PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Amarah dan Rasa Bersalah


__ADS_3

"Jul! Julian!" terdengar seseorang teriak teriak di depan rumah Julian.


"Ada apa, So?" Paman Seno yang menjawab setelah dia keluar menemui tetangganya itu.


"Itu, istri Julian sedang berkelahi di depan lapangan, Pak!"


"Apa!" pekik Paman Seno dan dia langsung berteriak hingga semua penghuni rumah pada keluar.


"Ada apa sih, Sen?" tanya Bu Sukma.


"Jul, susul istrimu, cepat! Dia lagi berkelahi di depan lapangan!"


"Apa!" Julian sontak saja terkejut begitu mendengar kabar dari tetangganya. Dia langsung saja bergegas keluar rumah menuju ke tempat kejadian.


Karena jarak lapangan sangat dekat dengan komplek rumah Julian, dia segera saja belari menuju ke arah lapangan. Benar saja, dari jauh Julian sudah melihat kerumunan orang orang di dekat lapangan.


Julian semakin terperangah, begitu dia mendekat, matanya menangkap salah satu istrinya sedang jongkok dengan pakaian penuh lumpur. Hatinya pun meradang. Dia segera saja mendekati para istrinya.


"Ada apa ini?" tanya Julian pada istrinya yang rambutnya acaak acakan.


"Tanya aja sama mereka!" tunjuk Kamila lantang pada wanita yang baru saja adu jambak dengannya. "Datang datang langsung menghina dan nyerang kita."


"Wajarlah kalau kita menghina kalian! Kalian kan memang pantas untuk dihina!" balas wanita yang menyerang istri Julian.

__ADS_1


"Siapa yang kamu anggap pantas untuk dihina? Hah! SIAPA!" Bentak Julian di depan muka wanita itu, hingga suaranya menggema dan membuat takut wanita yang menyerang istrinya.


"Me-mereka, karena mereka menjebakmu," jawab wanita itu tergagap.


"Terus apa hak mu menghakimi mereka? Apa!" bentak Julian dengan emosi yang sangat tinggi. "Aku nggak kenal kamu! Kamu bukan siapa siapa aku, jadi nggak ada hak untuk mengusik aku dan istri istriku. Nggak usah seperti wanita gatal yang suka mengganggu rumah tangga orang!"


Jleb!


Mata wanita itu langsung berkaca kaca, menatap tak percaya ke arah Julian yang telah menyebutnya sampah. "Apa? Wa-nita gatal?"


"Ya!" bentak Julian. "Kenapa? Nggak terima kamu dihina?"


"Sudah, Jul, sudah. Mending bawa istri istrimu balik. Nggak enak dilihat banyak orang," ucap seseorang yang kebetulan kenal Julian.


Ketiga istrinya mengangguk dan mereka langsung pulang. Julian kembali memandang wanita yang telah menyerang istrinya. "Mereka bukan wanita hina, justru mereka wanita mulia yang menolong saya. Kalau tidak tahu cerita yang sebenarnya, nggak usah asal nuduh!" ucap Julian penuh penekanan, lalu dia pergi ke warung bakso yang tempatnya memang sudah deket.


Hingga beberapa menit kemudian Julian pun kembali dengan menenteng kantung plastik berisi bakso yang diinginkan istrinya. Saat Julian hendak ke kamar, langkah kakinya terhenti saat mendengar ucapan Paman Seno.


"Apa keputusan Paman untuk menikahkan kalian itu salah ya, Jul?"


"Salah bagaimana, Paman?" tanya Julian menatap sang paman dengan kening yang berkerut.


"Aku pikir, dengan menikahkan kalian, hinaan tidak akan datang kepada istri istrimu. Tapi kenapa makin parah ya?" tanya Paman Seno heran.

__ADS_1


"Banyak yang tidak terima, aku menikah, Paman. Entahlah, apa maunya para cewek itu," jawaban Julian malah membuat keluarganya ternganga tak percaya.


"Tidak terima kamu menikah? Emangnya kenapa?" tanya Bu Sukma.


"Ya ampun Budhe, masa nggak tahu," Sifa yang baru pulang sekolah tiba tiba ikut bersuara. "Yang suka sama Mas Jul itu banyak banget, Budhe. Mungkin para cewek tidak terima Mas Jul nikah. Apalagi nikahnya dadakan dengan gosip yang menyudutkan kakak ipar."


Semua nampak terperangah dengan datangnya Sifa dan juga penjelasannya. Sifa juga tadi lihat perkelahian yang terjadi, tapi dia tidak bisa membantu karena sedang berada di dalam sekolahan. Sifa sendiri melihat perkelahian itu dari lantai dua kelasnya. Kebetulan sekolah Sifa memang letaknya di seberang jalan depan lapangan dan dekat sawah dimana tadi Safira tercebur.


Julian memilih meninggalkan keluarganya untuk menemui ketiga istriya. Sebelum masuk kamar, Julian melangkah ke arah dapur mengambil mangkok untuk makan bakso yang dia beli.


"Kalian tidak apa apa?" tanya Julian begitu masuk ke dalam kamar dan dalam keadaan hening. Dia melihat Safira yang sudah mandi dan ganti pakaian.


Bagaimana bisa kami baik baik saja kalau kami habis dihina di depan orang banyak," jawab Kamila.


Julian menatap istrinya yang sepertinya habis pada menangis. "Semua ini gara gara aku. Mungkin jika aku tahu kebenarannya sejak awal, aku tidak menghina kalian dia depan orang lain," ucap Julian lirih. Bahkan kepalanya menunduk.


Ketiga istri Julian mendongak, menatap suami mereka dengan penuh tanda tanya. "Apa maksudmu, Mas Jul? Kebenaran?"


Julian mengangguk lemah. "Kebenaran tentang Reynan. Aku baru mengetahuinya tadi saat ada tamu di rumah."


"Oh, syukurlah kalau kamu sudah tahu kebenarannya," ucap Kamila agak lega. "Lalu apa yang akan kamu lakukan, Mas Jul? Apa kamu akan menceraikan kami setelah mengetahui kebenarannya?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2