
"Eh, Pak Sumanto, apa kabar? Tumben Bapak datang ke kantor siang siang begini?" ucap seorang kepala aparat yang bertugas dalam wilayah dimana Julian membuat laporan tentang Reynan dan Lehan.
"Saya kesini mau tanya sama kamu, jawab dengan jujur, nggak perlu pake basa basi! Langsung saja ke intinya. Kenapa anda memproses laporan dari Julian? Hah!" pengacara bernama Sumanto itu langsung meluapkan beban yang dia tahan dalam dadanya selama dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan.
Betapa terkejutnya Sumanto saat mendengar kabar yang tidak enak dari kliennya. Segala amarah dan tuduhan, Sumanto terima dari ayahnya Reynan. Jika bukan karena nominal yang cukup banyak masuk ke rekening pribadinya, Sumanto tidak akan sudi menjadi kacung keluarga Suryo. Pria berperut buncit itu hanya bisa meluapkan amarahnya kepada aparat yang sudah dia kasih peringatan.
"Harusnya kamu tahu, itu hanya fitnah rendahan yang dilakukan oleh orang yang yang iri sama keluarga Suryo. Kenapa kamu main proses aja? Saya sudah peringatkan anda loh, kalau ada laporan atas nama Julian, jangan diproses, tangguhkan saja. Ini malah langsung diproses, apa anda pengin turun jabatan? Hah!"
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak Sumanto, saya juga sebenarnya sudah menangguhkan laporan Julian kemarin, tapi tadi pagi, pengacara Julian datang dan mengultimatum kami. Makanya kami langsung memproses laporan yang Julian buat."
"Apa! Pengacara Julian? Kalian lebih takut pada pengacara Julian dari pada saya dan Suryo!" bentak Sumanto semakin meradang. "Siapa pengacara yang telah berani melawan saya, siapa?"
"Maaf, Pak Sumanto. Jika anda ingin bertemu dia, silakan ajak Julian untuk mediasi dan memecahkan masalah ini secara kekeluargaan, atau orang itu akan menempuh jalur hukum tapi dengan membeberkan suap yang sering Bapak terima untuk memenangkan tiap kasus yang anda tangani."
"Apa!" Sumanto terperangah bukan main. Dia bahkan sampai ternganga dan terdiam begitu mendengar ancaman yang diwakilkan aparat itu. Sumanto semakin murka. Dia meminta nama dan alamat kantor pengacara yang dipakai Julian, tapi sayang sekali, semua polisi yang ada di sana sudah ditutupi mulutnya dengan uang oleh pengacara Julian agar tidak menyebut nama sang pengacara.
Merasa tindakannya sangat sia sia, pengacara itu memilih segera pergi dari tempat itu untuk memberi tahu berita ini pada kliennya. Sedangkan Reynan sendiri masih tak menyangka kalau surat pemanggilan juga telah sampai di rumah Lehan. Begitu melihat orang yang ditunggu pulang, Reynan langsung menghampiri Lehan dan keluarganya.
__ADS_1
"Kebetulan kamu ada di sini, Rey," ucap ayahnya Lehan begitu dia sampai rumah. Sisa sisa amarahnya masih terlihat sangat jelas di wajah pria parubaya itu. "Apa kamu juga mendapatkan surat panggilan dari polisi?"
"Iya, Om, aku juga dapat. Makanya aku datang kesini. Kenapa, Om?"
"Segera proses tuh si Julian. Kurang ajar, dikiranya kami takut apa gimana. Pokoknya kamu dan Lehan harus bisa membuktikan kalau kalian tidak bersalah, biar makin malu tuh keluarganya Kamila!"
"Tenang, Om, orang tuaku sudah menggunakan pengacara yang handal kok. Lagian kan kita memang tidak salah. Jadi ngapain harus takut?"
"Nah, benar itu, Rey. Selama kalian berada dipihak yang benar, kalian jangan takut. Hancurkan musuh musuh kalian."
"Siap, Om. Kalau gitu aku mau ajak Lehan ke rumahku dulu, Om. Papah ingin ngomong sama kita katanya."
"Baik, Om, nanti aku sampaikan."
Reynan dan Lehan bergegas saja langsung pergi meninggalkan rumah. Sedangkan orang tua Lehan masih terduduk di ruang tamu dengan segala amarah yang masih memuncak.
"Udah sih, Pak, jangan terlalu dipikirkan. Keluarga Reynan juga sudah ambil tindakan."
__ADS_1
"Bapak udah nggak sabar, Bu. Pengin melihat keluarga Mila menanggung malu karena perbuatan anaknya sendiri."
"Justru kita harus lebih sabar, Pak. Nanti kalau sudah waktunya juga mereka bakalan malu sendiri," si Bapak hanya tersenyum sinis. Hatinya juga berharap seperti yang dikatakan istrinya.
Sedangkan Julian sendiri, sedang asyik menyantap makan siang bersama ketiga istrinya sambil bercengkrama. Suara tawa kadang pecah disela sela pembicaraan mereka. Namun disaat kehangatan itu sedang tercipta, sebuah suara menggelegar memanggil nama Julian agar segera keluar.
"Julian, woi! Keluar kamu! JULIAN!"
Julian dan ketiga istrinya sontak terdiam. Mereka mengamati suara siapa yang memanggil Julian dengan teriakan yang sangat kencang. Karena merasa penasaran, Julian segera saja bangkit dari duduknya dan melangkah keluar rumah diikuti oleh tiga istrinya.
"Akhirnya keluar juga kamu, hah!"
"Pak Rastam? Ada apa? Kenapa Bapak teriak teriak di depan rumah saya?"
"Kamu itu benar benar nggak tahu diri banget ya, Jul! Kamu itu udah miskin tapi belagu banget! Maksudnya apa, kamu melaporkan calon suami Mirna ke kantor polisi? Hah!"
Kening Julian sontak berkerut, tapi tak lama kemudian senyum Julian malah terkembang. "Jadi laporanku sudah di proses?"
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Hah!"
...@@@@@...