
"Kenapa? Kamarku kecil ya?" tanya Namira pada sang suami yang saat ini sedang duduk ditepi ranjang dalam kamar istrinya. Sebenarnya bukan masalah kamarnya. Tapi bagi Julian adalah keadaan dirinya. Apakah dia sanggup tidur satu ranjang bersama istrinya atau tidak?
"Apa aku boleh usul?" Julian bertanya pada wanita yang saat ini sedang asyik bermain ponsel dan duduk di meja rias sederhana miliknya.
Namira lantas mendongak. "Usul apa?"
"Biar lebih nyaman, bagaimana kalau ranjang ini dikeluarkan. Jadi kamarnya tidak kelihatan terlalu sempit. Kasurnya ditaruh di lantai," Julian mengeluarkan ide di otaknya.
Namira langsung berpikir sembari mengedarkan pandangannya. "Ide bagus sih, tapi kita perlu beli alas kan?"
"Ya kita ke pasar dulu, beli apa yang di butuhkan," ajak Julian.
Namira tidak langsung mengiyakan. Dia kembali berpikir sejenak. "Gini aja deh, kamu sama Bapak beresin kamar, terus aku yang ke pasar beli barang yang dibutuhkan, gimana?"
"Kayak gitu ya nggak apa apa, ya udah kamu catat dulu apa aja yang dibutuhkan."
Namira mengangguk lantas mereka berdiskusi membahas apa saja yang dibutuhkan. Namira mencatat semuanya dalam ponsel. Julian memberikan dua lembar uang berwarna merah, lalu Namira keluar kamar untuk memberi tahu tentang rencana mereka kepada keluarganya.
"Kamarnya mau dirombak?" tanya Bapak Namira begitu dia masuk ke dalam kamar anaknya.
"Iya, Pak. Biar kelihatan lebih luas," jawab Julian canggung.
"Ya udah biar Bapak yang ngeluarin ranjangnya."
"Julian bantu, Pak."
__ADS_1
"Nggak perlu. Orang ranjangnya mudah dibongkar kok. Nanti kalau butuh bantuan, Bapak bakalan teriak manggil kamu."
"Ya udah, Pak," Julian keluar kamar dengan perasaan canggung. Dia memilih duduk di ruang tengah yang dekat dengan kamar Namira. Sementara Namira sendiri sudah berangkat ke pasar menggunakam motor bersama kakaknya.
Sambil menunggu panggilan Bapak mertua, Julian memilih bermain ponsel. Julian tidak melihat ibu mertuanya. Entah dia lagi istirahat atau malah lagi keluar, Julian tidak tahu. Namun, saat Julian sedang asyik bermain ponsel, dia dikejutkan dengan suara sapaan dari seorang wanita.
"Wah! Ada suaminya Namira! Kok sendirian, Mas?" Ucap wanita itu sembari duduk di kursi yang dekat dengan tempat Julian duduk.
Julian sontak kaget. Dia mendongak dan memandang ke arah wanita muda yang usianya mungkin sama dengan Namira. Julian hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Oh iya, kenalin, aku Vita, sepupunya Namira," ucap wanita itu sambil menjulurkan tangan kanannya mengajak Julian berjabat tangan.
"Oh iya, salam kenal," jawab Julian sembari menangkup dua tangannya di depan dada, tidak menyambut uluran tangan wanita itu. Julian bahkan berpindah tempat duduk karena merasa tak nyaman.
"Gimana, Mas, rasanya punya istri banyak? Pasti senang ya?" tanya Vita sembari berpindah tempat duduk.
"Ya lumayan," jawab Julian pelan. Dia semakin merasa tak nyaman dengan sikap wanita itu.
"Ada niat buat nambah istri lagi nggak, Mas?" Vita mulai senyum senyum menunjukan pesonanya.
"Tidak," jawab Julian pelan tapi cukup menohok hati Vita.
"Kenapa? Ada loh wanita yang bersedia menjadi istri ke empat kamu," Vita mulai kegenitan sembari memberi kode.
"Tidak ingin aja," jawab Julian sembari pindah lagi ke tempat duduk yang lain.
__ADS_1
"Beneran tidak ingin nambah?" desak Vita. "Dia wanita yang cantik loh. Malah lebih cantik dari Namira."
"Nggak minat, buat laki laki yang lain aja," tolak Julian.
"Tapi kalau wanita itu maunya sama kamu gimana? Dia bahkan rela jadi istri ke empat kamu loh?"
"Berarti dia wanita murah meriah ya? Udah tahu sia pria memiliki istri, masih aja ngotot," balas Julian yang sepertinya tahu siapa wanita yang di maksdu Vita.
Vita terperangah mendengar jawaban Julian yang terdengar sangat merendahkan. "Kalau ngomong tuh ati ati, Mas. Lebih murah mana sama wanita yang memperkosa laki laki?"
"Lebih murah wanita yang menyodorkan diri dengan suka rela pada laki laki lah, Mbak. Apa lagi kalau laki lakinya sudah beristri. Menjijikan."
"Jaga mulut kamu ya, Mas! Aku tidak serendah yang kamu pikirkan!" teriak Vita.
"Loh kok mbak yang tersinggung? Katanya tadi wanita lain?" balas Julian.
Namun disaat Vita mau membalas ucapan Julian, orang tua Namira keluar dari kamar masing masing dengan tatapan heran.
"Ada apa ini? Kok kamu teriak teriak, Vit?" tanya Ibu mertua yang ternyata sedang istirahat di kamarnya.
"Ini suami Namira kurang ajar Bude. Dia merayu aku agar mau jadi istri ke empatnya."
"Apa!"
...@@@@@@...
__ADS_1