
Ketika di rumah lama sedang terjadi keributan antara dua keluarga yang membenci Julian, di waktu yang sama, di rumah barunya, Julian justru sedang menikmati waktu santai sendirian, berbaring di atas sofa sembari bertukar kabar dengan tiga sahabatnya melalui ponsel. Para sahabat Julian tentu sangat penasaran dengan kasus yang menimpa pria beristri tiga tersebut. Namun sayangnya, mereka benar benar tidak memiliki waktu untuk berkumpul akhir akhir ini. Jadi mereka hanya bisa berbagi cerita lewat grup chat yang berisi empat orang saja sebagai anggota.
Namun, meski sedang berbagi chat bersama sahabatnya, Julian juga tidak memberi tahu kepada mereka kalau saat ini ayahnya telah datang. Menurut Julian, buat apa memberi tahu mereka, biarlah para sahabatnya mengetahui hal itu sendiri suatu saat nanti. Apa lagi, Alonso akan mengumumkan Julian di depan umum esok hari. Mungkan berita itu akan menggemparkan warga kampungnya, dan otomatis sahabatnya pasti akan tahu hal itu.
Di saat Julian lagi asyik berkirim pesan, salah satu istrinya datang menghampiri dan langsung duduk di sofa dekat dengan ujung telapak kaki suaminya. Sang istri melirik sang suami yang matanya fokus menatap layar ponsel. Sang istri mendengus sebal karena suaminya bersikap cuek. Namun tak lama setelahnya, sang istri mendapat sebuah ide untuk mengganggu suaminya. Tangannya bergerak dan mengangkat ujung sarung yang dipakai Julian hingga isinya kelihatan.
"Astaga! Mas Jul nggak pakai celana?" pekik sang istri bernama Kamila dengan wajah terlihat cukup terkejut melihat batang sang suami terkulau lemas tanpa dibungkus kain.
"Hehehe ... enggak, Dek," jawab Julian sambil cengengesan. "Namira sama Safira mana? Udah pada tidur?"
"Sebentar lagi mungkin, mereka lagi nonton drakor," jawab sang istri bernama Kamila. Wanita itu, bukannya menutup kembali sarung sang suami, tapi malah menyingkap sarung itu ke atas perut Julian dan dia menggerakkan tubuhnya sampai wajahnya tepat berada di hadapan batang Julian.
"Kamu kenapa nggak ikut nonton, Dek?" tanya Julian yang arah pandangnya teralihkan ke arah sang istri yang sedang membelai batangnya dan menciumi bulu bulu yang lebat di sekitarnya.
"Lagi males, mending mainan ini aja," jawab Kamila. Kini, wanita itu sudah mulai menjulurkan lidahnya dan menyapu batang sang suami dari pangkal hingga ujung.
__ADS_1
Julian memilih diam. Dia kembali menatap layar ponselnya dan melanjutkan obrolan bersama para sahabatanya sembari menikmati batang yang sedang dimainkan sang istri. Kamila nampak begitu lahap menikmati milik suaminya yang sudah sangat menegang.
"Mas, pindah kamar, Yuk," rengek sang istri beberapa saat kemudian. Dari wajahnya jelas sekali terlihat kalau hasrat wanita itu sudah sanga bergejolak.
"Baiklah, Yuk!" Julian mengakhiri obrolan bersama sahabatnya. Ponselnya ditaruh di atas meja dan bangkit dari rebahannya lalu berdiri bersama sang istri beranjak menuju kamar untuk melanjutkan permianan panas mereka.
Masih di malam yang sama, Rastam terlihat sedang meluapkan kekesalannya begitu dia pulang ke rumahnya. Dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh keluarga Julian. Baru kali ini, Rastam merasa harga dirinya sebagai orang paling kaya di kampung ini sangat direndahkan.
"Benar benar kurang ajar si Seno!" umpat Rastam setelah dirinya mengganti pakaian. "Dikiranya dia siapa, berani beraninya ngusir kita pakai air."
"Yang memancing keributan kan kamu! Coba kamu nggak ngomong kayak gitu sama Suryo!" hardik istri Rastam yang masih terlihat kesal.
"Loh, kok aku sih, Bu. Lagian kan aku hanya ngomong kenyataan. Masa Ibu mau punya menantu yang doyan sama isi celana cowok? Nggak kan?"
"Tapi kan nggak langsung ngomong dengan cara seperti itu, mirna. Bisa lain waktu ngomongnya."
__ADS_1
"Tapi kan itu kesempatan yang bagus, Bu. Lagian males amat kalau harus dengan pertemuan. Hih, jijik aku lihat wajah Reynan."
"Lah, terus? Emang kamu serius mau jadi istrinya Julian yang ke empat?" kini Rastam yang bertanya.
"Ya seriuslah, Pak. Nggak apa apa jadi istri ke empat Julian, yang penting bisa ikut menikmati harta Julian, Kan? Lagian kalau Bapak punya menantu miliarder, kan nama Bapak juga akan terangkat."
"Tapi bagaimana caranya? Ayahnya Julian saja sudah nolak kamu. Apa kamu punya cara agar bisa menikah dengan Julian?"
"Ya belum, Pak. Makanya Bapak sama Ibu bantuin Mirna cari cara."
"Loh, ngapain pusing pusing!" seru ibunya Mirna. "Kamu bilang Julian cinta sama kamu, ya kamu tinggal ngomong aja ke Julian suruh membuktikan cintanya."
"Nah, benar itu, Mir!" Rastam menimpali. "Bukankah kamu bilang Julian ngajakin kamu nikah? Kamu tagih aja tuh ajakan anak itu. Atau Bapak aja yang bilang besok, gimana?"
"Waduh! Mampus aku."
__ADS_1
...@@@@@...