PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Usaha Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah menginap semalam di rumah mertuanya, Julian dan para istri kini sedang berada di rumah baru mereka. Selain mengawasi renovasi rumah yang hampir selesai, mereka juga membalas kelanjutan usaha yang akan mereka jalani. Terutama usaha para istri agar mereka punya kegiatan.


Berhubung Kamila tidak jadi membuka konter di kiosnya yang baru, Julian dan sang istri harus memutar otak, kira kira usaha apa yang patut dijalankan oleh dua istrinya yang lain. Meskipun para istri tahu Julian orang kaya, mereka tidak mau berpangku tangan mengandalkan uang suaminya. Ketiga wanita itu sudah terbiasa bekerja keras untuk mendapatkan uang, jadi tidak ada alasan untuk mereka berpangku tangan menunggu jatah dari suami.


"Gimana kalau kita buka warung makan, tapi khusus batagor dan siomay aja. Kita tambahin menu baru, batagor kuah dan juga siomaynya," ucap Safira mengutarakan idenya.


"Ya ide bagus sih, tapi kan kios itu juga dipakai buat jualan kerudung kamu, Fir," sahut Namira. "Kecuali kalau nggak buat jualan kerudung, baru pas."


"Benar juga sih. Kayaknya cocok deh jualan batagor kuah. Nanti kita bisa kasih tambahan menu. Disini kan belum ada tuh batagor dan siomay kuah. Belum lagi tambahan menunya," ucap Kamila nampak antusias.


"Memang itu ide bagus, tapi kan kamu tahu, kios itu juga buat jualan kerudung milik Safira. Ntar malah kelihatan aneh, jualan kerudung sama julian batagor jadi satu," kata Namira.


"Kalau itu prospeknya bagus ya, aku sih mending jualan batagor aja nggak apa apa. Biar kita bisa kerja sama juga dalam melayani," keputusan Safira, tentu saja membuat ketiga orang yang ada dihadannya merasa terkejut.


"Kamu yakin? Terus kerudungmu gimana?" tanya Kamila.


"Ya aku limpahin aja ke saudaraku yang sama sama jual kerudung. Pasti dia mau, nggak perlu belanja lagi. Apa lagi urusan uangnya belakangan," balas Safira terdengar sudah yakin dengan keputusannya.


"Kamu yakin, Dek?" tanya Julian memastikan.


"Yakinlah, Mas. Lagian daripada bingung dan kelihatan timpang, mending usahanya satu jalur saja. Kan lebih mudah."


"Ya udah, kalau itu keputusan kamu. Terus itu kerudungnya nanti diantar atau gimana?"


"Biar sepupuku yang ambil, Mas."

__ADS_1


"Baiklah, berarti semua setuju yah, kalian akan usaha bersama?" tanya Julian kembali memastikan, dan ketiga istri jawabannya sama. "Ya udah, kalian catat, apa aja yang dibutuhkan. Dari gerobag dan konsep yang ingin kalian usung. Nanti ngomong ke saya. Aku mau pergi dulu."


"Kemana?"


"Mau daftar setir mobil."


"Wah, Mas Jul mau beli mobil?"


"Rencananya gitu. Masa orang kaya nggak punya mobil, hehhehe ... oh iya, sekalian catat juga buat acara syukuran rumah dan syukuran kesembuhanku juga."


"Kalau yang untuk syukuran kan, nanti dibahas sama Ibu dan Paman, Mas. Mereka juga akan bantuin."


"Oh gitu, baiklah."


"Eh Mas, nanti pas nikahannya Faiz sama Rizka gimana? Apa kita beli baju kembar aja?" ucap Kamila begitu Julian sudah berdiri dan hendak beranjak pergi.


"Oke!"


"Udah nggak ada pertanyaan lagi?" Ketiga istri Julian menggeleng. "Ya udah aku pergi dulu. Itu di laci lemari ada duit, kalau pengin jajan ambil aja."


"Siap Bos."


Julian lantas pamit meninggalkan tiga istrinya. Sedangkan para istri kembali serius membahas apa yang tadi mereka bicarakan.


Sementara itu, di siang yang sama, nampak dua orang pria sedang duduk santai di sebuah cafe. Salah satu dari pria itu baru selesai mengikuti mata kuliahnya. Keduanya nampak sedang ngobrol santai tak jauh dari kampus yang cukup terkenal di negeri ini.

__ADS_1


"Permisi, Mas, boleh tanya nggak?" tiba tiba ada seserong yang menghampiri dua pria itu. Sontak saja keduanya menoleh dan mereka terperangah begitu melihat siapa yang menyapa mereka. Kedua pria itu bahkan saling lirik dan melempar senyum tipis satu sama lainnya.


"Iya, Mas, ada apa?" tanya salah satu dari pria itu dengan ramah dan sok berwibawa.


"Gini, Mas. Aku mau cari tempat kos. Mas tahu alamat ini nggak?" pria yang baru datang itu menunjukkan sebuah tulisan di ponselnya.


"Tahu, Mas. Mas mau ngekos disini?"


"Iya, rencananya gitu. Bisa minta tolong tunjukan dimana arahnya?"


Dua pria itu kembali saling pandang. Dari tatapan mereka, sepertinya mereka punya niat yang tidak baik. "Gini ya, Mas. Kalau boleh aku saranin, mending Masnya jangan ngekos disitu. Tempatnya serem."


"Hah serem gimana?"


"Pernah ada orang bunuh diri di salah satu kamar itu."


"Yang benar, Mas?"


"Iya. Gini aja deh, mending Mas ngekos di tempat aku aja gimana? Tempatnya nyaman kok. Dia juga ngekos di tampatku."


Pria yang sedang mencari tempat kost itu terdiam sejenak dan terlihat sedang berpikir.


"Mas boleh lihat lihat dulu, tempatnya dekat kok dari sini."


"Baiklah."

__ADS_1


Dua pria itu langsung tersenyum miring.


...@@@@@...


__ADS_2