__ADS_1
Terlalu asyik ngobrol sama mertua sampai dia lupa kalau dia kesini untuk membantu istrinya. Di saat Julian sudah mengingatnya, Julian malah melihat Safira sudah menyelesaikan semaua pekerjaannya. Tinggal beberapa koleski kerudung lagi yang hendak di masukkan ke dalam kardus.
Waktu terus bergulir maju dan kini malam telah menyapa. Setelah makan bersama dan ngobrol sejenak dengan bapak mertua, Julian menyusul istrinya yang lebih memilih masuk ke kamar duluan setelah ngobrol bersama Uminya.
Julian duduk di tepi kasur dengan perasaan bingung. Sedangkan Zafira sendiri sudah berbaring memunggunginya sembari bermain ponsel. Hati Julian pun bertanya tanya, apa yang harus dia lakukan agar sang istri bersikap hangat kembali.
Mau tidak mau Julian memang harus berinisiatif mendekati istrinya. Biasanya para istri yang agresif mendekatinya. Kini sebaliknya, Julian yang harus berinisiatif. Dengan segenap perasaan gugup yang ada, Julian merebahkan tubuhnya dan bergeser mendekati Safira dan memeluknya sang istri dari belakang.
"Tumben berani duluan?" tanya Safira terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Ya kan aku sedang belajar. Bukankah kamu yang ngajarin aku agar melawan rasa gugupku, Dek?"
"Ya baguslah, berani Mas Jul ada kemajuan," balas Safira sambil kembali menatap layar ponselnya.
"Dek."
"Hum? Apa?"
"Buka situs film dewasa dong? Buat belajar cara memasuki lubang wanita?"
__ADS_1
"Waduh!"
...@@@@@...