PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Tidak Memberi Celah


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Kamila sinis saat tahu siapa yang memencet Bel rumah.


"Juliannya ada? Aku datang pengin minta maaf dan bicara empat mata."


Kening Kamil sontak berkerut dengan tatapan curiga, "Minta maaf?" orang itu mengangguk sembari tersenyum sok imut. "Nggak ada, nggak ada, nggak ada! Enak aja minta maaf pakai ngajakin bicara empat mata."


Mendengar suara Kamila yang seperti sedang meluapkan amarah, dua istri Julian yang lain ikut bangkit dan menghampiri Kamila. Mereka tentu saja penasaran, siapa tamu yang datang sampai Kamila berteriak. Sedangkan Julian tetap berada di tempat yang sama meski dia juga penasaran dengan tamu yang datang.


"Lah, kirain siapa tamu yang datang, ternyata wanita yang nggak tahu malu," ejek Namira.


"Eh kalian, aku kesini niat baik loh ya? Nggak perlu kalian bersikap kayak gitu. Aku tuh ada perlu sama Julian, bukan sama Kalian!"


"Lah, nyolot. Kalau kami larang Julian, gimana? Kamu bisa apa? Hah!"


"Eh, Mir, kalau mau minta maaf tuh nggak cuma sama suami kita saja, tapi sama kita juga! Kita tuh satu paket, jadi nggak ada tuh minta maaf pake ngajakin bicara empat mata sama Julian!"


"Bicara empat mata? Enak aja! Ngapain ngajakin suami kita bicara empat mata? Nggak ada yang namanya bicara empat mata. Lagian mana calon suami kamu yang kamu banggakan? Katanya mau bikin suami kita malu dan menyerrtnya ke penjara?"


"Ah iya, mana suami kamu yang katanya orang paling kaya di kabupaten ini? Tunjukin dong? Dia nggak lagi nangis dipojokan bukan? Hahaha ..."


Merasa niatnya gagal karena serangan dari ketiga istri Julian, sang tamu yang bernama Mirna menjadi geram bukan main. Wanita itu segera saja pergi dengan menahan amarah karena tak bisa membela diri melawan ucapan para istri Julian.

__ADS_1


"Lah, kok pergi? Jadi minta maaf nggak!" seru Namira penuh dengan ledekan. Ketiga istri Julian sontak terbahak serentak sembari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Julian hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah tiga istrinya yang sangat bar bar. Dari teriakan istrinya tadi, Julian bisa menebak, siapa tamu yang datang.


"Kamu serius, Mil, Mirna ngajakin suami kita bicara empat mata?" tanya Safira begitu mereka kembali duduk di atas sofa.


"Ya seriuslah, apa kalian tadi nggak dengar?"


"Enggak. Makanya tadi aku kaget gitu. Maksudnya apa coba ngajakin Mas Jul bicara empat?"


"Lah, paling kembali ke mode awal. Pasti karena Mirna sudah tahu kalau Mas Jul sultan dan calon suaminya nyimpang jadi kembali ngejar Mas Jul lagi untuk dijadikan istri. Udah kebaca itu niat buruknya."


"Ah iya. Pantesan dia sok imut gitu. Dulu aja setelah kepergok, boro boro minta maaf, dia malah main fitnah seenaknya. Eh sekarang udah tahu fakta yang sebenarnya, mau deketin Mas Jul lagi. Nggak akan aku biarkan."


"Tuh Mas Jul, dengerin suara hati para istri. Sekarang Mas Jul sudah positif anak sultan. Awas aja kalau kalau Mas Jul punya niat mau nikah lagi."


"Nah kan ... pokoknya awas aja kalau Mas Jul sampai kegoda cewek lain. Aku bakalan sunat tuh isi celana Mas Jul."


"Hahhha ... kalian ini menggemaskan sekali," Julian malah tertawa lebar. "Emangnya suami kalian tampang pengkhianat atau gimana? Dah jangan mikir macam macam. Nggak baik buat hati kalau pikirannya buruk."


Ketiga istri Julian hanya mengembus nafasnya dengan kasar. Dalam hati mereka cukup lega mendengar jawaban suami mereka. Wajar jika para istri Julian merasa takut dengan keadaan suami mereka seperti ini. Mereka tidak akan pernah sanggup jika harus berbagi suami kembali dengan wanita lain.


Sementara itu, masih di hari yang sama tapi di kota lain.

__ADS_1


"Darimana kamu, Rey?" suara berat seorang pria paruh baya nampak menggelegar dan mengejutkan bagi pria muda yang baru pulang setelah berpergian. Tatapan pria paruh baya itu sangat tajam, menjadikan pria muda yang baru saja datang mematung dengan wajah takutnya.


"Dari rumah Lita, Pah," jawab Reynan sedikit berdusta. Dia tidak mungkin jujur pada orangtuanya setelah aibanya terbongkar kemarin. Meski nyataya setelah bertemu dengan Lehan, dia pergi ke rumah Lita untuk menjalankan rencanaya kepada Julian.


"Yakin ke rumah Lita? Nggak ketemuan sama Lehan diam diam?"


"Papah tanya aja sama Lita."


Mendengar anaknya terlihat jujur, ada rasa lega dalam diri Suryo. "Bersiap siaplah, kita akan pergi ke rumah Julian."


"Hah! Ke rumah Julian? Mau ngapain, Pah?"


"Kita harus minta maaf sama Julian, sekalian mengambil hati ayahnya?"


"Mengambil hati ayahnya? Emang Julian punya Ayah? Kata Om Rastam, dia nggak punya Ayah."


"Punya! Dia punya Ayah. Kamu tahu siapa Ayah Julian?"


"Siapa, Pah?"


"Alonso Darwin. Miliarder dari Italia yang akan membangun supermall yang Papah tangani."

__ADS_1


"Hah!"


...@@@@@...


__ADS_2