PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Dibuat Frustasi


__ADS_3

Frustasi, itulah gambaran wajah yang ditunjukan Julian saat ini. Biasanya di pagi hari, Julian akan melewatinya dengan penuh rasa hangat dan senyum ceria, tapi tidak untuk pagi ini. Julian melewati pagi kali ini dengan luapan amarah yang dilakukan ketiga istrinya. Cara melampiaskannya bukan dengan kemarahan dan teriakan, tapi ketiga istrinya melampiaskan kemarahannya dengan diam, lalu diteruskannya dengan perkataan yang lembut elegan tapi mampu memojokkan sang suami dalam posisi semakin serba salah.


Jika dalam keadaan salah pun, kadang wanita akan merasa selalu benar, apa lagi dalam kasus Julian yang jelas sekali kalau posisinya salah, makin merasa benar lah para istri Julian. Dan mereka makin leluasa mengeroyok suaminya dengan perkataan lembut tapi cukup tajam dan sangat menohok di telinga dan hati pria itu.


"Mas kan sudah minta maaf, Dek. Jangan pojokin Mas terus dong," ucap Julian penuh permohonan. "Iya Mas tahu, Mas salah, oke! Maka itu Mas minta maaf."


"Emang salah Mas Jul dimana? Aku lupa?" ucap Safira dengan entengnya.


"Mas Jul kan nggak pernah salah, Fir. Kita yang salah, ya Mas ya," Kamila malah meledeknya.


"Dek, igghhh ..." Julian sangat geregatan. "Mas harus gimana lagi agar kalian mau maafin?"


"Ya nggak perlu gimana gimana," ucap Namira. "Terusin aja niat buka usaha Mas Jul dengan Lita. Katanya itu peluang bagus."


Julian menggeram kesal. Dia mendengus kasar dan bangkit meninggalkan meja makan menuju teras rumah. Sedangkan ketiga istrinya diam diam cekikikan menahan tawa melihat suami mereka yang pergi dengan kesal.


"Mas Jul kayaknya nyesel banget deh ya?"


"Pasti lah. Sudah dibela belain marah sama kita, eh tahunya wanita yang dia bela ternyata ular."


"Eh kira kira, Mas Jul sama Lita udah ngapaian aja yah kemarin? Apa mungkin sudah melakukan hubungan ranjang?"


"Kayaknya belum deh, Fir."

__ADS_1


"Mana mungkin belum? Mas Jul berangkat jam sepuluh pagi, lalu dia jemput aku jam empat sore. Nah antara jam sepuluh pagi sampai jam empat sore itu Mas Jul ngapain aja coba?"


"Nah iya, benar. Jangan jangan Mas Jul udah enak enakan sama Lita. Biar bagaimanapun Mas Jul kan sekarang udah sembuh, sedangkan Lita tampilannya seksi banget. Bisa saja Mas Jul main sama dia selama jam itu."


"Coba kamu tanyain, Fir."


"Ogah, males amat. Ngabayanginnya aja jijik. Kalau Mas Jul jawab iya udah melakukan, gimana?"


"Tinggal kita habisi."


"Hahaha ..."


Pada akhirnya para istri memilih menyimpan hasil pemikirannya sendiri. Sedangkan Julian memilih menyendiri lagi untuk menghilangkan rasa kesalnya. Harusnya hari ini banyak yang harus dia lakukan, belajar nyetir mobil, mempersiapkan bahan untuk Jualan lagi, mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan dan banyak beberapa rencana kecil lainnya.


"Kalian pada mau kemana?" tanya Julian saat melihat ketiga istrinya keluar rumah bersamaan.


"Bukan begitu, ya ampun, Lita mulu yang disebut."


"Kenapa emangnya? Kemarin aja demi Lita, Mas Jul maki maki aku saat menerima telfon."


"Astaga, ya ampun, Dek! Aku tahu, aku salah, tapi ya jangan disalahkan terus terusan dong, Dek. Kan aku udah minta maaf."


"Emangnya dengan kata maaf, makian Mas Jul bisa langsung hilang? Udahlah, daripada ribut mending ke kios."

__ADS_1


Julian menatap kepergiaan istrinya dengan perasaan yang berkecamuk. Dia semakin frustasi karena amarah ketiga istrinya belum reda juga. Di saat bersamaan, sebuah motor datang dan berhenti tepat di depan rumah Julian.


"Eh, Mas Ferdi, Mas Budi! Kirain siapa!" seru Julian begitu orang yang mengendarai motor membuka helm yang mereka pakai.


Dua orang yang disebut namanya lantas turun dari motor dan beranjak mendekat ke arah Julian. Pria beristri tiga itu menyuruh kedua tamunya untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa.


"Nggak pergi lagi, Jul?" tanya salah satu dari tamu julian sembari mendaratkan pantatnya di atas sofa.


"Enggak Mas, paling nanti agak siang, mau kursus setir mobil. Kalian kemarin kesini ya?"


"Iya, tapi kata istri kamu, kamunya pergi ketemuan sama cewek lain. Apa benar?"


"Nggak usah pura pura nggak tahu deh, Mas. Kirain seriusan mau ngajak bisnis bareng. Nggak tahunya malah ada niat jahat dianya. Mana terlanjur aku marahin istriku lagi."


"Loh, kamu marahin istri kamu?" Julian mengangguk. "Gara garanya apa? Kok sampai kamu marah?"


"Ya aku pikir mereka telfon berkali kali telfon itu karena nggak percaya sama suami dan terkesan mengekang gitu. Eh tahunya memang ada hal penting yang akan mereka sampaikan."


"Hahahaa ... apes benar kamu, Jul. Lalu sampai sekarang istri kamu gimana?"


"Ya mereka marah balik. Aku di diemin dan dipojokin sejak kemarin. Bingung aku, Mas. Mau minta maaf aja susah banget."


"Hahhaa ... gampang kali ngeluluhin hati cewek, Jul."

__ADS_1


"Gampang? Caranya?"


...@@@@@...


__ADS_2