PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Pertemuan


__ADS_3

Menjelang sore, terlihat seorang pria nampak menghentikan laju motornya. Wajah pria itu tersenyum kala melihat dua anak kecil yang usianya sama menghampiri pria itu dengan riang. Dua anak kecil itu minta digendong oleh pria yang mereka panggil dengan sebutan kata bapak. Pria itu awalnya menolak karena merasa badannya kotor dan bau keringat. Tapi dua bocah kembar itu tak peduli. Akhirnya mau tidak mau Pria itu mengabulkan rengekan si kembar.


"Jangan masuk dulu, Pak!" titah seorang wanita yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi antara si kembar dan suaminya. Ketika pria itu melempar kata tanya kenapa, si wanita menyuruh pria itu mendekat. "Di dalam ada suaminya Mbak Sukma."


"Apa!" pekik pria bernama Seno begitu dia mendekati istri dan anak gadisnya yang duduk bersama. "Suami Mbak Sukma?"


"Iya, ada Mas Alonso di dalam."


"Hah! Serius, Bu?" Seno menatap sang istri dengan tatapan tak percaya. Keterkejutan Seno semakin bertambah besar saat sang istri menegaskan ucupannya. "Bagaimana bisa, Bu?"


"Ibu sendiri juga kaget, Pak. Kirain bule darimana eh tak tahunya lancar banget pake bahasa negara ini. Ibu mau bohong juga percuma, bule itu langsung saja masuk rumah."


"Astaga! Terus, Mbak sendiri gimana? Apa terjadi keributan? Julian sudah tahu belum?"


"Kata Pakde, Julian jangan dikasih tahu dulu. Biar nanti Pakde sama Bude yang kesana."


Seno terdiam. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Seorang Alonso berhasill menemukan anak dan istrinya. Yang Seno bayangkan pasti akan terjadi keributan besar diantara keduanya. Tapi yang dia lihat, sepertinya keadaan baik baik saja. Lalu yang jadi pertanyaan dalam benak Seno, apa yang sedang terjadi di dalam sana?


Yang pasti, Alonso dan Sukma baru saja selesai menuntaskan hasrat yang dipenuhi dengan luapan rasa rindu. Sukma yang sedari tadi menolak ajakan Alonso, akhirnya luluh juga dengan segala bujukan dan rayuan yang pasti membuat wanita itu terperdaya. Saat ini keduanya terbaring bersama di atas ranjang.

__ADS_1


"Harusnya Mas nikahin aku ulang terlebih dahulu. Takutnya ini nanti disebut zina karena sudah dua puluh tahun kita pisah," protes Sukma.


"Loh, masa Zina? Ya udah nanti kita cari ustad buat nikahin kita. Secara agama cukup kan? Soalnya Mas kan tidak pernah menceraikan kamu."


"Emang Mas masih satu agama sama aku?" Alonso langsung menggeleng. "Kalau mau ya pindah agama dulu lah?"


"Masih dong, Cinta," balas Alonso gemas. Salah satu faktor penyebab hubungan mereka dulu ditantang, selain perbedaan kaya dan miskin, perbebdaan agama juga jadi faktor pemicu orang tua Alonso tidak pernah merestui pernikahan mereka.


"Mas Alonso ke sini naik apa?" akhirnya pertanyaan itu muncul setelah sekian waktu berselang. "Kok di depan nggak ada mobil?"


"Mobil di bawa Jhon ke hotel. Dia kan datang bersama keluarganya."


"Jhon? Jhontravolta? Dia masih bersama Mas Alonso?"


Bukannya menjawab, Sukma malah menatap pria di sebelahnya dengan kening berkerut. "Sejak kapan Mas Alonso tahu kami berada di sini?"


Alonso membalas tatapan istrinya sembari tersenyum. Lalu dia menjawab pertanyaan Sukma sekaligus menceritakan apa yang dia alami dari awal mereka pisah sampai bertemu lagi saat ini.


"Maaf," kata itu meluncur lirih dari mulut Sukma. Mendengar cerita pilu dari suaminya, Sukma merasa dia telah menjadi wanita yang paling egois. Alonso lantas membimbing kepala sang istri ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Nggak perlu minta maaf, sekarang yang penting kita bisa berkumpul lagi." Keduanya lantas terdiam karena merasa detik itu juga mereka kehabisan kata kata.


Tanpa terasa kini waktu menunjukan petang hari. Di tempat lain, tepatnya Di rumah baru, Julian terlihat sedang ngobrol bersama ketiga istrinya sembari menikmati hidangan yang tersaji di hadapan mereka.


"Mas, Mas Jul sama Mas budi dan Mas Ferdi, tadi jadi ke kantor polisi nggak?" tanya Kamila.


"Jadi dong. Kalian tahu nggak? Ternyata laporan Mas sedang diproses."


"Hah! Kok cepat banget? Mas Jul pake uang suap apa?"


"Nggak lah, Dek. Mas aja tadi kaget. Malah aparatnya pada bersikap ramah banget sama kita, beda kayak kemarin."


"Serius, Mas?" Julian mengangguk dengan yakin. "Kok bisa?"


"Nggak tahu, mungkin ini ulah ayahku juga kali. Orang kata aparat, aku hebat bisa memakai pengacara kondang di negeri ini. Padahal aku sendiri belum punya pengacara."


"Wahh! Ternyata ayah mertua gerak cepat juga ya?" Julian pun hanya mengangguk. Ada rasa sesak dalam hatinya karena sang ayah hanya datang sebagai bayangan saja.


Saat mereka sedang asyik berbincang, Julian mendengar Bel rumahanya berdering, Julian langsung bangkit karena dia memang telah selesai menghabiskan makanannya. Julian langsung mematung begitu dia melihat siapa yang berdiri di depan pintu bersama ibunya.

__ADS_1


"Ayah!"


...@@@@@@@...


__ADS_2