
"Maksud kamu apa, bawa bawa si Lehan, hah!"
"Paman!" pekik Kamila.
"Diam kamu! Jika kalian masih menfitnah Lehan, aku nggak akan segan segan bawa kasus ini ke jalur hukum atas tindakan pencemaran nama baik, camkan Itu!"
"Saya tidak takut!" Julian langsung bersuara dan menatap tajam orang yang baru saja mengancam keluarga istri. Semua yang ada di sana tentu saja terkejut mendengar ucapan Julian yang terkesan sangat berani.
"Loh kenapa kamu membela mereka? Kamu itu korban! Jangan bodoh!" maki Pamannya Kamila dengan segala rasa terkejut dan emosi bercampur jadi satu.
"Justru karena saya korban, saya yang berhak mengusut kasus yang menimpa saya, bukan?" balas Julian tak kalah gentar. Mendengar ancaman Pamanya Kamila, Julian seakan mendapat petunjuk kalau dia memang harus membersihkan nama ketiga istrinya.
"Cih! Jangan sombong kamu! Punya apa kamu sampai mau main main sama hukum?" hina sang Paman. "Hanya penjual bagator, emang mampu sewa pengacara! Hah!"
"Kita buktikan saja di pengadilan," balas Julian semakin menantang.
"Oke jika itu yang kamu mau! Aku akan penjarakan keluarga ini, tak peduli walau mereka keluarga kakak kandungku!" gertak si Paman, dan dia langsung pergi dengan segala amarahnya. Sedangkan keluarga Kamila masih terbungkam, belum bisa berkata apa apa.
"Kamu serius mau membawa masalah ini ke jalur hukum, Jul?" tanya Bapak mertua beberapa saat kemudian.
"Kalau orang tadi serius, ya aku serius, Pak. Seenggaknya, aku juga harus membersihkan nama baik ketiga istriku," balas Julian dengan tenang.
__ADS_1
"Ya memang seharusnya harus dilawan sih," kata Arif. "Percuma kita membela diri, orang orang nggak bakalan percaya kalau nggak ada bukti."
"Maka itu, Mas. Kita nunggu mereka bertindak terlebih dahulu. Baru nanti saya akan bergerak," balas Julian.
"Tapi sewa pengacara itu mahal loh, Jul," ucap Arif lagi. Bukannya menjawab, Bapak dan ibu mertua termasuk Julian malah saling melempar senyum, membuat Arif yang melihatnya menjadi bertanya tanya. "Kenapa malah pada cengengesan?"
"Dah, nggak usah dipikirkan," titah Bapak mertua. "Bu masak yang enak, ada menantu nggak dimasakin. Mil, ajak Julian ke kamar. Kali aja Julian ingin istirahat."
"Loh? Orang aku penasaran malah pada bubar," protes Arif. Namun tak ada yang menggubris kakak laki laki Kamila itu. Semua pada beranjak sesuai dengan niat masing masing.
Sementara itu, tak jauh dari rumah Kamila, Paman kamila yang akrab di panggil Tarmidi, sedang teriak teriak memanggil istri dan anaknya.
"Ada apa sih, Pak teriak teriak? Berisik tahu nggak!" hardik istri Tarmidi yang merasa tidur siangnya keganggu gara gara teriakan suaminya.
"Apa? Mereka masih menjelek jelekan anak kita?" istri Tarmidi nampak terkejut mendengar kabar yang baru saja dia dengar dari suaminya.
"Masih lah! Tadi Bapak dengar sendiri, mereka sedang ngomongin anak kita bersama menantunya. Benar benar cari muka itu keluarga!" amarah Tarmidi benar benar meluap tak terkendali. Ucapannnya bahkan terdengar lantang dan keras.
"Menantu? Menantu yang diperkosa kamila? Bapak tahu darimana, dia ada disana?" cecar sang istri dengan wajah yang terus terlihat terkejut setiap sang suami mengeluarkan suaranya.
"Tadi tuh Bapak lagi di rumah Burhan, Bapak lihat Kamila dan suaminya datang. Bapak diem diem deketin, Bapak penasaran karena mereka terlihat akur dan bahagia. Ya Bapak nguping obrolan mereka dari samping rumah, eh malah mereka ngobrolin si Lehan. Apa nggak kurag ajar!"
__ADS_1
"Hah! Kamila dan suaminya terlihat bahagia? Kok aneh, Pak?"
"Bapak juga merasa heran. Malah suami Kamila nantangin Bapak untuk segera menempuh jalur hukum. Apa nggak gila! Ya Bapak terima lah tantangannnya."
Disaat bersamaan, anak mereka yang bernama Lehan, baru saja datang. Dia langsung saja dipanggil orang tuanya agar segera masuk.
"Ada apa sih, Pak?" tanya Lehan dengan tatapan bingung melihat orang tuanya yang terlihat sedang menahan emosi.
"Kamu bilang sama teman kamu si Reynan, untuk segera siapin pengacara," titah Tarmidi langsung ke intinya.
"Pengacara? Buat apa, Pak?" tanya Lehan yang terlihat semakin bingung dan juga merasa terkejut dengan permintaan Bapaknya.
"Itu si Kamila dan Bapaknya, masih ngusik ngusik keluarga kita. Mereka masih menuduh kamu yang bersalah. Bapak nggak terima. Ini harus benar benar dibuktikan secara hukum."
"Ya ampun, Pak! Ngapain pake jalur hukum? Orang udah jelas Kamila yang salah!"
"Bapak juga tahu kalau itu. Tapi ini masalahnya beda, Lehan!"
"Beda gimana?"
"Ini yang nantanginn tuh suminya Kamila yang minta dibuktikan dengan jalur hukum!"
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@...