
"Hahahh ... baru kali ini lihat pria pemalunya akut banget."
"Aku juga heran, tapi kalau Julian malu malu kayak gitu, apa mungkin dia berani melakukan malam pertama?"
"Malam pertama? "Emang kalian sudah siap melakukan malam pertama dengan pria yang tidak mencintai kalian?"
Safira dan Namira sontak salang tatap mata sejenak lalu kembali menatap Kamila. "Tapi kan dia sudah sah menjadi suami kita, Mi. Entah ada cinta atau tidak, dia sudah berhak jika dia minta," ucap Safira.
"Apa yang dikatakan Safira benar, Mil," Namira menimpali. "Lagian yang katanya cinta juga belum tentu jadi jodoh. Banyak yang wanita yang melepas kesucian mereka demi cinta. Eh giliran nikah malah dengan pria lain."
"Nah, setidaknya kita itu termasuk beruntung nggak sih? Julian bukan pria yang doyan pacaran. Justru dia malah takut dengan orang yang suka sama dia. Setidaknya, ada hikmah baik yang bisa kita petik dari musibah yang menimpa kita," Safira kembali bersuara.
"Bener juga sih apa yang kalian katakan," sahut Kamila. "Tapi, aku takut, disaat kita sudah membantu Julian untuk sembuh dan aku menyerahkan segalanya pada Julian, dia malah berpaling bagaimana? Apa lagi dia sekarang punya banyak uang."
"Nah, itu yang aku takutkan!" seru Safira. "Aku takut Julian akan nambah istri lagi, apalagi yang aku tahu, godaan pria itu datang kalau pria lagi sedang banyak duit. Aku takutnya itu."
"Daripada menerka nerka, mending kalau ada waktu, kita tanyakan saja sama Julian," usul Namira. "Biar kita nggak dihantui dengan prasangka buruk."
"Iya benar." Safira dan Namira sangat setuju. Biar bagaimanapun mereka memang harus saling terbuka satu sama lainnya.
Obrolan ketiganya berhenti saat Julian kembali masuk dan bergabung bersama mereka untuk menanyakan ulang barang tambahan yang akan mereka beli untuk keperluan rumah baru mereka. Hingga beberapa puluh menit kemudian, Julian mengajak ketiga istrinya pulang ke rumah lama.
__ADS_1
Berhubung motor hanya satu, ketiga istrinya memilih jalan kaki menuju rumahnya, sedangkan Julian menggunakan motor. Ketiga istrinya memilih pulang dulian, Julian sebentar lagi menyusul karena ada urusan dengan tukang renovasi rumah.
"Jul, sibuk ya?" suara seseorang memanggil Julian saat pemuda itu sedang bercakap cakap dengan tukang. Julian pun menoleh ke sumber suara.
"Ada apa, Mas?" tanya Julian kepada pria yang sedang mendekat kepadanya.
"Nggak ada apa apa. Pengin ngobrol aja," jawab pria itu terdengar basa basi. "Rumah masih bagus, kenapa direnovasi, Jul? Nggak sayang sama duit?"
"Ya karena memang butuh, makanya direnovasi. Lagian nggak semuanya. Cuma kamar doang," jawab Julian sembari bangkit dari jongkoknya.
"Kamar? Kok direnovasi? Emang ada yang salah?" tanya pria yang pernah menghina Julian beberapa waktu yang lalu.
"Ya nggak ada sih, Mas Samsul. Aku cuma pengin kamar yang luas aja sekalian kamar mandi di dalam kamar," jawab Julian santai, meski sebenarnya dia agak malas bicara dengan pria itu.
"Kan aku punya istri tiga, ya, aku butuh kamar yang luas dong, Mas."
"Hahha ... iya yah? Seneng ya punya banyak istri. Apa lagi kamu banyak duit. Nggak bakalan pusing mikirin kebutuhan sehari hari."
"Hehehe ya begitulah, Mas."
"Nggak pengin nambah lagi, Jul?"
__ADS_1
Julian langsung menggeleng. "Tiga aja udah lumayan repot, Mas. Takut nggak bisa adil."
"Repot apaan? Punya banyak uang ini, nambah istri juga kayaknya nggak masalah."
Kening Julian berkerut. Dia merasa Samsul ada maksud lain saat ini. Padahal Samsul kemarin pernah menghinanya, tapi sekarang, dia seperti orang tak berdosa saat mengajak Julian ngobrol.
"Mas Samsul sendiri, kenapa nggak nambah istri? Bukankah Mas Samsul juga banyak uang?" Pertanyaan Julian yang membalikan pertanyaan dari Samsul, membuat tetangga Julian itu cukup merasa terkejut.
"Ya aku kan pria setia, Jul," balas Samsul membela diri. "Aku mana mungkin menduakan istriku."
"Oh gitu. Aku jga nggak mau nambah," balas Julian sembari beranjak menaiki motornya.
"Kamu mau kemana, Jul? Kita kan belum selesai bicara," cegah Samsul saat Julian menyalakan motornya.
"Belum selesai bicara? Emang kita sedang ngobrolin hal penting, Mas?" tanya Julian dengan memandang aneh ke arah Samsul.
"Ya setidaknya hargai aku lah, Jul. Jarang jarang loh aku ngajakin ngobrol orang lain. Ini aja harusnya waktuku untuk tidur siang. Masa kamu main pergi gitu aja!"
"Loh? Yang minta ngobrol dengan Mas Samsul siapa? Orang aku sedari tadi memang mau pulang. Lagian aku harus bersiap diri karena malam ini mau nginep di rumah mertua. Ya udah Mas Mamsul aku permisi dulu," pamit Julian tanpa mempedulikan Samsul yang terlihat sangat kesal.
"Dasr bocah sombong!" Maki Samsul kesal.
__ADS_1
...@@@@@...