
Akibat pengaruh dari apa yang mereka saksikan, sepasang suami istri itu semakin liar dalam melakukan perang bibir. Gejolak yang mengalir dalam darahnya terus menyeruak hingga hingga mereka ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar perang bibir.
Kini poisi keduanya sedang terbaring berhadapan. Jullian di atas dan Safira di bawah. Saat Bibir Julian dan Safira terlepas, mata mereka saling menatap lekat dengan nafas yang terus menderu. Mereka juga saling melempar senyum meski rasa resah ikut menguasai diri mereka.
"Kita teruskan ya, Dek?" tanya Julian meminta persetujuan.
"Mau Mas Jul gimana? Mau diteruskan ya ayo. Bukanlah Mas jul juga kepengin?"
Ucapan Safira sontak saja membuat wajah Julian merona. Meski ada sedikit rasa malu, tapi sepertinya tekad Julian sudah bulat. Malam ini dia akan melepaskan status perjakanya untuk sang istri. Julian kembali menempelkan bibirnya pada bibir sang istri.
Sepolos polosnya lelaki, Julian memilki sisi liar alami yang memang sudah melekat pada diri manusia. Dengan insting lelakinya, bukan hanya bibir Safira yang menjadi target, bibir Julian juga mulai merembet ke area leher. Tangan Julian juga mulai bergerilya meski masih sebatas di luar pakaian dan belum menyentuh bagian penting tubuh istrinya.
"Dek, dasternya lepas ya?" pamit Julian saat bibirnya berhenti bergerilya. Safira mengangangguk pasrah sembari menutup wajahnya karena malu.
Dengan tangan bergetar dan nafas yang tak karuan, Julian memegang ujung bawah daster istrinya. Diangkatnya ujung daster pelan pelan dan mata Julian sedikit membalalak saat bagian dalam tubuh isyri mulai terlihat. Dari paha, segitiga bermuda, perut ramping, kain penutup bukit kembar, satu persatu terlihat dan membuat Julian terpaku memandangnya.
"Jangan dilihatin seperti itu dong, Mas. Malu tahu," protes Safira yang diam diam mengintip dari celah celah jarinya.
Julian langsung tersenyum lebar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah. "Habis tubuh kamu bagus banget, Dek. Aku takjub."
"Ya sudah, selanjutnya ngapain lagi?"
__ADS_1
Julian menggaruk kepalanya sambil berpikir. Dia mengingat kembali adegan dalam film dewasa yang baru dia tonton. Begitu Julian teringat, dia bersiap diri melakukannya. Tangannya semakin gemetar saat bergerak menuju bukit kembar istrinya.
"Ehh!" pekik Safira saat dirinya merasakan kulit tanga Julian menyentuh kulit dadanya. Bahkan tangan yang menutupi wajahnya sampai terbuka karena kaget.
"Kenapa, Dek?"
"Nggak apa apa, Mas. Kaget aja."
Wajah keduanya merona malu. Kali ini tanpa permisi Julian memijat bukit kembar istrinya yang masih terbungkus kain. Bulu kuduk Safira meremang karena ini baru pertama kalinya baginya. Gerakan tangan Julian makin berani, dilepasnya kain yang menutupi bukit kembarnya.
"Indahnya," puji Julian saat bukit itu terlepas dari penutupnya.
"Apa sih, Mas," ucap Safira merasa malu dan tangannya menutupi dadanya.
Dengan degup jantung yang semakin tak karuan, Julian mencoba meniru yang ada di film. Kepalanya bergerak dan mulutnya menempel pada salah satu pujuk bukit kembar dan menyesapnya.
"Aaakh ..." Safira merintih dan keduanya merasakan nikmat. Dari yang awalnya pelan, makin lama Julian makin terlihat rakus seperti bayi yang kehausan. Nikmat, cuma itu yang Julian rasakan.
Puas bermain di dada, kini saatnya Julian melihat sumber dari segala kenikmatan. Meskipun saat bermain dada, Julian sudah menyentuhnya. Tapi ini adalah saat dimana Julian bisa melihat dengan jelas lubang nikmat untuk pertama kalinya.
"Buka ya, Dek?" lagi lagi Safira menganguk pasrah. Masih dengan degup jantung yang semakin tak karuan, Julian menarik segitiga bermuda hingg terpampanglah gundukan daging terbelah dengan bulu yang sangat tipiss.
__ADS_1
"Indah banget, Dek!" Julian memuji kembali. Saat tangan Safira menutupinya, Julian segera menyingkirkan tangan itu dan mengusap dengan lembut milik istrinya.
"Sekarang Mas Jul yang buka pakaiannya," pinta Safira. Julian agak kaget, dengan malu malu, Julian membuka kaosnya. Begitu kaos terlepas, Julian lansung menutupi dadanya pake tangan. "Kenapa malah ditutupin pake tangan? Tadi aku aja ditutupin nggak boleh!"
"Malu, Dek," jawab Julian sambil senyum senyum.
"Nggak ada malu maluan. Harus adil!" hardik Safira. Mau tidak mau tangan Julian terlepas dari dadanya. Wow! Bagus banget badanmu, Mas?"
"Kan seneng olahraga, Dek."
"Oh iya, ya. Sekarang buka juga celananya." Julian kembali tertegun. Dia sempat terdiam seperti orang bingung. "Buka cepat, Mas! Atau aku yang buka?"
"Eh iya, Dek. Nggak usah, aku aja," jawab Julian agak tergagap. Dengan ragu Julian berdiri. Pertama dia membuka pengait dan resleting celana pendek lalu melepaskanya. Kini tinggal underwear yang masih tersisa.
Dengan segenap rasa canggung dan degup yang terus menggema di dadanya, Julian mulai menurunkan underwearnya.
"Waaahhh! Gede banget, Mas!"
...@@@@@@...
Hy reader, makasih ya udah mengikuti kisah sampai hari ini. Makasih atas dukungannya. Othor juga mau ngasih tahu karya baru othor ini. Nggak kalah seru loh. Dukung dan ikuti juga yuk. Judulnya BULE NYASAR JADI REBUTAN. silakan mampir
__ADS_1