PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Julian Jadi Idaman


__ADS_3

Menjadi istri Julian, tentu hal ini menjadi impian baru bagi wanita yang memang sudah lama suka dengan pria itu. Status Julian yang berubah dari pedagang batagor menjadi anak sultan, tentu saja langsung merubah keadaan. Tak sedikit wanita yang ingin menjadi bagian dari hidup pria beristri tiga tersebut.


Meski hampir semuanya tahu kalau Julian sudah memiliki tiga istri, tapi pada kenyataannya, ada beberapa wanita yang tidak peduli dengan status tersebut. Mereka malah pada nekat ingin menjadi istri yang kesekian buat Julian.


Tentu saja hal itu membuat ketiga istri Julian memperketat kewaspadaannya. Meski mereka percaya pada suami mereka, tapi tidak salah jika mereka tidak ingin ada celah sekecil apapun untuk wanita laim masuk ke dalam rumah tangga mereka. Ketiga istri Julian benar benar harus mempersiapkan diri menghadapi wanita wanita gatal yang ingin menduduki posisi yang sama seperti mereka.


"Tuh kan, Pak! Sekarang aku jadi banyak saingan! Bapak sih, tinggal minta maaf aja apa susahnya sih?" sungut Mirna yang tidak terima karena dengan mencuatnya Julian sebagai anak sultan, dia merasa menjadi banyak saingan.


"Kamu itu ya, Mir. Nggak ngertiin perasaan Bapak sama sekali. Mau ditaruh dimana wajah Bapak, hah!"


"Jangan egois kamu, Mir. Ngertiin perasaan bapakmu sesekali. Lagian kamu juga aneh. Katanya Julian cinta sama kamu dan ngajakin kamu nikah, kenapa kamu nggak nagih Julian aja?"


"Ya ampun, Bu. Kenapa itu lagi sih yang dibahas? Sekarang kan yang terpenting bagaimana caranya aku bisa menjadi istri Julian?"


"Masa bodo lah, Mir. Bapak tuh udah pusing, nggak perlu nambahin pusing kepala Bapak! Kamu mau Bapak dihina lagi? Kamu tadi dengar kan? Samsul ngomong apaan? Harta kita aja untuk membeli satu mobil milik ayahnya Julian, masih kurang banyak. Mendengarnya saja, Bapak sudah cukup sakit hati, apa lagi jika berhadapan langsung. Yang ada Bapak malah semakin direndahkan."


Mirna langsung mencebikan bibirnya. Dipikirannya saat ini hanya ada kata menikah dengan Julian, tapi dia sendiri bingung mencari cara. Apa lagi sekarang, hal yang paling Mirna takutkan benar benar terjadi. Sekarang bukan hanya dirinya saja yang ingin menjadi istri Julian.


Saat ini, setelah kembali dari acara peresmian, keluarga Julian sendiri sedang berkumpul di rumah baru. Mereka merayakan pesta kecil kecilan di sana. Bahkan Jhon beserta keluarganya ikut serta bergabung di sana. Apa lagi Alonso baru saja membeli satu unit rumah di sana, jadi makin serulah acara tersebut.

__ADS_1


Keluarga Julian juga mengajak beberapa tetangga untuk bergabung. Bahkan sahabat Julian dan juga sahabat ketiga istri Julian juga ada disana. Mereka pada datang atas ajakan dari tuan rumah.


"Serius, Mil, tadi di rumah paman kamu rame banget. Mereka benar benar nyidang Lehan dan orang tuanya," ucap Rizka, sahabat Kamila sekaligus calon istri Faiz.


"Ya wajar sih kalau mereka disidang. Kata Bapak, mereka aja belum minta maaf sama Bapak," balas Kamila.


"Terus keputusannya gimana? Apa keluarga Lehan diusir?" tanya Julian.


"Nggak tahu. Tadi waktu aku berangkat kesini, sidang belum kelar. Coba nanti kamu tanyakan saja sama Mas Arif. Katanya dia tadi akan kesini bareng Ilham," balas Rizka.


"Mas Arif juga udah ngasih kabar sama aku sih tadi," balas Kamila.


"Kamu kenapa, Nam? Kok cemberut gitu?" tanya Safira yang menyadari perubahan pada wajah Namira.


"Loh, kok bisa?"


"Nggak tahu. Emang ngeselin itu anak. Selalu saja iri sama apa yang aku punya."


"Hahaha ... ada ada aja." Suara tawa sontak pecah diantara kerumunan anak muda itu.

__ADS_1


"Jul, itu mobil kamu yang mana?" tanya Ucup.


"Yang di belakang. Keren ya?"


"Ya keren lah, harganya aja miliaran. Tapi sayang, hanya cukup buat empat orang saja."


"Ya kan pas, Cup. Cukup buat Julian dan ketiga istrinya," ucap Adi. "Berarti koleksi mobil ayahmu banyak dong, Jul?"


"Ya banyaklah, di Italia aja ada lebih dari sepuluh. Belum lagi di negara negara lainnya. Ayah aja sampe lupa punya mobil berapa."


"Hahaha ... bisa gitu yah?"


"Nah kan, ayah mertua aja bingung punya mobil berapa, eh ini ditambahin lagi beli buat Mas Jul."


"Sultan tuh bebas kali, Fir."


Suasana di rumah Julian sungguh terlihat begitu hangat. Berbeda dengan suasana di rumah tetangga Julian yang jaraknya tak jauh dari sana. Si pemilik rumah menyaksikan keseruan di rumah Julian dengan tatapan tajam penuh kebencian. Bukan hanya benci, rasa iri juga tumbuh dalam diri pemilik rumah bernama Samsul.


"Sampai kapan lihatin tetangga terus sih, Mas? Kalau mau bergabung ya sana, bergabung aja."

__ADS_1


"Nggak sudi, aku gabung sama mereka. Norak. Gitu aja dirayakan! Awas aja, aku pasti bisa membalas perbuatan Julian. Emangnya dia doang yang bisa bikin malu! Aku juga bisa!"


...@@@@@@...


__ADS_2