PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kejutan


__ADS_3

"Apa? Pengacara ternama di negeri ini?" tanya Suryo dengan tatapan tak percaya. Matanya hampir tak berkedip menatap tajam ke arah pengacara yang dia sewa untuk menangani kasus anaknya. Bukan hanya Pak Suryo yang terkejut mendengarnya, sang istri dan anak serta temannya juga tidak percaya begitu saja dengan apa yang baru mereka dengar.


"Kamu nggak salah dengar, Pak? Julian pakai pengacara paling hebat di negeri ini?" Pak Suryo kembali menegaskan pertanyaannya. "Bagaimana bisa seorang pedagang batagor memakai jasa pengacara ternama di negeri ini? Bukankah bayarannya pasti juga tidak main main?"


"Mungkin polisinya bohong kali, Pak Sumanto? Nggak mungkin Julian mampu membayar pengacara yang paling mahal?" istri Pak Suryo ikutan bersuara.


"Bohong atau tidaknya, kita nggak, Bu Suryo. Mereka mengeluarkan surat panggilan untuk Reynan dan Lehan karena mereka berada dibawah ancaman. Mereka tidak mau kehilangan pekerjaan hanya karena menghambat proses yang diajukan Julian. Apa lagi saya juga dikasih tahu kalau Julian memiliki bukti yang akurat tentang perbuatan anak Ibu dengan temannya."


Reynan dan Lehan ternganga mendengarnya. Keduanya saling tatap dengan penuh rasa khawatir dan juga tanda tanya. Kedua pemuda itu semakin salah tingkah saat ketiga orang dewasa yang berada di sana melempar tatapan ke arah mereka. Namun kedua pemuda itu pandai bersikap tenang untuk menutupi rasa khawatirnya.


"Jika Julian memiliki bukti yang akurat, darimana dia mendapatkannya?"


"Saya sendiri kurang tahu, Pak. Intinya itu bukti yang sangat memberatkan Reynan dan temannya."


"Lah mana mungkin Julian punya bukti? Pasti itu hanya rekayasa saja," ucap Reynan lantang. Dia sangat yakin dengan pemikirannya. Apalagi pada saat kejadian tidak ada cctv di rumah yang Reynan gunakan untuk menjebak Julian, dan juga sekitar rumah tersebut.


"Nah bisa jadi itu? Bukankah bukti juga bisa direkayasa?" istri Suryo membenarkan dugaan anaknya.

__ADS_1


"Jadi gimana keputusan, Pak Suryo? Mau mediasi dulu, atau langsung ditempuh secara jalur hukum?"


Suryo, sang istri dan juga anaknya terlihat saling tatap. Sepertinya mereka sedang berdiskusi lewat tatapan mereka.


"Kalau Mamah sih mending langsung jalur hukum saja, Pah. Nggak usah pakai jalur mediasi. Paling ujung ujungnya mereka bakalan memeras kita."


"Bukan seperti itu prosesnya Bu Suryo," bantah Sumanto. "Yang dimaksud pakai jalur mediasi, kita membicarakan masalah secara kekeluargaan tapi dengan disaksikan oleh pengacara masing masing. Tentu saja, ada mediatornya. Nanti dari hasil mediasi, bisa kita lihat, kasusnya berakhir damai atau tetap berjalan melalui jalur hukum."


Semua yang mendengar penjelasan dari pengacara yang bernama Sumanto, nampak terdiam sembari mencerna ucapan pria berperut buncit tersebut.


"Baiklah, Pak Sumanrto, kita akan penuhi permintaan pengacaranya Julian. Besok, aku dan Reynan akan memenuhi panggilan polisi," ucap Pak Suryo pada akhirnya. "Kalian juga siap, kan? Berhadapan dengan Julian?"


Di tempat lain, tepatnya di salah satu lapak yang ada di pasar, terlihat Bu Sukma sedang menikmati makanan sembari menunggu pembeli datang. Wanita itu nampak lahap memakan bekalnya, mungkin karena rasa lapar yang melanda jadi makanan dengan lauk sederhana itu terasa sangar nikmat saat memasuki mulut ibu satu anak itu.


Disaat bersamaan, Bu Sukma melihat adiknya datang dengan wajah terlihat tegang. Bahkan sang adik berjalan cepat menuju lapak kakaknya. Dari sikap yang ditunjukkan Seno, Sukma yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Kamu kenapa? Kok kayak orang panik gitu?" tanya Bu Sukma begitu sang adik sampai dan duduk di samping lapak.

__ADS_1


"Atikah ngasih kabar, katanya Julian dan Rastam bertengkar lagi di komplek rumah barunya."


"Apa!" pekik Bu Sukma sampai berhenti nenikmati hidangannya. "Kok bisa, Sen? Apa sebabnya?"


"Ya itu, gara gara Pak Rastam nggak terima Julian melaporkan calon menantunya ke polisi."


"Hah! Jadi Julian sudah bikin laporan? Terus gimana, Sen?"


"Ya untungnya banyak warga yang melarai. Kalau nggak, mungkin Julian akan nerjang Rastam. Dia bahkan sampai membentak dan mengancam akan menuntut Rastam jika masih menghina Julian sebagai anak haram."


"Astaga! Kalau kayak gitu, Mbak lebih baik pulang dulu lah, Sen. Nggak bakalan tenang aku kalau kayak gini."


"Ya udah sana, Mbak pulang aja. Biar lapak, aku yang beresin."


Sukma langsung mengakhiri makannya. Bekal yang dia bawa kembali dia rapikan dan dimasukkan ke dalam tas. Setelah merapikan diri, dia pamit pada adiknya terus bergegas keluar area pasar dan memanggil ojek yang ada di sana.


Sukma pulang dengan perasaan yang tidak menentu. Tak butuh waktu lama, akhirnya Sukma sampai juga di rumahnya. Namun begitu dia membuka pintu rumah, mata Sukma membelalak dan tubuhnya menegang saat melihat sesorang yang sangat dia kenal berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Hallo cinta," orang itu menyapa Sukma dengan senyum yang sangat lebar.


...@@@@@...


__ADS_2