PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Tak Dapat Tidur


__ADS_3

Begitu selesai berbicara dengan istrinya, Julian kembali dibuat resah. Bahkan sampai malam menjelang menuju larut, Julian masih uring uringan akibat pemikirannya sendiri kepada pihak yang berwajib. Apa benar dia harus menyuap aparat agar urusannya dengan Reynan berjalan lancar? Julian terus memikirkan hal itu sampai kedua matanya enggan terpejam.


"Tidur, Mas, udah malam," suara salah satu istrinya menggema dan membuat julian teralihkan dari pikirannya. "Udah mau jam sebelas loh, Apa ada yang sedang dipikirkan?" ucap sang istri sembari beranjak menuju dapur guna mengambil air minum. Begitu tujuannya selesai, sang istri yang bernama Safira itu menghampiri Julian yang masih berada di tempatnya.


"Nggak bisa tidur, Dek. Nggak tahu kenapa," kilah Julian. "Kamila sama Namira mana?"


"Sudah tidur," balas Safira begitu pantatnya menempel di atas sofa. "Apa karena pembicaraan kita tadi, Mas Jul jadi kepikiran?"


Julian yang tadi sedang duduk, kini bergerak merebahkan badannya. "Salah satunya memang itu yang sedang Mas pikirkan, Dek."


"Ngapain dipikirin, Mas? Kan masih ada hari esok. Besok coba Mas Jul bicararakan lagi dengan Mas Ferdi dan Mas Budi. Nggak perlu dipikirkan banget kayak gitu."


Julian sontak cengengesan. "Tapi serius, Dek, Mas belum ngantuk. Kamu sendiri nggak ngantuk, Dek?"


"Loh, tadi kan aku udah tidur duluan, Mas. Jam sembilan aja aku udah masuk kamar. Aku bangun karena haus. Paling tidur lagi ntar sekitar tengah malam."


"Oh ..." Julian nampak manggut manggut. Di saat seperti itu, munculah sebuah ide. "Dek, mau nggak nina boboin, Mas?"


Kening Safra sontak berkerut, tapi tak lama setelahnya dia terkekeh. "Hahaha ... nina boboin gimana? Udah gede juga."


"Ya nggak apa apa, Mas kan pengin dimanja sama istri juga. Mau ya?"


"Ya udah ayo ke kamar, nanti aku Nina boboin," ucap Safira sembari bangkit hendak beranjak ke kamar utama.

__ADS_1


"Mau kemana, Dek?" tanya Julian dengan tatapan terkejut kepada istrinya.


"Loh, katanya mau di nina boboin. Ya kan kita kamar, Mas."


"Bukan kamar utama, Sayang, tapi kamar yang ini," tunjuk Julian pada salah kamar yang ada di rumah sebelah.


"Ya elah, kamar itu sih pasti Mas Jul pengin nyodok, iya kan?" Julian sontak cengengesan lalu dia bangkit dan menggandeng tangan istrinya menuju kamar yang dia tunjuk tadi.


Safira benar benar dibuat pasrah. Begitu sampai di ranjang, Julian mengajak sang istri rebahan. Tangannya aktif meraba bukit kembar sang istri dan mengeluakannya dari kain yang menjerat bukit kembar itu. Ketika bukit kembar sudah terpampang dihadapannya, julian langsung saja menyesap bukit kembar dengan sangat lahap satu persatu.


"Mas."


"Hum?"


Julian sontak terkekeh. "Ya abis enak sih, Dek. Mana mungkin Mas capek. Apa lagi Mas berharap, dari penyodokan tiapa hari, ada yang berhasil jadi anak. Kan usaha Mas jadi nggak sia sia kan, Sayang."


"Owalah, jadi itu tujuannya? Tapi nanti kalau kita datang bulan gimana?"


"Ya usaha teruslah, Dek. Sampai berhasil. Syukur kalian hamilnya barengan, pasti seru kali yah?"


"Hhaha .. bisa aja kamu, Mas. Ya berarti kalau sedang nyodok sembari berdoa, Mas."


"Pasti dong, Sayang."

__ADS_1


Safira kini terdiam setelah kata terakhir yang Julian ucapkan. Dia sudah tidak ada niat untuk meneruskan obrolan kembali. Hasratnya sudah mulai naik karena mulut dan tangan Julian sudah bergerilya ke bagian bagian tubuh yang lain.


Entah permainan itu selesai sampai jam berapa, yang pasti begitu penyodokan selesai, rasa kantuk mulai menyerangnya, Julian dan Safira bahkan terlelap tanpa mengenakan pakaiannya kembali. Hingga waktu terus bergulir dan pagi mulai menyapa, Julian langsung dibangunkan dari tidurnya.


"Mas bangun, udah subuh! Mas!"


Julian yang merasakan tubuhnya diguncang bersamaan dengan terdengarnya suara sang istri, membuat Julian mau tidak mau harus membuka matanya.


"Udah subuh, bangun."


"Iya, Sayang," jawab Julian dengan suara berat dan agak serak, khas orang yang bangun tidur.


Sang istri pergi begitu saja saat melihat suaminya terbangun. Sebelum turun ranjang, Julian bangkit dan merentangkan kedua tangannya serta melakukan gerakan kecil agar ototnya tidak tegang karena baru bangun tidur. Setelah merasa cukup, Julian baru langsung pergi keluar kamar.


"Ya ampun, Mas! Kenapa nggak pake celana dulu sih?" pekik Kamila tanpa dapat menyembunyikan rasa terkejutnya karena Julian keluar kamar tanpa mengunakan apapun untuk menutupi tubuh polosnya. Bukan hanya Kamila, dua istri Julian juga terkejut melihat tingkah suaminya.


"Percuma pakai celana, nanti juga dilepas lagi. Lagian kan kalian sudah sering melihat Mas tanpa busana, kenapa kalian malah kayak kaget gitu?"


"Tahu, ah. Udah sana ke kamar mandi, waktu subuh dah mau habis."


Julian hanya bisa cengengesan lalu dia segera ke kamar utama untuk mandi besar dan melaksanakan kewajibannya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2