
"Pak, sepertinya Mirna punya ide bagus."
"Ide apa? Katakan?"
Mirna sejenak menyeringai. "Bagaimana kalau nanti kita ke rumah Julian dan minta maaf disana. Ya kita pura pura aja gitu sekalian nyari simpatik. Sambil kita minta maaf, kita coba ngambil hati mereka."
"Lah, apa mereka mau menerima kita? Bapak kan disuruh minta maaf besok, Mir?"
"Ya elah, Pak. Sudah tentu mereka mau menerima kita lah, Pak. Mereka pasti berpikir niat kita itu baik loh. Kita akan dianggap tulus minta maaf dan mengakui kesalahannya karena kita mendatangi rumah mereka."
"Saran Mirna ada benarnya juga kok, Pak," Samsul ikut bersuara. "Mending kita coba aja dul, nanti datangi rumah Julian. Kan lebih baik begitu, Pak, daripada minta maaf di depan umum. Yang ada Bapak malah akan kelihatan sangat malu dan pamor Bapak sebagai orang terkaya di kampung ini bakalan runtuh."
Rastam terdiam dan mencerna ucapan kedua anaknya. Tak lama setelah terdiam, Rastam menyetujui usulan kedua anaknya. Biar bagaimanapun alasan yang dikatakan Mirna juga Samsul cukup masuk akal, dan Rastam lebih baik ambil jalan yang disarankan anaknya, daripada harus minta maaf di depan unum. Tanpa Rastam sadari, kalau anak gadisnya juga punya rencana sendiri nanti saat datang ke rumah Julian.
Di lain tempat, tepatnya di rumah yang cukup megah, rasa frustasi juga sedang dialami oleh kepala rumah tangga penghuni rumah tersebut. Pria yang memiliki profesi utama sebagai seorang arsitek ternama di daerah itu, tidak pernah menyangka akan mendapat malu yang luar biasa seperti ini. Sekarang nama baiknya kembali akan dihancurkan. Setelah belang dari anak kesayangannya ketahuan, kini dia sendiri yang seakan menggali lubang kuburan untuk dirinya.
"Mamah nggak yakin, Pah, kalau Julian anak kandung orang Italia itu. Pasti ini hanya sebuah rekayasa, Pah," ucap sang istri yang juga nampak terkejut dengan kabar yang baru saja dia dengar dari suaminya.
"Rekayasa darimana? Orang udah jelas Papah lihat sendiri di depan mata Papah tadi. Jangan bikin Papah tambah frustasi dong, Mah. Cariin Papah solusi! Papah nggak mau nama baik Papah semakin hancur besok."
"Ya gimana lagi, Mamah sendiri saja bingung. Apa lebih baik kita datangi rumahnya saja untuk minta maaf secara pribadi?"
__ADS_1
"Minta maaf secara pribadi? Maksud Mamah?"
"Ya kita minta maaf secara langsung, secara tatap muka gitu. Kita tunjukkan saja wajah penyesalan kita. Sekalian ajak Reynan juga. Mungkin dengan begitu, mereka akan melunak dan merasakan niat baik kita. Terus nama baik kita selamat, termasuk Reynan juga, agar mereka tidak meneruskan masalah ini lewat jalur hukum."
Kening Suryo mengernyit sebagai tanda kalau dia sedang mencerna ucapan sang isrtri. Tak lama setelah itu, wajahnya sedikit berbinar. Dari sikap yang dia tunjukkan terlihat jelas kalau dia setuju dengan ide dari sang istri itu. Tidak ada salahnya mencobanya demi menyelamatkan nama baik yang selama ini dia banggakan.
Keluarga Julian sendiri sekarang sudah berada di rumahnya. Setelah seharian mereka menikmati suasana kota, kini mereka sedang melepas lelah di rumahnya masing masing.
"Dek, tolong ambilkan air minum ya?" pinta Julian yang saat ini sedang merebahkan badannya di atas sofa. Salah satu istrinya mengiyakan dan dia bangkit dari duduknya menuju ke dapur. "Oh iya, Dek, nanti malam jatahnya siapa yang disodok?"
"Jatah aku, Mas," jawab Namira. "Tapi aku baru aja datang bulan tadi pagi."
"Ya maaf, mungkin belum rejekinya aku hamil. Ya sama kamila atau Safira dulu, nanti aku bisa digempur jika aku sudah sembuh."
"Kayaknya aku juga nggak bisa, Mas," ucap Safira sambil menenteng segelas air minum dan meletakkannya di atas meja depan Julian.
"Kenapa nggak bisa, Dek?" tanya Julian sembari bangkit dari rebahannnya dan meraih gelas yang baru saja ditaruh sang istri.
"Tamu bulananku juga kayaknya akan datang. Perutku udah terasa melilit dari tadi."
"Yah, terus Kamila gimana?"
__ADS_1
"Bisa kok, Mas. Tenang saja."
"Syukurlah, sebenarnya Mas tuh pengin nyodok sejak masih di hotel semalam, tapi bingung melakukannya dimana, sedangkan kita tidur satu kamar."
"Ya udah, Mas puasin aja, nanti malam main sama aku. Kalau perlu sampai pagi."
"Astaga! Kamu kuat, Mil?"
"Ya kuat dong. Lagian kan mumpung kalian lagi pada libur, jadi seminggu ke depan Mas Jul nyodok aku terus, hahaha ..."
"Dih! Rakus amat."
Julian hanya tersenyum melihatnya. Di saat mereka sedang asyik ngobrol, mereka mendengar bel rumah berbunyi. Salah satu istri Julian bangkit dan membukakan pintu. Ternyata tamu yang datang memencet bel rumah satunya dan tamu itu sangat tidak diharapkan kedatangannya.
"Ada apa?" tanya Kamila sinis saat tahu siapa yang memencet Bel rumah.
"Juliannya ada? Aku datang pengin minta maaf dan bicara empat mata."
Kening Kamil sontak berkerut dengan tatapan curiga, "Minta maaf?"
...@@@@@...
__ADS_1