
"Wahh, gede banget!" seru Safira begitu melihat milik sang suami yang sudah sangat menegang. Julian sontak menutupinya dengan kedua tangan karena malu. Baru kali ini, Julian tidak memakai apa apa dihadapan wanita. Bahkan Julian langsuny bersimpuh diantara kaki Safira yang membentang.
"Masukin sekarang ya, Dek?" Safira kembali mengangguk pasrah. Namun beberapa saat kemudian Safira melihat Julian nampak seperti orang bingung.
"Kenapa, Mas?
"Ini cara masukinnya gimana?"
"Astaga!" Keduanya sontak saling tersenyum lebar. "Coba aja lihat video lagi biar jelas, Mas."
"Kamu pegangin ponsel ya? Biar aku nonton sambil megangin ini?"
Sang istri mengangguk. Safira memutar video dan layar ponsel itu di hadapakan ke arah suaminya. Posisi mereka masih sama. Sang istri saat ini sudah telentang dengan kaki yang melebar, tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Sedangkan posisi suaminya sudah bersimpuh di antara dua kaki istrinya dengan batang yang sudah sangat menegang dan siap menembus lubang yang masih sangat rapat di hadapannya.
Namun, karena kurangnya pengalaman, hubungan suami istri yang sudah sangat menggebu, harus terjeda karena sang suami merasa bingung menentukan titik sebelah mana agar batangnya yang sudah sangat menegang bisa masuk ke dalam lubang milik sang istri yang sudah pasrah untuk dinikmati.
"Kalau lihat di video, kok kayak gampang banget masukinnya yah," ucap Julian dengan tangan kanan mengusap lembut batangnya agar tetap tegang dan tangan kirinya mengusap lubang sang istri yang berbulu tipis.
"Ya kan karena mereka sudah berpengalaman, Mas. Nggak kayak kita, baru belajar."
"Oh iya yah, hehehe ..."
Awalnya mereka agak ragu bisa sampai ke tahap saling buka baju. Namun karena dorongan hasrat yang sangat kuat, Julian dan Safira membuang rasa malunya dan mulai saling membantu melepaskan baju masing masing hingga berakhir seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Aku coba masukin lagi ya, Sayang. Kayaknya aku paham dimana titiknya."
"Ya udah, Mas. Coba aja," Safira semakin melebarkan kedua kakinya. Meski ada rasa takut karena ini baru pertama kali, tapi dia berusaha menepis rasa takut itu sekuat tenaga.
"Kalau sakit tahan ya. Jangan sampai orang rumah pada dengar," Safira mengiyakan permintaan suaminya.
Setelah merasa yakin, Julian mendekatkan pinggangnya hingga batangnya hampir menempel ke bibir lubang nikmat milik istrinya. Selepas itu, Julian menggesek gesek ujung batangnya ke bibir lubang nikmat sang istri seperti yang dia lihat dalam video.
"Aku masukin ya, Dek?" pamit Julian, dan Safira mengangguk pasrah.
Setelah merasa cukup menggesek geseknya, Julian mulai mencoba memasukkan pucuk batang itu. "Susah sekali," keluhnya. Meski merasa kesusahan, Julian tetap mendorong lubang yang masih sangat sempit itu.
Meski merasakan sakit yang luar biasa, Safira benar benar menahannya dengan segenap tenaga yang dia miliki. Hingga dia merasakan gerakan Julian terhenti tapi dia juga merasakan di dalam lubangnya, ada sesuatu yang besar milik Julian sedang bersemayam.
"Ha!"
"Akhh!" suara kesakitan Safira langsung melengking sampai Julian langsung mencabut batangnya yang berlumuran darah di ujungnya. Safira sendiri langsung membekap mulutnya dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Sakit banget ya, Sayang?" Safira mengangguk lemah. "Maaf ya?" Julian merasa penuh sesal.
"Kenapa minta maaf, Mas, Jul? Kan prosesnya memang kayak gini."
"Aku nggak tega lihat kamu kesakitan, Sayang"
__ADS_1
"Nggak apa apa, Mas Jul. Kan katanya sakitnya cuma sebentar. Masukin aja lagi. Katanya kalau terus disodok lama lama sakitnya akan hilang dan berubah menjadi rasa yang sangat nikmat."
"Bentar, aku bersihin darahnya dulu," Julian merangkak ke tepi mengambil sembarang kain untuk membersihkan darah di ujung batangnya. Setelah bersih, dia kembali pada posisi yang sama. Dan bersiap diri memasuki lubang nikmat lagi.
"Siap, Yang?" Safira mengangguk. Julian kembali melakukan gerakan seperti tadi. Dengan diiringi suara rintihan kesakitan yang ditahan, benda menegang milik Julian kembali masuk sampai mentok.
Sebelum pinggangnya bergoyang, Julian mencondongkan tubuhnya ke atas tubuh Safira hingga wajah mereka berhadapan sangat dekat.
"Wajah kamu pucat, Sayang."
Safira memaksakan diri untuk tersenyum. "Mungkin karena tegang, Mas."
"Ya udah, aku goyang ya pingganggku, agar rasa sakitnya cepat hilang?" Safira hanya mengangguk. Sebelum pinggangnya bergerak, Julian mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Sambil perang bibir, Julian mulai menggerakan pinggangnya secara perlahan.
Rasa sakit kembali dirasakan oleb Safira dengan ditandai suara rintihan yang cukup lirih. Pinggang Julian tetap bergerak dengan memberi ciuman bertubi tubi hingga beberapa detik berlalu.
"Mas."
"Hum, apa, Sayang?"
"Enak banget."
Senyum Julian langsung merekah indah.
__ADS_1
...@@@@@...