
"Emang Julian punya Ayah? Kata Om Rastam, dia nggak punya Ayah."
"Nggak! Dia punya Ayah. Kamu tahu siapa Ayah Julian?"
"Siapa, Pah?"
"Alonso Darwin. Miliarder dari Italia yang akan membangun supermall yanga Papah tangani."
"Hah! Yang bener, Pah?"
"Ya benar lah. Bisa bisanya kamu bikin masalah sama anaknya. Gara gara kamu, reputasi Papah yang Papah bangun selama ini, bisa hancur dalam hitungan jam."
Reynan hanya mematung. Wajahnya jelas sekali terlihat kalau dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Rasa khawatir kembali menyeruak seketika. Padahal dia baru saja merencanakan sesuatu pembalasan untuk Julian, tapi setelah mendengar kenyataan kalau Julian bukan orang sembarangan, mendadak rasa takutnya muncul.
"Cepat siap siap! Kita akan segera berangkat!" hardik Siryo kepada anaknya yang terdiam setelah mendengar kenyataan yang tak terduga.
"Baik, Pah," Reynan bergegas menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama, keluarga Suryo akhirnya meluncur menuju rumah Julian menggunakan mobil pribadinya.
Sedangkan di rumah Seno, Alonso, terlihat sedang menikmati waktu di ruang tengah bersama istri dan keluarga adik iparnya. Mereka sedang berbagi cerita satu sama lain guna menghabiskan waktu sembari beristirahat, setelah mereka pergi sejak kemarin.
"Cinta, besok, kita beli rumah di sebelah rumah anak kita yah?" ucap Alonso disela sela obrolan mereka.
"Ya ampun, Pakde. Apa nggak bisa gitu manggil Budenya di ubah? Jiwa jombloku meronta tahu," protes Sifa.
"Hahhaa ... nggak bisa, itu udah hak paten," balas Alonso. Sifa yang mendengar penolakan dari Pakdenya, hanya bisa mencebik bibirnya.
__ADS_1
"Beli rumah buat apa? Bukankah kalian akan pergi ke Italia?" tanya Seno.
"Ya buat tempat tinggal lah, Sen. Kita kan nanti pasti bakalan sering bolak balik. Apa lagi kalau Julian punya anak. Mungkin aku bakalan sering tinggal lama di sini."
"Kan masih bisa tinggal disini, Mas? Ngapain pake beli rumah? Di sini saja juga cukup?" Bi Atikah ikut menimpali.
"Ya nggak bisa gitu, Tik. Rumah ini biar jadi hak kalian aja. Nanti kalau mau renovasi tinggal bilang. Sebenarnya aku pengin bangun rumah di daerah sini, tapi belum nemu tanah yang cocok."
"Jadi orang kaya enak ya? Pengin rumah tinggal beli, kaya beli kerupuk aja," celetuk Asifa.
"Makanya, kamu sekolah yang benar, terus kuliah ambil jurusan yang pas dengan perusahaan Pakde. Nanti kamu bisa bantuin Julian ngurusin perusahaan."
"Siap Pakde. Berarti Julian beneran, mau dijadiin presdir?"
Di saat mereka sedang asyik ngobrol, mereka mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah mereka. Awalnya mereka mengabaikannya dan berpikir mungkin itu orang yang numpang parkir. Namun tak lama setelah itu, mereka mendengar ada yang mengetuk pintu rumah. Dengan sangat terpaksa Sifa beranjak membukakan pintu.
Asifa cukup terkejut begitu pintu dibuka dan melihat orang yang sedang terlibat masalah dengan Julian berada di depan rumahnya. Meski Sifa tidak mengenal mereka, tapi dia tahu siapa tamunya itu. Di saat Asifa akan mengeluarkan sapaan kepada tamu yang baru saja datang, di saat itu juga matanya menangkap kedatangan keluarga tetangganya yang terkenal amat sombong dan tak segan menghina orang lain.
"Loh, Om Suryo ada disini? Sejak kapan?" tanya wanita muda bernama Mirna yang baru saja datang bersama kedua orang tuanya.
"Baru saja sampai, Mir," jawab Suryo. "Kalian mau ketemu sama Tuan Alonso?"
"Iya, Om. Om juga?"
"Ya sama," ucap Suryo lalu langsung menoleh ke arah Asifa yang terdiam di dekat pintu. "Tuan Alonsonya ada, Dek?"
__ADS_1
"Ada, Bapak ada perlu?"
"Iya, kami ingin berbicara dengan beliau."
"Baiklah. Silakan masuk dan duduk dulu, nanti saya panggilkan."
Keluarga Mirna dan Keluarga Reynan lantas masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Mendengar siapa tamu yang datang, Alonso dan yang lain sempat terkejut. Namun mau tidak mau dia dan istrinya tetap menemui tamu mereka.
Mata Reynan, Mirna serta istri Rastam dan Suryo sempat berbinar melihat pesona yang terpancar dari wajah Alonso. Mereka bahkan menjadi salah tingkah sendiri karena rasa kagum akan ketampanan pria itu.
"Pantes Julian ganteng banget, bibitnya aja begini," gumam Mirna dalam hati.
"Wow, pasti ganas banget nih kalau di ranjang," Reynan juga bergumam dalam hati.
"Ada apa kalian menemui saya?" tanya Alonso dengan wajah tanpa ekpresi, menjadikan ruang tamu itu terasa begitu tegang dan mencekam.
"Begini, Tuan Alonso, maksud kedatangan kami kesini adalah ..." Suryo langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Dengan bujuk rayu dan wajah dibuat seakan menyesal, Suryo berharap Alonso akan bersimpatik dan dengan senang hati mau menerima maaf Suryo dan keluarganya.
Begitu juga dengan keluarga Rastam. Dengan cerita yang di dramatisir, mereka berharap Alonso juga mau memaafkan mereka saat itu juga dan membatalkan meminta maaf di atad panggung.
"Bagaimana, Tuan Alonso. Saya harap anda bisa bersikap bijak dan mau memaafkan kami."
Alonso sontak menyeringai.
...@@@@@...
__ADS_1