PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Meredanya Emosi


__ADS_3

Bu Sukma, Paman Seno dan Bibi Atikah terdiam di lapak milik Julian. Sedangkan Asifa menjaga dua adiknya di dalam kamar. Sementara Julian terdiam di dalam kamarnya bersama ketiga istrinya.


"Awalnya gimana sih, Mbak? Kok bisa Pak Rastam datang kesini marah marah?" tanya Bibi merasa penasaran dengan pemicu kemarahan tetangganya yang terkenal kaya di kampung itu.


"Aku sendiri juga nggak tahu, Tik. Kok ya tiba tiba dia marah marah dan nuduh Julian yang nggak bener. Lagian kamu kan tahu, gosipnya Mirna itu gimana. Mana mungkin Julian suka sama cewek modelan kayak gitu."


"Iya juga yah," sahut Bibi. "Di kalangan anak muda sini, Mirna kan terkenal sombong dan cewek matre."


"Kalau menurutku sih, kayaknya Mirna tahu Julian punya dua rumah di perumahan itu," terka Paman Seno.


"Apa hubungannya?"


"Ya ada hubungannya lah. Si Samsul kakaknya Mirna kan tinggal disana. Bisa jadi mereka tetanggaan."


"Ah iya!" seru Bi Atikah. "Mungkin Mirna bilang suka sama Julian terus ditolak. Mirna ngadu deh ke Bapaknya yang nggak bener."


"Nah! Itu baru masuk akal."


Bu Sukma di sana hanya menjadi pendengar yang baik. Hatinya merasa sakit saat mendengar kata anak haram kembali terlontar untuk anaknya. Kehadiran Julian memang ada karena kesalahan ayahnya, tapi setidaknya Julian memiliki ayah yang bertanggung jawab. Sungguh hati Bu Sukma merasa teriris melihat anaknya dihina di depan matanya.


Sementara di dalam kamar, Julian masih duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. Dadanya masih kembang kembis dengan sisa amarah yang berangsur surut. Ketiga istrinya memandang lekat punggung suaminya. Sejak beberapa detik yang lalu, ketiganya belum ada yang berani membuka suara karena takut Julian melampiaskan amarahnya ke mereka.

__ADS_1


"Kalian tadi dengar bukan? Aku ini anak haram," ucap Julian pelan. "Salah satu alasan aku tidak mau menjalin hubungan sama cewek karena aku anak haram, anak yang nggak ada bapaknya."


Ketiga istrinya Julian saling pandang. Namun dari ketiga wanita itu, Safira malah berinsiatif mendekati Julian dan duduk disebelah kirinya. "Tidak ada yang namanya anak haram, Mas Jul. Yang haram itu perbuatannya. Orang belum nikah sudah berhubungan badan sampai hamil."


Julian menatap istrinya. "Tapi apa semua orang mikirnya kesana? Nggak kan, Dek? Semua orang lebih mudah mikirnya ke hal yang terlihat buruk."


"Ya nggak usah dipedulikan," Safira membalas dengan entengnya. "Lagian kalau Mas Jul meladeni kemarahan orang itu, apa untungnya coba? Nggak ada kan? Malah mungkin kalau sampe adu jotos, Mas Jul bisa berakhir dipenjara."


"Benar, Mas Jul," Kamila menimpali sembari berpindah tempat duduk, di sisi kanan Julian. "Yang harus kita tindak itu si Mirna. Bisa bisanya maling teriak maling gitu. Pasti dia udah ngadu yang nggak benar sama orang yang marah tadi."


Namira yang nggak kebagian duduk disebelah suaminya nampak bingung mau mendekatinya. Namun rasa bingungnya tak berlansung lama, dia segera mendekati suaminya dan memeluk Julian dari belakang.


"Kok kamu curang? Main peluk peluk aja," protes Safira.


"Hehehe ... kan aku nggak kebagian tempat, Safira sayang. Ya mending aku duduk di belakang suamiku," balas Namira penuh kemenangan. Bahkan dia taruh kepalanya menempel pada punggung Julian sambil cengengesan.


Seperti tak mau kalah, Safira memiilih bergelayut manja di lengan kekar suaminya. "Aku juga bisa bersandar, Nih!"


Kamila juga tak mau kalah. Dia langsung bergelatutan di sisi tubuh Julian yang lain. Julian hanya bisa tersenyum lebar sembari diam dan pasrah saat tubuhnya ditempel oleh ketiga istrinya.


"Eh, Mas Julian udah sembuh apa yah? Kok gak gemeteran lagi?" Kamila baru sadar saat dia merasakan Julian bersikap tenang, tidak seperti biasanya. Julian dan yang lainnya juga terkejut begitu mendengar ucapan Kamila.

__ADS_1


"Ah iya, Mas Julian udah sembuh! Gimana perasaan Mas Jul? Tenang atau masih ada rasa panik?" tanya Safira.


"Lebih tenang sekarang," jawab Julian pelan sembari memperhatikan dirinya sendiri.


"Yeeah!" sorak Safira. "Berarti Mas Jul sembuh."


"Wahh! Berarti kita harus mengadakan syukuran tuh, Mas Jul," usul Namira.


"Benar!" Kamila menimpali. "Gimana kalau kita ngadain acara berbagi sembako?"


"Setuju! Gimana Mas Jul? Mas jul setuju kan?"


"Aku sih setuju aja. Aku serahkan ke kalian aja yah? Kalian yang mengaturnya."


"Oke!"


"Eh kalau Mas Jul sudah sembuh, berarti kita bisa melakukan malam pertama dong?"


Deg!


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2