
Pagi harinya ditempat lain. Tepatnya di kediaman Rastam, pria tersebut nampak sedang termenung di depan teras rumahnya. Pria paruh baya itu sedang mencari jalan keluar untuk menghadapi masasalah yang menimpa dirinya.
"Apa yang harus Bapak lakukan ya, Bu?"
"Gini aja deh, Pak. Bagaimana kalau nanti Bapak minta maaf aja. Nggak apa apa Bapak malu. Kan itu hanya sebentar. Yang penting Bapak bisa mengambil hati ayahnya Julian. Setelah itu, baru deh, kita mendekati keluarga Julian untuk menjodohkan Mirna sama Julian. Gimana, Pak?"
Kening Rastam sontak mengernyit dan memikirkan usulan istrinya.
Di saat yang sama, tapi di tempat yang berbeda, anak Pak Rastam justru sedang membuat kehebohan di komplek perumahannya.
"Mas, itu di luar siapa? Kok teriak teriak gitu?"
"Orang gila."
"Mas Jul, serius? Itu siapa? Kok kayak menghina Mas Jul gitu?"
Julian menghempas kasar nafasnya. Dibalasnya tatapan para istri yang sedang menuntut jawaban dari pertanyaan mereka. Julian yang awalnya enggan bercerita, mau tidak mau dia menceritakan segalanya yang terjadi di teras depan.
"Astaga! Kok nggak tahu diri banget jadi orang. Mas Jul nggak lawan?"
"Percuma orang kayak gitu dilawan, nggak bakalan ada selesainya."
"Benar juga. Heran deh aku tuh, sama orang orang kayak gitu. Dia yang salah, malah dia yang merasa tersakiti."
__ADS_1
Julian hanya tersenyum masam. Di saat dia dan ketiga istrinya akan memulai menikmati sarapannya, tiba tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Salah satu istri Julian lantas bangkit untuk membukakan pintu. Ternyata yang memencet bel rumah adalah Pak Rt. Disana ada juga beberapa warga yang sudah berkumpul termasuk Samsul yang tersenyum sinis penuh kemenangan.
Setelah pak Rt mengatakan maksud dan tujuannya, Istri Julian yang bernama Safira kembali masuk memanggil suaminya. Julian berdecih kesal. Mau tidak mau dia menunda acara sarapannya dan memilih keluar rumah menemui Pak Rt dan para warga. Ketiga istri Julian turut serta dalam pertemuan mendadak itu.
"Ada apa, Pak Rt?" tanya Julian sopan begitu dia keluar rumah dan mempersilakan Rt di kompleknya untuk duduk di teras.
"Gini, Jul ..." Pak Rt lantas menceritakan apa yang dikatakan Samsul ketika Pak Rt menyuruhnya agar tenang. "Apa bener? Kamu ngomong dan bertingkah seperti itu?"
"Pasti bener lah, Pak. Kalau nggak benar, ngapain aku marah marah kayak gini," Samsul yang membalas dengan penuh rasa amarah.
"Kamu diam dulu, Sul. Biarkan Julian menjelaskan semuanya!" hardik Pak Rt hingga Samsul terdiam. "Katakan, Jul. Gimana cerita awalnya?"
"Gina Pak," Julian lantas menceritakan kejadian dari sejak Samsul datang hingga hingga Julian meninggalkannya. Beberapa kali Samsul berusaha menyangkalnya tapi sayang, ucapannya selalu dapat dibantah oleh Julian.
"Owalah, ya wajarlah kalau Julian bersikap kayak gitu! Orang tamunya aja nggak tahu diri," celetuk salah satu warga.
"Bohong semua itu! Masa kalian yang lebih tua dari Julian, mau maunya percaya sama anak kecil itu?" Samsul masih terus membela diri dan mengelak dari perbuatannya.
"Terus tujuan kamu nyuruh Julian nikah lagi itu untuk apa, Sul?" tanya Pak Rt.
"Siapa juga yang nyuruh Julian untuk nikah lagi!" Samsul malah mengelak. Tentu saja dia tidak berani mengakui perbuatannya.
"Hmm, susah, Pak, kalau ngomong sama orang seperti itu," ucap Julian yang merasa jengah dengan sikap tetanggganya itu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, hah!" bentak Samsul lantang.
Di saat bersamaan, datanglah dua mobil mewah masuk ke area perumahan dan berhenti tepat di depan Rumah Julian. Semua yang melihat kedatangan mobil itu tentu saja sangat heran. Baru kali ini para warga melihat mobil yang harganya fantastis berada di depan mata mereka termasuk Samsul. Semua kembali dibuat tercengang begitu pengemudi mobil itu keluar dari mobil masing masing dan melangkah mendekat ke arah Julian dan para warga.
"Wuih ada bule!" celetuk salah satu warga.
"Hy, My Son. Ada apa ini? Kok pada kumpul di sini?" tanya salah satu pria bule. Tentu saja yang ada di sana melongo saat bule itu dengan fasih berbicara menggunakan bahasa negara ini.
"Nggak ada apa apa, Yah,"
Mendengar ucapan Julian, Pak Rt, Samsul dan yang lainnnya kembali dibuat tercengang. "Ayah! Dia ..."
"Oh iya, Pak Rt, kenalin. Ini Ayah saya, dia baru datang dari Italia dan itu Om John."
"Apa! Ayah kamu, Jul?"
"Iya, saya Alonso Darwin, ayah kandung Julian."
"Wahh!" para warga sontak heboh dan menatap tak percaya dengan apa yang baru mereka lihat. Mereka sangat kagum dengan penampilan ayahnya Julian dan Omnya yang nampak begitu gagah.
"Kalau anda orang Italia, apa anda yang akan membangun supermall di kampung ini?" tanya Pak Rt.
"Benar! Saya orangnya."
__ADS_1
"Wah!" Semua wajah terlihat semakin terkejut dan juga merasa kagum, tak terkecuali Samsul.
...@@@@@...