
"Ini beneran dua rumah yang dijadikan hadiah untuk saya, Mbak?"
"Iya benar, ada dua rumah, yang satu di sebelah rumah ini persis," jawab sang petugas dengan sangat sopan. "Kalau Mas Julian mau nambah satu atau dui lagi juga silakan, Mas. Nanti saya tinggal bilang sama atasan saya."
"Hah! Maksudnya, Mbak?" tanya Julian guna memastikan kalau pendengarannya bermasalah atau tidak.
"Iya, kata atasan saya, kalau Mas Julian mau nambah unit rumah juga tinggal bilang aja," jawab sang petugas dengan tenang dan santainya, tapi sukses membuat Julian melongo tak percaya. Begitu juga dengan ketiga istrinya. Mereka juga tidak percaya dengan apa yang baru mereka dengar.
"Kalau boleh tahu, siapa sih, Mbak? Yang ngasih saya rumah?" tanya Julian makin merasa penasaran. Bagi dirinya dan juga tiga istrinya yang biasa hidup sederhana, tentu saja merasa kaget dengan hadiah yang mereka terima. Bagi mereka, membeli rumah di daerah perumahan itu harganya sangat mahal. Namun sekarang, mereka dapat hadiah cuma cuma. Yang lebih mengejutkan lagi, Julian bisa nambah beberapa unit kalau dia mau.
"Maaf, Mas Julian, saya sendiri juga kurang tahu soal itu. Kalau ingin tahu tentang siapa yang membeli rumah untuk Masj Julian, itu atasan saya langsung yang berhubungan dengan si pembeli," Julian cukup kecewa mendengar jawaban karyawan perumahan itu.
"Ya udah, Mbak, terima kasih, kalau boleh aku juga mau lihat rumah yang satunya, Mbak."
"Oh, baik, Mas. Ini kuncinya," ucap petugas lalu dia pamit kembali ke kantor pemasaran yang memang letaknya di depan perumahan tersebut.
Julian beserta ketiga istrinya memperhatikan seluruh ruangan dengan seksama. Ada ruang tamu, dua kamar tidur yang cukup luas, ruang tengah, ruang makan dan dapur, ada tempat ibadah dan taman kecil dibelakang rumah.
"Jika harga satu rumahnya sampai lima ratus juta, maka dua rumah ini harganya jadi satu miliar. Wahh!" ungkap Kamila penuh kekaguman. "Berapa banyak ya, uangnya?"
"Yang pasti sih tidak sedikit," jawab Safira tanpa menolah ke arah lawan bicara. Tiba tiba kepalanya ada yang menoyornya. "Aduh! Apaan sih?" sungutnya sambil menatap orang yang menoyor kepalanya.
__ADS_1
"Yang namanya banyak pasti ya nggak sediikit, Safira!" seru Namira. "Jawabanmu ya? Bikin gemes aja."
"Ya nggak perlu menoyor kepalaku kali! Gini gini juga tiap tahun dizakatin," sungut Safira.
"Hahaha ... maaf," ucap Namira, dan Safira hanya mendengusnya.
Julian hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan para istri, lalu dia meninggalkan sang istri untuk melihat rumah yang satunya. Para istri pun mengkutinya. Rumah yang satunya memang terletak bersebelahan persis dengan yang lainnya.
"Penataannya sama ya? Cuma bedanya yang ini kamarnya di sebelah kanan semua," ucap Kamila.
"Namanya juga perumahan, Mil. Ya wajar kalau interiornya sama," Namira menyahuti.
"Memang rumah ini mau ditempati, Mas Jul?" tanya Namira yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.
"Orang udah dibeli, ngapain nggak ditempati?" jawab Julian tanpa memandang istrinya. Matanya lebih fokus melihat detail bangunan yang ada di dalamnya.
"Waah! Pasti keluargaku bakalan jantungan kalau tahu aku tinggal di perumahan ini," ucap Safira.
"Hahaaha .. sama. Keluargaku juga pasti kejang kejang," Namira menimpali.
"Hadeeh! Apa lagi keluargaku, heboh kayaknya," Kamila ikut bersuara.
__ADS_1
Julian hanya geleng geleng kepala mendengar percakapan istrinya. Tanpa sepengetahuan para istri, Julian diam diam tersenyum karena kekonyolan tiga istrinya itu. Tapi ketika dia hendak mengeluarkan suaranya, Julian kembali ke sikap awalnya, kaku dan datar.
"Kalau udah puas mending kita pulang, kita bicarakan sama orang rumah kalau kita mungkin akan tinggal di sini," ajak Julian.
"Oke!" jawab ketiganya kompak. Mereka segera saja keluar dari rumah itu.
"Wehh! Pengantin baru!" seru seseorang saat Julian berada di halaman rumah barunya. "Kamu mau beli rumah disini, Jul?"
Julian menoleh ke arah sumber suara. "Enggak beli, Mas. Ini hanya lihat ..."
"Hanya lihat? Astaga," ucap orang itu terdengar mengejek. Julian pun sontak terdiam karena ucapannya terpotong oleh orang yang dia kenal. "Percuma lihat lihat, kamu nggak bakalan mampu beli rumah disini."
Kening Julian berkerut, begitu juga dengan ketiga istrinya yang terkejut mendengar ucapan pria itu yang mengandung hinaan.
"Maksudnya, Mas?" tanya Namira dengan suara sedikit lebih kesal.
"Gitu aja masa nggak maksud, suami kamu tuh nggak bakalan mampu beli rumah disini. Berapa sih hasil dari jualan batagor dan siomay? Nggak bakalan cukup buat nyicil perbulannya."
Deg!
...@@@@@...
__ADS_1