
"Aku udah gede Mas, ngapain ditungguin? Udah sana tidur, kasian Namira dan Kamila sendirian."
"Dek!" suara Julian agak meninggi sampai Safira langsung terbungkam. "Jangan ngomong seperti itu. Kamu itu juga istri aku. Aku ngasih jatah isi celana sama mereka juga nggak sengaja. Bukannya aku pilih kasih. Aku tahu, mungkin terkesan nggak adil buat kamu, tapi itu bukan perbuatan yang disengaja. Cuma karena kebetulan ada momen hingga aku ngasih jatah sama mereka."
Safira masih terdiam. Dia memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar. Julian segera saja mengikutinya. "Kenapa masuk kamar ini lagi?" tanya Julian begitu mereka sampai di depan pintu kamar yang tadi Safira gunakan untuk berdiam diri.
"Aku pengin tidur sendiri, Mas."
"Jangan seperti ini lah, Dek," mohon Julian nampak frustasi. "Kita tidur sama sama ya? Atau kamu mau minta jatah isi celana? Ayok kita lakukan. Tapi jangan marah kayak gini."
"Aku nggak marah, Mas. Lagian kan Mas Jul capek. Semalam udah sama Namira dan tadi siang sama Kamila ampe lama. Mas Jul harus istirahat. Sama aku sesempat waktunya Mas Jul aja."
"Dek!" Julian menggeram semakin frustasi. "Yang bilang capek siapa? Ya udah ayok kita lakukan. Aku nggak capek," Julian langsung mendorong tubuh Safira masuk ke dalam kamar.
"Mas, jangan melakukannya karena terpaksa. Udah deh Mas Jul istirahat saja sana, udah malam."
Julian tidak peduli. Matanya tajam menatap istirinya hingga Safira terbungkam. Setelah mengunci pintu, dia langsung menarik tangan Safira dan mengajaknya rebahan dan Julian langsung menindih tubuh istrinya "Tidak ada hal yang membuatku terpaksa melakukannya, Dek."
"Mas Jul mau memperkosaku?"
__ADS_1
"Terserah apa yang kamu pikirkan, yang penting aku menginginkannya," Julian langsung Safira dengan ciuman bertubi tubi. Awalnya Safira tetap diam, tak merespon gerakan Julian. Namun rasa nikmat yang Julian salurkan, lama kelamaan membangkitkan hasrat pada diri Safira. Tubuh wanita itu mulai merespon perlakuan suaminya, dan hati Julian merasa senang.
Hingga tiga puluh menit kemudian setelah percintaan mereka usai. Keduanya mengistirahatkan tubuh mereka di atas ranjang yang baru saja mereka gunakan untuk berkeringat bersama. Safira meringkuk memunggungi suaminya, sedangkan Julian melingkarkan tangannya diperut Safira dengan erat.
"Mas Jul mending istirahat sana. Udah malam, udah jam dua belas lebih itu."
"Gimana aku bisa istirahat kalau istri yang satunya ada disini dalam keadaan marah."
"Siapa yang marah?" Safira berkilah.
"Udah, nggak usah ngajak debat. Kamu belum makan, biar aku ambilkan," Julian melepas pelukannya dan segera beranjak keluar kamar tanpa berpakaian. Safira diam diam tersenyum saat melirik kepergian suaminya yang keluar kamar begitu saja tanpa menggunakan apapun.
"Ya nggak apa apa. Di depan istri sendiri nggak pake bajunya, nggk masalah kan?" jawab Julian sambil menaruh nampan di atas kasur.
"Makan sendiri aja, Mas," pinta Safira saat melihat tangan suaminya mengambil daging ayam goreng.
"Udah nggak apa apa," tolak Julian, Safira pun terdiam. Dengan telaten Julian mulai menyuapi istrinya yang baru reda dari marahnya saat sudah mendapatkan jatah isi celana.
"Padahal sekecil itu, tapi kenapa kalau lagi tegang bisa gede banget ya, Mas?" tanya Safira dengan matanya menatap ke arah bawah perut suaminya. Julian sontak mengikuti arah pandang sang istri.
__ADS_1
"Itulah hebatnya Tuhan. Yang tahu jawabannya juga Tuhan aja, Dek. Aku tinggal mensyukurinya karena ketiga istriku menyukai punyaku."
Senyum Safira terkembang, lalu tangannya bergerak maju meraih milik Julian dan membelainya dengan penuh kasih sayang. Julian pun tak memberi penolakan. Dia malah senang jika tangan istrinya memainkan benda keperkasaannya.
"Kalau udah halal gini enak ya, Mas. Megang megang nggak risih."
Julian mengiyakan. "Yang pasti kita lebih bebas, Dek. Nggak perlu sembunyi bunyi," balas Julian sembari terus menyuapi istrinya.
"Makanya kadang aku heran sama orang yang selingkuh atau yang belum halal. Padahal yang halal itu lebih mudah dalam segala hal, kenapa mereka mau memiilih jalan yang salah?" ucap Safira sambil terus memainkan milik suaminya hingga menegang kembali.
Julian sontak tersenyum. "Yah yang namanya manusia, Dek. Banyak yang nggak tahan dengan yang namanya godaan. Jadi ya asal dapat enak, tancap aja."
"Dasar bodoh," umpat Safira, sedangkan Julian masih setia dengan senyumnya. Begitu makanan telah habis, Julian kembali keluar kamar manaruh piring kotor dan mencuci tangannya lalu kembali menyusul Safira.
Julian kembali memasuki kamarnya dan matanya melihat istrinya yang sedang duduk santai di atas ranjang sembari sandaran, tiba tiba Julian mendapat sebuah ide. Dia kembali mengunci pintu kamar dan segera naik ke atas ranjang.
"Sekarang giliran kamu makan ini, Dek," mata Safira membelalak saat di depan wajahnya, Julian menyodorkan benda yang sudah menegang di bawah perutnya.
...@@@@@...
__ADS_1