
"Dari keterangan yang diberikan oleh saudara Reynan dan Lehan saja sudah jelas sekali kalau mereka yang salah!"
"Apa! Mana mungkin!"
"Jelas sekali ada kejanggalan dari ucapan mereka berdua."
"Coba sebutkan mana kejanggalannya?"
"Dengarkan saya baik baik," ucap pengacara ternama itu. "Dari awal perkenalan, gerak gerik Lehan sudah mencurigakan. Bahkan dia berkali kali melakukan drama mendatangi Julian dengan alasan menanyakan pesanan, dan dari keterangan Reynan, katanya dia mengenal baik saudara Lehan yang bernama Kamila. Sedangkan dari Kamila sendiri mengatakan, dia hanya tahu tentang Reynan karena akrab dengan Lehan tapi tidak pernah berkenalan. Sekarang saya tanya sama Reynan, pernahkah anda berkenalan dan bercakap dengan Kamila secara langsung?"
Deg!
Reynan dan Lehan terkesiap mendengar pertanyaan itu. Tentu saja keduanya tidak pernah tahu kapan Reynan berkenalan dengan Kamila. Reynan dan Kamila hanya saling tahu dari Lehan tanpa adanya sebuah perkenalan. Itu saja mereka saling mengenal gara gara Lehan yang cerita. Reynan menegang, karena semua mata sedang menatap ke arahnya menuntut sebuah jawaban.
"Kalau itu, saya sendiri lupa. Karena waktunya sudah cukup lama," Reynan menjawab dengan suara agak gugup.
"Mana mungkin lupa!" Kamila langsung membantah. "Orang kalau ketemu saja kamunya cuma menebar senyum lalu pergi. Boro boro kenalan lalu ngobrol. Mana pernah!"
"Nah kan!" seru Pak Hotmin. "Dari sana saja harusnya Bapak Sumanto tahu, ada yang janggal."
Pengacara Reynan juga langsung menunjukan wajah terkejutnya. Tapi dia langsung berpikir keras untuk membantah ucapan Hotmin. Sumanto bertekad harus menenangkan kasus ini dari pengacara lawan agar popularitasnya semakin melesat naik. "Bukankah lupa itu hal yang wajar, Pak Hotmin? Bisa saja Saudari Kamila memanfaatkan lupanya Reynan untuk membuat alibi."
__ADS_1
"Hahaha ..." Hotmin malah terbahak. Jelas sekali kalau pengacara itu meremehkan Sumanto. "Baiklah jika itu tidak membuktikan apapun. Sekarang saya akan menghadirkan seseorang. Kali aja saudara Reynan tidak melupakannya."
Pak hakim mengijinkan dan dengan memberi kode kepada petugas yang berjaga, masuklah seseorang yang membuat Lehan dan Reynan wajahnya kembali menegang. Mereka tahu betul siapa orang yang baru saja masuk.
"Kalian pasti kenal bukan dengan pria tampan itu?" tanya Hotmin dengan senyum yang sangat lebar. "Atau kalian juga lupa sama pria itu? Oke, akan saya ingatkan. Dia adalah korban kalian juga saat dia mencari alamat kos kosan. Ingat?"
Reynan dan Lehan diam tak berkutik. Mereka saling pandang sejenak seperti yang sedang mendiskusikan sesuatu.
"Siapa dia, Rey?" tanya Suryo dengan tatapan tajam. Reynan langsung terkesiap dan gugup.
"Tidak kenal, Pah," bantah Reynan.
"Yakin saudara Reynan tidak mengenalnya?" tanya Hotmin, dan Reynan mengiyakan jawabannya. Meski jelas sekali kebohongannya, Hotmin kembali tersenyum sinis. "Pak Sumanto, tolong anda cek ponsel saudara Reynan."
Untuk kesekian kalinya Reynan dibuat terkejut oleh ucapan pengacara yang membela Julian. Tangan Reynan bahkan sampai spontan menggenggam erat ponsel miliknya yang tergeletak di meja. Tentu saja kedua kubu cukup terkejut dengan reaksi yang Reynan tunjukan. Berbagai tatapan memandang Reynan dengan tatapan yang berbeda makna.
"Di ponsel saya tidak ada apa apanya," kilah Reynan agak gugup. Bahkan matanya entah memandang ke arah siapa.
"Ya kalau memang tidak ada apa apanya, kenapa saudara Reynan gugup? Nggak perlu takut. Kalau memang anda benar, serahkan saja ponsel anda pada Pak Sumanto," ucap Pak Hotmin semakin mengintimadasi. "Asal suadara Reynan tahu, pria itu juga memiliki sesuatu yang ada pada ponsel anda!"
"Rey!" Suryo yang sedari tadi diam langsung mengeluarkan suara tajamnya. "Serahkan ponselnya!"
__ADS_1
"Tidak ada apa apanya, Pah," Reynan masih berusaha mengelak. Dia tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi. Reynan terlalu yakin kalau selama ini tidak ada yang tahu tentang isi ponselnya selain Lehan. Suryo yang merasa aneh dengan sikap anaknya langsung bergerak sendiri mendekat ke arah Reynan dan merebut ponsel itu. "Pah, jangan, Pah. Serius, tidak ada apa apa di sana!"
"Kalau tidak ada apa apa, nggak perlu kamu merasa takut!" hardik Suryo yang berhasil merebut ponsel anaknya. Saat ponsel menyala, ternyata ponsel itu memakai sandi wajah pemiliknya. "Buka!"
"Sumpah, Pah. Nggak ada apa apanya."
"Papah bilang buka!"
"Papah kok nggak percaya sama Reynan sih? Orang nggak ada apa apanya."
"Justru kamu terlihat semakin mencurigakan jika bertingkah seperti itu! Cepat buka!"
Reynan terbungkam. Mau tidak mau dia membuka layar ponselnya. Sedangkan yang lain masih terdiam dengan pemikiran mereka masing masing saat menyaksikan berdebatan ayah dan anaknya.
Begitu ponsel terbuka, Suryo langsung mengecek ponsel anaknya dengan teliti. "Tidak ada apa apanya," ucap Suryo begitu selesai menyelidiki ponsel anaknya.
"Udah dibilangin orang nggak ada apa apanya," sungut Reynan. Hatinya merasaa lega karena sang ayah tidak menemukan sesuuatu di sana. Begitu juga dengan Lehan yang sedari tadi ikutan tegang.
Pak Hotmin kembali menyeringai. "Buka menu file saya, lalu tekan titik tiga dipojok kanan, cari pengaturan dan klik lalu aktifkan file yang tersembunyi, maka anda akan menemukan hal tak terduga disana."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@...