PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Bantuan Datang


__ADS_3

Namanya Budi dan Ferdi. Dua orang yang dipercaya untuk mengawasi kehidupan itu, nampak senang saat mendapatkan informasi lebih dari anak bosnya itu. Setelah berbasa basi dengan Julian dengan mengajak ngobrol yang tidak penting, dua pria yang usianya diatas tiga puluh tahun itu, mendapat informasi penting yang bisa mereka laporkan kepada bos yang menyuruh mereka.


Budi dan Ferdi sendiri sengaja mengontrak sebuah rumah di dekat rumah Julian agar mereka bisa memantau anak bos mereka dengan mudah. Seperti saat ini, mereka langsung kembali ke kontrakan setelah mendapat info yang cukup akurat tentang apa yang akan terjadi pada Julian.


Kedua pria itu juga berhasil membujuk Julian agar mau menerima bantuannya dalam menghadapi Reynan. Dengan mengatakan kalau mereka sedang butuh pekerjaan, Julian akhirnya menyetujui tawaran orang suruhan ayahnya itu. Apa lagi Julian memang butuh bantuan orang lain. Julian yang kurang berpengalaman dibidang hukum tentu saja sangat terbantu dengan tawaran Budi dan Ferdi.


"Sepertinya, kita akan cukup sulit mengumpulkan bukti untuk menolong anak bos kita, Bu. Tadi kamu dengar kan, Julian mau laporan tapi dia tidak punya bukti yang akurat," ucap Ferdi di rumah kontrakannya.


"Tapi kan tadi Julian cerita, kalau yang namanya Reynan selalu mengabadikan perbuatan kotornya pada ponsel. Mau tidak mau, kita harus cari cara agar kita bisa menyalinnya sebagai bukti."


"Aku sih ada ide, tapi mending kita sebaiknya laporan dulu pada bos kita, apa yang terjadi pada Julian disini."


"Oke!"


Salah satu dari pria itu langsung mengirim pesan lewat email kepada bos mereka yang berada di sisi bumi yang lain. Sedangkan anak bos mereka, kini sedang duduk kembali bersma tiga istrinya. Namun kali ini Julian memilih duduk di rumah barunya bersama para istri. Kebetulan Bibi Atikah sudah kembali dari pasar jadi si kembar aman.


"Syukur lah, Mas. Ada yang mau bantuin. Jadi Mas Jul nggak pusing sendiri," ucap Namira.


"Gila yah? Ternyata pria menyimpang lebih mengerikan daripada pria normal. Sampai segitunya buat nutupin aib sendiri," Safira juga ikut berkomentar.

__ADS_1


"Nanti jadi kan pulang ke rumahku, Mas jul? Serius, aku ingin maki Lehan sampai puas," geram Kamila.


"Nggak usah, biarkan saja mereka merasa menang dulu. Semoga Mas Budi dan Mas Ferdi beneran bisa membantuku menemukan bukti yang akurat."


"Aamiin."


Julian sendiri juga sebenarnya merasa enggan harus berurusan dengan hukum. Namun jika dia tidak bertindak, nama baik istrinya akan tetap buruk. Apa lagi ada yang persaudaraaanya pecah gara gara kasus ini. Maka itu Julian tidak punya pilihan lain lagi selain mengambil jalur hukum. Beruntung ada orang yang mau membantunya dan Julian berharap, dua orang yang membantunya itu dapat dipercaya.


Hingga beberapa jam kemudian, kini saatnya Julian berangkat ke rumah Kamila, untuk menginap disana. Dia dan Kamila akan membereskan semua yang menjadi usaha Kamila di rumahnya untuk dibawa ke tempatnya yang baru.


Tak butuh waktu lama, Julian sudah sampai di tempar tujuan. Setelah berbasa basi sejenak dengan mertua, Julian memilih berpindah tempat dimana istrinya kini berada.


Kamila agak terkejut. Sejenak dia menatap suaminya lalu kembali merebahkan kepalanya di ats etalase. "Aku lagi bingung, Mas."


"Bingung kenapa?" Julian ikut ikutan duduk di kursi yang ada disana.


Kata ibu, daripada nerusin usaha konter yang nggak selalu rame. Kenapa nggak coba jualan kayak suaminya gitu. Aku kan jadi bingung."


Julian tersenyum tipis. "Aku kan sudah pernah bilang, kalian buka usaha siomay dan batagor saja. Eh nggak nurut."

__ADS_1


"Bukannya nggak nurut, Mas. Kan sayang aja kalau usaha ditinggal."


"Lah, daripada jualan selalu sepi, apa salahnya kan mencoba usaha yang lain."


"Ya udah deh, nanti aku pikirkan."


Julian hanya tersenyum. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Biarlah istrinya nanti yang menentukan sendiri mau bagaimana.


Hingga malam menjelang, suasana hangat sangat terasa di ruang tengah rumah Kamila. Sambil menikmati makan malam, mereka saling bertukar cerita seru termasuk rencana Julian yang semakin mantap mengusut kasus yang menimpanya.


Ketika makan usai dan waktu semakin menunjukkan malam, semua penghuni rumah memilih masuk ke dalam kamar masing masing. Termasuk Julian dan Kamila.


"Tumben, Mas, kamu bawa headset? Bloethot ya?" tanya Kamila saat melihat Julian memasang alat itu ke telinganya.


"Iya nih, tadi sengaja beli pas aku lagi mau isi bensin," jawab Julian sembar fokus menatap layar ponselnya dan mengetik beberapa huruf di laman pencarian.


Mata Kamila sontak membelalak saat melihat apa yang terpampang di layar ponsel suaminya. "Mas, Jul! Mau nonton film dewasa!" pekik Kamila, dan Julian hanya cengecengesan tanpa dosa.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2