PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Melepas Rindu


__ADS_3

Sukma bergegas pulang dari pasar dalam keadaan yang tidak tenang. Dengan menggunakan ojeg, akhirnya wanita itu sampai di rumahnya setelah menempuh perjalanan kurang dari sepuluh menit. Sukma bergegas turun dari ojeg dan melangkah menuju rumah setelah membayar ojeg itu. Namun begitu dia membuka pintu rumah, mata Sukma membelalak dan tubuhnya menegang saat melihat sesorang yang sangat dia kenal berada di ruang tamu.


"Hallo cinta," orang itu menyapa Sukma dengan senyum yang sangat lebar.


"Alonso!" pekik Sukma dengan suara yang hampir tidak dapat terdengar. Tubuhnya terpaku dan matanya tak bisa berkedip untuk beberapa saat.


Pria bernama Alonso masih tersenyum sangat lebar. Hatinya berdegup tak karuan. Pria itu segera saja bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah wanita yang sangat dia rindukan. Sedangkan Sukma masih mematung di tempatnya sampai Alonso memeluknya, baru wanita itu tersadar dari rasa terkejutnya.


"Apa kamu tidak merindukan aku? Hum?" bisik pria itu, tapi Sukma tak bereaksi. Jika boleh jujur wanita itu juga sangat merindukan ayah dari anaknya, tapi dia selalu menepis rasa itu dan beranggapan kalau Alonso sudah melupakannya.


"Kenapa diam, Cinta? Apa kamu sudah tidak merindukanku lagi?" Sukma tak tahu harus bereaksi bagaimana. Alonso bahkan masih mengingat cara memanggil wanita itu. Terdengar menggelikan, tapi dulu Sukma sangat senang saat Alonso memanggilnya seperti itu.


"Cinta kenapa diam?"


Atikah yang berada disana, sempat melongo mendengar cara Alonso memanggil kakak iparnya. Dulu Atikah belum menikah dengan Seno jadi dia tidak tahu banyak tentang kehidupan rumah tangga kakak iparnya. Atikah juga sempat bengong saat Alonso baru datang tadi. Dia semakin yakin dan percaya darimana ketampanan Julian berasal.


"Mbak, aku keluar dulu ya?" pamit Atikah sembari beranjak membawa si kembar keluar.


"Jangan kasih tahu Julian kalau aku datang!" teriak Alonso dan diiyakan oleh Atikah sembari dia pergi ke rumah tetangga membawa si kembar.


Sukma yang masih dalam pelukan Alonso baru berontak saat adik iparnya sudah pamit. "Lepas!"

__ADS_1


"Kenapa, Cinta? Hum?"


"Jangan panggil aku dengan kata kata itu! Lepasin!" Sukma mengurai paksa pelukan yang mengikatnya. Dia lalu beranjak menjauh. "Ngapain Mas Alonso datang kemari? Pergi sana!"


"Loh, Cinta ngusir aku?" tanya Alonso sembari terus mendekat ke arah istrinya.


"Jangan panggil aku dengan kata kata itu! Dan jangan dekat dekat!"


"Kenapa? Aku mendekati istriku sendiri? Lagian, bukankah kamu sangat bahagia saat aku memanggilmu cinta?"


"Istri yang mana? Aku sudah bukan istrimu lagi!"


Sukma terdiam. Apa yang dikatakan Alonso memang ada benarnya. Harusnya Alonso yang marah karena dulu dia kabur beserta Seno dan Julian. Bahkan dia langsung pindah ke kampung yang sekarang karena saat itu Seno baru saja dekat dengan Atikah yang memang asli dari kampung ini.


"Kamu yang kabur dari rumah. Kamu yang hampir membuatku gila sampai aku tekanan batin. Dan sekarang di saat aku menemukanmu, kamu malah bersikap begini sama aku?" cecar Alosno sampai Sukma duduk terpojok tak bisa berkutik.


"Tapi kan aku kabur juga ada alasanya?"


"Aku tahu, cinta, aku tahu! Maaf, karena aku yang kurang tegas dan menyebabkan kamu menderita. Tapi sumpah, saat itu aku benar benar menolak keinginan Mommy dan Daddy. Bahkan penyakitku sempat kambuh lagi saat mereka terus memaksa aku menikah lagi. Mereka menyesal karena menyuruhmu pergi dari hidupku. Bahkan Mommy sama Deddy meninggal dalam penyesalan yang belum termaafkan?"


"A-apa? Mommy sama Daddy meninggal?" Sukma jelas sangat terkejut mendengarnya. Meski mertuanya dulu tidak pernah bersikap baik, tapi nyatanya Sukma tetap menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri. Karena sebelum Alonso menikah dengan Sukma, sikap orang tua Alonso sangat baik terhadap keluarga wanita itu.

__ADS_1


Alonso mengangguk lemah. Dia menceritakan segala yang terjadi selama berpisah dengan istri dan anaknya. Sukma benar benar terkejut bukan main mendengar kenyataan pahit yang dijalani suaminya.


"Lalu kenapa Mas Alonso tidak menikah lagi saja? Bukankah banyak wanita yang berharap jadi istri, Mas?"


"Emang kamu ngijinin aku menikah lagi? Dulu aja kamu langsung kabur."


Sukma terkesiap, dia jadi salah tingkah sendiri. Apa lagi Alonso menatapnya dengan sangat lekat, hingga menimbulkan rasa resah pada hati wanita itu.


"Kenapa menatapku seperti itu? Menakutkan!"


"Ini kan tatapan rindu dan bahagia, Cinta. Masa menakutkan sih?"


"Udah tua, jangan kayak gitu sih, Mas."


"Nggak apa apa tua, yang penting kan jiwanya masih muda, hehehe ..."


"Tahu ah, aku mau ke kamar dulu, Mas tunggu disini," Sukma langsung bangkit. Namun Alonso bukannya nurut, dia juga ikutan berdiri. "Mas, ngapain ikutan berdiri?"


"Mau ikut ke kamarmu lah, Mas kan udah lama nggak menjenguk sawah kesayangan, Mas. Pasti kering banget ya?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2