
"Tapi aku nggak tahu, cara memasukkanya gimana?"
Kamila, Safira dan Namira langsung menatap suaminya dari barbagai sisi dengan tatapan tercengang setelah mendengar pengakuan tak terduga dari pria tampan yang telah menjadi suami mereka. Julian yang ditatap dengan tatapan penuh tanya oleh tiga istrinya, jadi salah tingkah sendiri dan merasa malu.
"Bener, Mas Jul? Kamu nggak tahu caranya malam pertama?" tanya Safira memastikan.
Julian langsung mengangguk beberapa kali. "Kalian kan tahu, cuma kalian, wanita yang bisa deket denganku."
"Ah iya, Mas Jul itu pria yang suci dan kita sudah menodainya," celetuk Kamila, dan hal itu mampu menciptakan tawa bagi dua istri Julian yang lainnya. Sedangkan Julian, hanya bisa senyum senyum.
"Ya sudah, nanti kita belajar sama sama," ucap Namira. "Tapi setelah malam pertama, aku pasti bakalan malu banget."
"Malu kenapa?"
"Ya kan jika habis berhubungan badan kita wajib kramas saat pagi. Nggak enak aja dilihatin orang rumah."
"Ah iya!" seru Safira. "Nanti malam pertamanya kita lakukan di rumah baru aja yah? Biar nggak pada berisik."
"Terserah kalian saja, selama itu untuk kebaikan kita ya, aku setuju aja sama kalian."
"Sip!"
Sidang pembahasan malam pertama berjalan sangar lancar, meski mereka tidak tahu kapan pastinya malam itu akan terlaksana. Karena malam yang terus bergulir menuju larut dan rasa ngantuk juga sudah menyerang, Julian dan ketiga istrinya pun tertidur dengan posisi berjejer satu arah.
__ADS_1
Pagi hari kembali menyapa. Tidak ada obrolan yang berarti pagi ini selai obrolan ringan mengiringi kesibukan pagi. Begitu sarapan sudah selesai, satu persatu penghuni rumah yang tinggal bersama Julian. Sifa berangkat sekolah, Ibu dan Paman berangkat ke pasar sedangkan sisanya berad di rumah.
Sedangkan Julian sendiri hari ini rencananya akan ke pasar membantu Safira mengemas dagangannya karena akan pindah Jualan. Selain itu, Julian dan ketiga istrinya juga akan mulai mengemas pakaian mereka karena sebentar lagi mereka akan menggunakan rumah barunya.
Sebenarnya Julian ingin pergi ke kota bersama istrinya untuk membeli perlangkapan rumah tangga yang belum kebeli. Tapi karena waktunya terasa masih sibuk untuk yang lain, Julian mengurungkan niatnya dan memerintahkan sang istrri untuk belanja di pasar saja.
"Jul! Ada tamu itu!" seru sang bibi dari luar kamar. Saat ini Julian dan tiga istrinya sedang ngobrol sembari merapikan pakaiannya mereka untuk pindahan.
"Siapa, Bi?" tanya Julian dengan berteriak.
"Nggak tahu, cewek."
Julian dan istrinya langsung saling pandang. "Jangan mikir yang tidak tidak, aku aja kaget," celetuk Julian memberi peringatan pada ketiga istrinya. Tiga wanita itu sontak tertawa.
Mata Julian langsung memicing kemudia dia mendengus kasar. Julian bangkit tanpa mengeluarkan kata kata. Dengan hati yang berdegup kencang keluar dari kamar. "siapa yah?" tanya Julian begitu dia sampai di ruang tamu dan melihat ada dua wanita duduk disana.
Dua wanita itu langsung tersenyum lebar begitu melihat orang yang mereka cari. Matanya terpaku sejenak, menatap ketampanan pria yang tadi menyapa mereka. Seketika mereka langsung terpesona pada pandangan pertama.
"Aku Lita dan ini temanku, Febi," dengan genit khas seorang wanita, mereka menjulurkan tangan mengajak Julian untuk berjabat tangan. Namun senyum dua wanita itu seketika memudar saat Julian lebih memilih menangkupkan kedua tangannya.
"Begini, aku dengar, disini ada batagor yang enak. Aku pengin mencobanya. Kalau beneran enak, aku ingin memesannya untuk menu di cafe milik saya," Lita menjelaskan kedatangannya.
Meski rasa panik dan canggung kembali menyerang karena tatapan dua wanita yang seakan ingin mencengkramnya, Julian sebisa mungkin mencoba bersikap tenang. "Wah, sayang sekali aku belum jualan, Mbak. Memang Mbaknya tahu disini ada batagor darimana?"
__ADS_1
"Dari adik saya. Dia kan sekolah di sana," tunjuk Lita ke arah sekolah yang berdiri di seberang jalan rumah Julian.
"Oh begitu. Ya anak anak yang sekolah disini memang banyak yang jadi langganan."
"Lalu Masnya Jualannya kapan? Biar saya bisa kesini lagi?"
"Kemungkinan sekitar tiga atau empat hari lagi, setelah semua urussan selesai."
"Oh gitu, ya udah nanti sekitar satu minggu saya kesini lagi deh. Boleh aku minta nomer Mas Julian."
"Oh itu di gerobak ada nomerku."
"Baiklah."
Kedua wanita itu lantas pamit dengan perasaan yang cukup senang.
"Gila! Ternyata cakep banget yang namanya Julian," seru Lita saat mobil yang dia kendarai menjauh.
"Benar! Pantes Reynan terlihat iri. Aku aja mau dirusak oleh cowok setampan itu," Febi menimpali.
"Benar, sepertinya aku harus memiliki itu cowok. Nggak apa apa jika Julian modal tampang dan isi celana doang. Nggaak bakalan rugi aku."
"Hahahha ..."
__ADS_1
...@@@@@@...