
"Ya ampun, Pak! Ngapain pake jalur hukum? Orang udah jelas Kamila yang salah!"
"Bapak juga tahu kalau itu. Tapi ini masalahnya beda, Lehan!"
"Beda gimana?"
"Ini yang nantanginn tuh suminya Kamila yang minta dibuktikan dengan jalur hukum!"
"Apa, Pak? Julian yang nantangin?" tanya Lehan yang terlihat sangat terkejut mendengar siapa yang akan membawa masalah ini ke jalur hukum.
"Iya, dia yang nantangin Bapak. Bocah aneh! orang dia yang jadi korban, malah mau bantuin tersangka!" sungut Tarmidi.
"Pak, mending nggak usah diladenin deh. Percuma! Buang tenaga dan waktu doang," usul Lehan. Biar bagaimanapun dia tidak mau masalah yang menimpa Julian dan Kamila diusut lewat jalur hukum. Yang ada aib Lehan malah kebongkar. Lehan harus bisa mencegah ambisi Bapaknya.
"Nggak bisa! Pokoknya kamu harus bantu Bapak bilang sama teman kamu si Reynan siapin pengacara sesuai yang dia janjikan! Bapak sudah nggak tahan ingin membuat Rosidi makin malu karena kelakuan anaknya!" tegas Tarmidi sembari langsung melangkah menuju kamarnya.
"Aduh, Bu, gimana ini?" Lehan malah panik sendiri.
"Gimana apanya? Tinggal ikuti aja kemauan Bapak kamu, beres," jawab Ibunya Lehan lalu memilih pergi menuju dapur, meninggalkan sang anak yang sedang dilanda rasa panik.
"Ah, sialan! Kirain masalah udah kelar," gerutu Lehan,dan dia langsung saja keluar rumah, menyalakan mesin motornya lalu pergi menuju rumah Reynan.
__ADS_1
Hingga waktu terus berlalu dan malam kini telah datang, Julian bersama keluarga istrinya sedang duduk bersama di atas tikar sembari menikmati hidangan yang ada. Mereka kembali berbagi cerita yang kadang diiringi suara tawa yang menggema di sana.
"Pak, nanti kalau keluarga Lehan kembali mengancam, Bapak kasih kabar yah? Biar Julian yang turun tangan," ucap Julian disela sela obrolannya.
"Beres, Jul," balas Bapak mertua. "Sebenarnya Bapak tuh berat melakukan hal ini, Jul. Dia tuh adikku, tapi malah hubungan kita jadi berantakan sejak kasus kalian mencuat."
"Maka itu, Pak, Julian ingin semuanya segera diluruskan. Biar nggak ada salah paham lagi."
"Betul itu, Jul," Arif menimpali. "Aku juga geregetan sama Lehan dan temannya itu."
Julian hanya tersenyum tipis. Dia bingung mau menanggapi dengan kata kata apa untuk membalas ucapan kakak iparnya. Untungnya yang ada disana mampu menimpali ucapan Arif jadi Julian sedikit lega.
Waktu terus bergerak maju, jam dinding kini menunjukan pukul sepuluh malam. Ketika rasa lelah dan ngantuk mulai mendera, satu persatu keluarga Kamila masuk ke dalam kamarnya masing masing. Begitu juga Julian dan istrinya.
"Kenapa masih duduk disitu, Mas?" tanya Kamila dengan tatapan heran melihat sang suami masih diposisi yang sama sejak masuk ke dalam kamar. Untung Kamila berbalik badan, jadi dia bisa lihat Julian masih duduk sejak beberapa menit yang lalu.
"Nggak apa apa, belum ngantuk aja, Dek," jawab Julian agak terbata. Bahkan saat mengucap kata Dek, ada jeda beberapa saat karena masih belum terbiasa.
Senyum Kamila pun terkembang mendengar kata Dek yang Julian ucapkan. Gemas, tentu saja. "Kalau duduk kayak gitu terus ya mana mungkin ngantuk, Mas?"
"Hehehe ... entar juga ngantuk, kamu tidur aja dulu," balas Julian yang hanya menengokkan kepalanya saat bicara, lalu kembali menatap entah kemana.
__ADS_1
Kamila lantas tersenyum kecil. Dia harus benar benar sabar menghadapi sikap Julian yang masih panik. Saat Kamila terdiam, dia tiba tiba teringat akan cerita Namira dan Safira. Dia pun jadi memikirkan cara untuk melakukan sesuatu. Hingga beberapa saat kemudian, senyum Kamila terkembang. Sepertinya dia sudah menemulan ide yang bagus. Kamila bangkit dari tidurnya dan merangkak ke arah Julian dan menggerakan tangannya.
Grep!
Julian terjengat. Betapa terkejutnya dia saat ada tangan yang melingkar diperutnya dan dan kepala mempel di punggungnya.
"Kamu ngapain?" pekik Julian terlihat sangat gugup.
"Membuat kamu nyamanlah, ngapain lagi," jawab Kamila cuek.
"Tapi ini tangannmu ..."
"Kenapa? Emang kamu nggak pengin dipeluk sama cewek kayak gini?"
Julian sontak terbungkam. Sama seperi pria pada umumnya, Julian juga ingin merasakannya. Tapi apa daya, karena kelemanahannya, Julian hanya bisa membayangkan dipeluk wanita dari belakang.
"Aku ..."
"Diamlah! Nikmati aja apa yang terjadi. Lawan semua yang membuat gelisah."
Julian tertegun mendengar nasehat Kamila. Dia pun mencoba melawan semua rasa paniknya dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
...@@@@@...