
"Kalau anda orang Italia, apa anda yang akan membangun supermall di kampung ini?" tanya Pak Rt.
"Benar! Saya orangnya."
"Wah!"
Suasana yang tadinya cukup tegang, mendadak riuh ramai dan suasananya berubah menjadi hangat. Banyak warga yang kagum, tak percaya, bahkan ikut senang saat mengetahui sosok ayah dari Julian. Tentunya juga sudah dipastikan, tim wanita akan menunjukkan sifat genitnya saat melihat pria yang menurut mereka begitu sempurna.
"Kok aku gerah ya, lihat ayahnya Julian?"
"Gila yah? Anaknya sudah segede itu tapi ayahnya masih seger banget, beda kayak suamiku."
"Kalau aku yang jadi istrinya, mungkin aku nggak bakalan sempat pakai baju."
"Kalau aku malah nggak mau keluar kamar."
Bisikan bisikan dan suara tawa yang keluar dari mulut para wanita cukup menambah suasana pagi di halaman rumah Julian semakin riuh. Bahkan sosok yang membuat masalah dan ingin memojokkan Julian, mendadak hilang nyali dan lebih banyak diam dalam kata serta rasa khawatir.
Tentu saja rasa khawatir dalam benak Samsul muncul karena dia sudah mendengar cerita tentang sosok Alonso dari Bapaknya. Orang tuanya sendiri tidak bisa berbuat apa apa saat ini, bahkan Rastam sedang dibayangi rasa takut. Jadi wajar jika Samsul juga takut kalau kesalahan yang menimpa ayahnya, juga menimpa dirinya.
"Jelaskan pada Ayah, apa yang terjadi disini, Son?"
Mau tidak mau Julian kembali menceritakan apa yang terjadi di rumahnya. Dia juga menjelaskan siapa pria yang bernama Samsul. Mendengar hal itu, tentu saja tumbuh rasa emosi dalam benak Alonso. Namun untuk menjaga wibawanya, Alonso lebih memilih berusaha bersikap tenang.
__ADS_1
"Jadi dia anaknya Pak Rastam? Wajar sih kalau kelakuannya sama," ucap Alonso kalem meski penuh dengan sindiran. "Sekarang anda semuanya lebih percaya mana coba? Anak saya atau orang ini? Ayahnya saja berani menfitnah anak saya di depan saya sendiri?"
"Pak Rastam menghina Julian di depan anda?"
"Yah begitulah. Maka itu saya akan menuntutnya nanti. Padahal setelah saya cek aset kekayaan Pak Rastam, semuanya jika diuangkan tidak cukup untuk membeli satu mobil yang saya miliki."
"Wah!" Lagi lagi rasa kagum berbinar pada wajah para warga yang ada disana. "Berarti keluarga Pak Rastam bukan termasuk keluarga kaya ya, Pak?" ceteluk salah saru warga.
"Di mata kalangan seperti saya, mereka termasuk kalangan keluarga miskin. Bukannya saya bermaksud menghina, tapi keluarga Rastam bahkan tidak masuk dalam daftar keluarga terkaya di kabupaten ini."
Wajah Samsul memerah. Entah karena malu atau marah, yang jelas dia tidak percaya akan diperlakukan seperti ini. Keangkuhan yang selama ini dia tunjukkan karena merasa orang paling kaya di kampung, diruntuhkan begitu saja oleh ayahnya Julian.
"Tuh, Sul. Sekarang kamu tahu kan? Di atas langit masih ada langit. Makanya jangan sombong."
Celetukan para warga semakin menyiutkan nyali anak pertama dari Pak Rastam itu. Pria itu hanya bisa mengumpat dari dalam hati. Samsul pikir warga akan berada di pihaknya, tapi kedatangan Alonso merubah keadaan menjadi terbalik.
Yang paling puas dantara mereka ya jelas istri istri Julian. Mereka sangat puas melihat Samsul yang tidak bisa berkutik. Mereka bahkan berharap, Mirna juga mengalami hal yang sama. Jhon sendiri malah memilih masuk ke dalam rumah. Bagi Jhon, dia terlalu malas menghadapi drama seperti ini.
"Apa anda ingin dituntut juga, sama seperti ayah anda?" Alonso bertanya pada Samsul. "Kalau mau ya sudah, nanti saya sekalian laporkan."
Wajah Samsul langsung berubah ketakutan. "Tidak! Tolong jangan laporkan saya, saya mohon."
"Kalau tidak mau, silakan anda nanti ikut ayah anda, minta maaf di atas panggung pada saat saya akan meresmikan pembangunan supermall."
__ADS_1
Alonso mengatakannya dengan tegas. Tak lama setelah itu keributan yang terjadi di rumah Julian pun berakhir. Satu persatu para warga membubarkan diri. Kini yang tersisa hanya ada keluarga Julian.
"Ayah dan Om Jhon sudah sarapan belum? Kebetulan kami baru selesai masak," ucap salah satu istri Julian.
"Sudah tadi di rumah," jawab Alonso. "Julian mending kamu cepat sarapan dan berangkat ikut ayah."
"Ikut ayah kemana? Acara peresmiannya kan nanti siang?"
"Bertemu para pebisnis dan pejabat. Kebetulan ayah jadi narasumbernya. Cepat sana sarapan."
"Mending Julian sarapan di lokasi saja, Tuan. Waktunya nggak bakalan cukup," ucap Jhon.
Alonso sontak melihat jam mahal yang melingkar di tangannya. "Ah iya, cepat kamu ganti pakaian."
"Baiklah."
Julian bergegas menuju kamarnya untuk melaksanakan perintah sang ayah. Tak butuh waktu lama, Julian keluar dengan tampilan yang benar benar berbeda sampai ketiga istrinya dibuat takjub.
"Ya, Tuhan! Ini beneran suami saya? Makin tampan saja pakai baju beginian."
Julian hanya mampu tersenyum menahan malu sembari merapikan dasi yang melingkar di lehernya.
...@@@@@@...
__ADS_1