
Siang itu sekitar pukul satu, melihat salah satu istrinya sedang tengkurap di atas ranjang, menumbuhkan sebuah ide dalam otak Julian. Demi bisa mendapat maaf dari istrinya yang sedang marah akibat perbuatannya sendiri, Julian ingin melakukan sesuatu seperti yang disarankan oleh dua tamunya tadi pagi.
Setelah mengecek keadaan dan mengunci pintu rumah, Julian kembali beranjak menuju ke dalam kamar dimana istrinya berada. Kebetulan dua istri yang lain sedang pergi jadi Julian akan memanfaatkan waktu yang ada untuk meluluhkan hati salah satu istrinya agar mau memaafkan dirinya dan sikapnya hangat kembali.
Begitu sampai di kamar, Julian langsung berbaring dan memeluk istrinya dari belakang hingga sang istri terkejut.
"Mas Jul!" pekik Namira. Wanita yang sedang asyik nonton drama korea itu jelas terkejut karena Julian memeluknya tiba tiba dan mengecup leher bagian belakang dan pundaknya berkali kali. "Mas Jul kenapa?"
"Nggak kenapa kenapa, Sayang. Mas lagi pengin aja?" jawab Julian dengan manja.
"Pengin ngapain?" tanya Namira dengan wajah terlihat masih terkejut meski dia tahu apa maksud perkataan suaminya.
"Pengin makan kamu karena sedari kemarin kamu diemin suamimu."
__ADS_1
"Bukankah kemarin sudah dapat jatah?"
Julian menghentikan aksinya sejenak dan menatap sang istri dari samping dengan kening berkerut. "Kapan? Orang kalian kemarin pada pergi sampai nggak pamit dan ninggalin ponsel di rumah. Kalian sengaja yah berbuat seperti itu?"
"Iya, ya itukan atas permintaan Mas Jul juga. Daripada pegang ponsel terus gangguin Mas jul dan kita kena marah. Mending pergi nggak bawa ponsel biar Mas Jul bebas ngapain aja sama wanita lain."
"Jangan gitu dong, Dek. Mas Tahu mas salah banget kemarin. Nggak seharusnya Mas langsung marah marah gitu tanpa memberi kalian kesempatan untuk ngomong."
"Tapi dari marahnya Mas Jul, kami jadi tahu kalau Mas Jul itu keganggu. Wajar sih, orang sedang sama cewek cantik dan seksi. Semua pria juga nggak ingin ada yang mengganggu kalau dalam posisi seperti Mas Jul."
"Kemarin Mas Jul lagi ngapain sama wanita itu saat menerima telfon dari Safira? Lagi enak enak ya? Sampai Mas Jul marah banget karena keganggu?"
"Ya ampun, ya nggak ngapa ngapain lah, Dek. Orang lagi ngobrol biasa. Itu aja aku belum lama nyampe pas kalian telefon."
__ADS_1
"Tapi kan pasti terjadi apa apa sama kalian? Buktinya Mas Jul langsung marah saat mengangkat telefon kami. Bisa saja kan setelah menerima telfon kita, Mas Jul kembali ngobrol sama wanita itu dan terjadi sesuatu."
"Astaga, Dek. Kok mikirnya gitu banget sih? Kami nggak melakukan apa apa, sumpah!"
"Tapi kenapa Mas Jul jemput kita pas udah petang. Terus dari siang sampai sore Mas Jul ngapain aja dengan wanita itu? Ingat, Mas Jul berangkat sekitar pukul sembilan lebih, terus jemput Safira jam empat sore. Nah, dari jam sepuluh pagi sampai jam tiga sore Mas Jul ngapain aja sama wanita itu?"
Julian terkesiap mendengarnya. Dia tidak menyangka istrinya sampai sedetail itu pemikirannya. Benar benar seperti seorang detektif. Bahkan jeda waktu saja sampai diperhitungkan. Julian langsung saja menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya setelah menerima telfon dari sang istri. "Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya orang orang yang kemarin lihat Mas sudah ada di rumah pas siang hari. Sumpah, Mas nggak melakukan apa apa. Bukan seperti yang kalian pikirkan."
"Ya wajarkan, Mas, kalau kami mikirnya yang nggak nggak. Sekarang aku tanya, Apa yang Mas Jul pikirkan sebelum mengangkat telfon kemarin? Pasti Mas Jul mikirnya yang nggak nggak juga, bukan?"
Julian mendadak terdiam. Dirinya dilema mau memberi jawaban yang bagaimana. Mau berdebat seperti apapun, Julian akan selalu salah nantinya. Saat ini saja, dia sudah sangat kelimpungan menjawab cercaaan pertanyaan dari satu istrinya. "Maaf," cicit Julian. Pada akhirnya cuma itu yang bisa dia ucapkan.
Namira menghembus nafasnya secara pelan. Ada rasa tak tega melihat suaminya merasa bersalah seperti ini. Dia pun terdiam dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Hatinya merasa sedikit puas karena bisa meluapkan amarahnya yang dia pendam sejak kemarin.
__ADS_1
"Mas Jul itu sudah punya istri, seharursnya Mas Jul hargai perasaan istri Mas Jul juga," ucap Namira setelah diam beberapa saat. "Harusnya Mas Jul ngerti kalau istri Mas Jul itu cemburu. Mana ada istri yang rela membiarkan suaminya ketemuan sama wanita lain. Tapi hanya karena tergiur bisnis, Mas Jul bahkan terang terangan kalau kami nggak boleh ikut. Mas Jul lebih bisa menjaga perasaan wanita lain daripada perasaan istri sendiri. Mas Jul seakan tidak ada beban saat berangkat menemui wanita itu. Mas Jul tahu perasaan kami kemarin? Sakit, Mas."
Deg!