
Sementara itu, di depan sebuah rumah, di dekat area sekolah, terlihat Julian sedang termenung di dalam kamarnya. Setelah mendengar pembicaran ketiga istrinya, Julian jadi memikirkan semua yang dia dengar. Dia pun menatap wajahnya sendiri di depan kaca. Tampan, Julian memuji dirinya sendiri sambil cengengesan.
Namun itu tak lama. Pikiran Julian kembali berpusat pada semua yang dibicarakan ketiga istrinya tadi. Julian heran, apa karena wajahnya yang tampan menjadikan mereka ragu akan kesetiaan dirinya sebagai suami. Memang benar, pria yang suka gonta ganti pasangan selalu identik dengan wajah yang tampan, tapi tidak untuk Julian. Bagaimana bisa dia berganti pasangan dengan mudah, sedangkan dekat dengan wanita yang menyukai dirinya saja, Julian gemeteran.
Julian menghembus kasar nafasnya lalu dia bangkit dari duduknya dan berbalik menatap ranjang yang dia gunakan. Sepertinya Julian memilki sebuah ide. Julian pun mulai beraksi. Bahkan dia sempat mondar mandir keluar masuk kamar untuk mengambil beberapa alat.
"Kamu lagi ngapain, Jul?" tanya Bi Atikah dengan tatapan heran sembari menggandeng kedua tangan anaknya hendak menuju kamar mandi. Si kembar terlihat sangat belepotan akibat makan eskrim tadi.
"Ada deh," jawab Julian asal sembari membawa palu ke dalam kamar.
"Dih, main rahasia segala," cibir sang Bibi sembari meneruskan langkahnya ke kamar mandi.
Karena mendengar suara ketak ketok dari dalam kamar, obrolan yang sedang dilakukan para istri sontak terhenti karena merasa heran dan juga terusik dengan suara keras itu. Rasa penasaran, membuat ketiga istri Julian segera masuk menuju ke tempat sumber suara.
"Kamu lagi ngapain sih, Mas? Kok ranjangnya dirusak gitu?" tanya Safira begitu mereka sampai di tempat asal suara berisik itu. Dengan wajah terkejut dan tatapan penuh tanya, mereka menatap apa yang sedang dilakukan suami mereka.
"Ini, ngeluarin ranjang. Biar kamar kita lebih luas," jawab Julian sembari menatap ke arah istrinya sejenak.
"Emang Mas Jul mau, kita tidur berempat?" kini Kamila yang bertanya. Sudah pasti ketiga istri Julian itu heran mendengar jawaban suami mereka.
Julian langsung menatap ketiga istrinya. "Emang salah kalau kita tidur berempat?" ketiga istrinya langsung menggeleng. "Ya udah, nggak salah ini. Daripada banyak tanya, mending kalian bantuin."
Ketiga istrinya mengiyakan. Mereka membantu Julian dengan rasa penasaran yang tidak berani mereka ungkapkan. Jika mereka sadari, Julian melakulan hal seperti ini juga karena percakapan mereka tadi. Julian ingin membuktika kalau dirinya juga bisa melakukan inisiatif untuk kesembuhan dirinya.
"Ada yang mau ke pasar nggak? Beliin alas lantai?" ucap Julian.
__ADS_1
Kedua istrinya langsung diam dan saling pandang. Sedangkan istri satunya sedang keluar, ambil sapu dan tempat sampah. "Aku aja, sini," ucap Kamila dan Safira hampir bersamaan.
"Ya udah kalian berdua aja," balas Julian. "Kalian ambil uang tuh di jaket yang hijau sekalian kunci motornya di sana juga.
"Ambil duit berapa?"
"Ya terserah kalian. Kali aja kalian pengin beli sesuatu yang kalian inginkan."
Kamila dan Safira langsung tersenyum lebar. "Oke!" dengan semangat, mereka langsung melaksanakan perintah suaminya.
"Tanya Namira juga, kali aja dia pengin dibeliin sesuatu."
"Siap, Bos!"
Dua istri Julian langsung keluar kamar dan mereka hampir bertabrakan dengan Namira yang hendak masuk ke kamar.
"Mau ke pasar beli alas lantai," jawab Safira antusias. "Kamu mau dibeliin jajan apa nggak?"
Samain aja deh kayak kalian," balas Namira setalah tadi sempat berpikit sejenak.
"Oke!"
Kedua wanita itu segera saja keluar rumah sedangkan Namira masuk ke dalam kamar meneruskan membantu suaminya. Hingga tidak butuh waktu lama, kamar pun beres. Tinggal nenunggu alas lantai maka kamar sudah siap digunakan kembali.
"Mereka pasti bakalan lama kembalinya, apa aku telfon aja, Mas? Biar mereka cepat pulang?" usul Namira pada suaminya yang sama sama sedang duduk di atas kasur yang biasa digunakan untuk tidur tiga wanita.
__ADS_1
"Nggak usah, biarin aja. Mungkin mereka sekalian cuci mata," balas Julian.
Kening Namira berkerut sembari menatap suaminya. "Mas Julian udah nggak panik lagi?"
Julian terperangah sembari menyadari akan sikapnya yang lumayan tenang. "Nggak terlalu tuh. Kok bisa ya?"
Namira pun langsung tersenyum. "Berarti memang pikiran Mas Jul harus dialihkan agar nggak panik."
Julian pun ikut tersenyum. "Sepertinya begitu," Julian membenarkan ucapan istrinya. Sedari tadi pikirannya teralihkan karena membayangkan akan tidur bersama dengan tiga istrinya tanpa adanya ranjang.
"Dek."
"Hum? Apa, Mas?"
"Apa kamu mau membantuku?"
"Bantuin apa, Mas?"
"Ngetes aku masih gugup apa enggak."
"Caranya?"
"Bagaimana kalau kita perang bibir?"
"Waduh!"
__ADS_1
...@@@@@...