
Seperti yang telah dibicarakan, hari ini gerobag yang dipesan Julian untuk usaha baru ketiga istrinya telah selesai dibuat dan sekarang gerobag itu juga telah berada di depan kios baru milik Julian. Bersama dengan ketiga istrinya, Julian mulai merancang dan mempersiapkan sendiri segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha barunya itu. Kekompakan Julian dan ketiga istrinya tentu saja menjadi pusat perhatian orang orang sekitar.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul tertentu, Julian terpaksa undur diri sebentar dari membantu ketiga istrinya untuk berangkat ke tempat kursus menyetir. Para istri pun mengijinkan. Lagian tanpa bantuan Julian, ketiga istrinya sanggup mengatur semuanya sendiri.
Begitu tiga istri Julian selesai melakukan tugasnya mereka memutuskan kembali ke rumah guna untuk istirahat dan juga memasak untuk makan siang. Saat ketiganya berjalan kaki menuju rumah mereka, ketiganya berpas pasan dengan sepasang pria dan wanita yang baru saja melangsungkan acara lamaran semalam.
Kedua kubu saling menatap sinis. Dari mata tiga wanita istri Julian, jelas sekali terlihat kalau mereka sangat membenci pria itu. Pria pengecut yang memfitnah mereka sehingga ketiga istri Julian harus mengalami banyak peristiwa buruk, salah satunya adalah dipoligami.
"Kalian kenapa? Lihat calon suamiku kayak gitu banget? Naksir?" selidik wanita bernama Mirna begitu dia menyadari tatapan tiga istri Julian terasa aneh kepada calon suaminya yang dikenal dengan panggilan Reynan.
"Dihh, pede amat naksir ama cowok kayak dia. Kayak nggak ada cowok lain aja," bantah Kamila.
"Hahaha ... bilang aja kalian naksir, iyakan? Ngaku aja deh!" tuduh Mirna dengan nada bicara yang sangat meremehkan.
"Naksir matamu penuh kotoran gajah. Orang cowok nggak ada bagus bagusnya."
"Hahaha ... munafik. Kalian pasti iri kan? Wajar sih kalau kalian iri, dia kan lebih segalanya dari suami kalian."
__ADS_1
"Hahhaa ... mau lebih segalanya juga silakan. Wajar sih jika Reynan lebih dari segalanya, bahkan saking lebihnya, isi celana calon suami kamu itu langsung menegang saat melihat ketampanan suami kita, hahaha ..."
"Heh! Jaga mulut kalian ya!" hardik Mirna yang tidak terima dengan tuduhan istri Julian. Sedangkan Reynan memilih diam, meski tatapannya juga kini mengandung amarah dengan ejekan tiga istri Julian. "Hati hati kalian kalau ngomong! Kalian bisa kami tuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik!"
"Hahaha ... ya silakan tuntut saja. Dikiranya kami takut. Mungkin yang takut Reynan sendiri jika kasusnya dibawa ke jalur hukum, iya kan, Rey?" pertanyaan Kamila sontak mengejutkan pria yang sedari tadi sengaja memilih diam.
"Apa maksudmu? Kamu pikir calon suamiku takut? Hahhaa ... salah! Justru kalianlah yang harus hati hati. Jangan sampai kalian nangis nantinya karena menyesal melawan kuasanya Reynan."
"Hahaha ... terserah kamu mau ngomong apa, Mir. Sekarang kamu buktikan sendiri aja deh, apa dia sangat liar saat bermain di ranjang bersama kamu? Atau dia hanya bisa liar saat berhubungan badan dengan Lehan?" ucap Kamila dan setelahnya dia langsung pergi bersama dus istri Julian yang lainnya sembari tertawa, meninggalkan Mirna yang wajahnya merah padam.
"Loh, ngapain diladenin? Biaran saja mereka ngomong sesukanya. Nanti juga mereka bakalan nyesel sendiri karena menghinaku," ucap Reynan dengan santainya. Padahal dalam hati dia juga tidak terima dicibir demikian. Meski pada kenyataannya Reynan memang liar diranjang jika sedang bersama Lehan atau pria lain daripada bersama wanita. Reynan benar benar tidak terima dengan apa yang diucapkan istri Julian itu.
"Bakalan nyesal? Emang apa yang akan kamu lakukan?"
"Tunggu saja kabar selanjutnya, kamu pasti bakalan akan puas menghina mereka nanti."
"Benarkah?" Reynan mengangguk dengan sangat antusias. "Baguslah. Biar tahu rasa mereka!" umpat Mirna. Keduanya sontak tersenyum sinis lalu kembali meneruskan langkahnya menuju salah satu kios yang ada di seberang komplek perumahan itu.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, ayah Reynan terlihat sedang fokus membicarakan rencana pembangunan superMall milik orang Italia. Dengan kemampuan yang dia miliki, dia akan mewujudkan keinginan si pemilik Mall tersebut. Dari sinilah, Pak Suryo berharap bisa menjadi rekan dari Miloarder tersebut.
"Pak, apa benar, orang Italia itu akan datang untuk melihat proses pembanguan Mall yang kita tangani?" tanya salah satu staff yang bekerja pada Pak Suryo.
"Tentu, meskipun entah kapan, aku harap dia puas dengan pekerjaan saya dan saya berharap bisa menjadi orang kepercayaannya."
"Wahh! Bagus dong. Semoga terwujud ya, Pak?"
"Sip!"
Di saat bersamaan, ponsel Suryo berdering. Pria itu lansung saja mengambil ponselnya dan ada nama sang istri dalam layar benda pipih tersebut. Suryo segera saja menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo, Mah."
"Apa! Surat panggilan dari kantor polisi?"
...@@@@@@...
__ADS_1