
"Ada apa ini? Kok kamu teriak teriak?" tanya Ibu mertua.
"Ada apa,Jul?" tanya Bapak yang nampak heran.
"Ini suami Namira kurang ajar Bude. Dia merayu aku agar mau jadi istri ke empatnya."
"Apa!"
Ketiga orang yang ada disana ternganga mendengar tuduhan yang Vita lontarkan. Yang lebih terkejut tentu saja Julian. Dia tidak menyangka kalau dia akan difitnah seperti itu. Julian mengedarkan pandangannya tertuju ke arah mertuanya dan menggeleng sebagai tanda kalau itu tidak benar.
"Ngaku aja deh, nggak usah ngeles!" desak Vita dengan wajah terlihat begitu emosi. Padahal dihatinya dia bersorak, Vita berpikir dengan cara seperti itu, dia bisa memberi pelajaran pada Julian karena telah menghinanya.
Bapak mertua mendekat ke arah sang ponakan dan tanganya bergerak. Vita langsung memasang wajah sedih. Vita yakin kalau Pakdenya akan membelanya, tapi dia terkejut saat tangan Pakde justru menoyor kepala Vita dengan keras.
"Pakde! Kok Pakde malah noyor kepalaku?" pekik Vita nampak terkejut.
"Kenapa kamu jadi tukang fitnah?" tanya Bapak mertua lantang. "Kamu pikir Pakde nggak denger apa, kamu yang nawarin diri jadi istri ke empat!"
Mata Vita sontak membelalak. Dia langsung mencari cara untuk membela diri. "Bukan seperti Pakde, Vita hanya ..."
"Wajar kalau Julian nganggap kamu cewek murah meriah. Orang udah punya istri main paksa aja!" hardik Bapak mertua.
__ADS_1
"Ya ampun, Vita! Kamu ... ya Tuhan," Ibu mertua terlihat syok. Dia bahkan sampai tak bisa berkata kata mendengar kelakuan ponakannya.
"Panggil Munaroh kesini, Bu. Biar Bapak sidang sekalian!"
Ibu mertua langsung keluar rumah memanggil adik iparnya, sedangkan Vita malah tertunduk malu karena rencananya gagal. Julian sendiri merasa lega hatinya. Dia tidak menyangka kalau Bapak mertua ternnyata mendengar semuanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Munaroh, Bibinya Namira. Wajahnya terlihat bingung. Anaknya menunduk, Kakanya emosi sedangkan suami dari keponakannya hanya terdiam dan memasang wajah datar.
"Apa yang kamu ajarkan pada Vita? Hah! Bisa bisanya dia menawarkan diri pada suami Namira untuk dijadikan istri ke empat? Apa Vita sudah tidak punya harga diri!" teriak Bapak mertua sembari berkacak pingang. Si Bibi terkesiap mendengarnya lalu dia menatap anaknya yang menunduk.
"Pasti ini ada sangkut pautnya sama kamu ya, Mun?" Ibu mertua pun tak tahan untuk mengeluarkan suaranya. "Tadi pake menghina menantuku segala, giliran tahu kalau dia banyak uang, maka kamu langsung Iri sama Namira."
"Ya kan kali aja Julian mau? Toh anak aku juga lebih cantik dari Namira. Bukankah lebih baik jujur, daripada mendapatkan suami dengan cara memperkosanya?" Si bibi tak mau kalah.
"Kamu mau membela istrimu? Orang kamu sendiri yang bilang dia mempetkosa kamu," ejek Si Bibi. Wajahnya sangat terihat meremehkan.
"Awalnya memang saya menuduh Namira seperti itu, tapi sekarang saya sudah punya bukti kalau Namira dan istri saya yang lain juga dijebak karena memergoki tersangka utama yang mau memerkosa saya," jawab Julian dengan tenang.
"Beneran, Jul. Kamu punya bukti?" tanya Ibu mertua.
"Benar, Bu. Nanti setelah semua urusan rumah selesai, aku akan menangkapnya, Bu."
__ADS_1
"Baguslah, biar nama anakku bersih," ucap Bu mertua penuh rasa syukur.
"Percuma bersih, paling kalau pelakunya udah ketangkap, Namira bakalan dicerai," cibir sang Bibir.
"Tidak, siapa bilang?" bantah Julian. "Apapun yang terjadi kedepannya, aku nggak akan menceraikan ketiga istriku. Tapi aku juga tidak akan nambah istri lagi."
"Tuh dengar, Vita!" seru Bapak mertua. "Julian tidak akan nambah istri lagi. Jadi perempuan kok kaya nggak ada harga dirinya banget!"
Dengan segala perasaan kesal dan malu, Vita langsung pergi meninggalkan semua orang yang ada disana. Tak lama setelah Vita pergi, si bibi pun ikut meninggalkan tempat itu. Semua mata yang ada disana hanya menatap heran kepergian dua orang itu. Hingga beberapa lama kemudian Bapak mertua kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Bu mertua mengajak Julian berbincang bincang.
Hingga waktu terus melaju, malam pun kini menyapa. Terdengar suara tawa menggema dari dalam rumah Namira. Juliaan saat ini sedang berbincang sembari menyantap makan malam bersama keluarga sang istri.
"Wah! Ponsel tante Nami bagus banget. Baru ya?" tanya Adit anak dari kakaknya Namira.
"Iya, Sayang. Makanya ponsel tante yang lama buat Adit tuh," balas Namira sumringah.
"Gitu lah, Jul, si Namira. Apa apa selalu untuk Adit," celetuk Ibu mertua.
"Ya nggak apa apa, Bu. Mumpung Namira belum punya anak," si kakak yang menjawab. "Mungkin sebentar lagi Namira juga bakalan punya anak. Ya Nam ya?"
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...