
"Astaga! Ya nggak lah. Bukankah wajar setiap orang tua yang anaknya menikah pasti ingin memiliki cucu?"
"Iya sih, wajar. Tapi ..." Safira menggantung ucapannya.
"Tapi apa?"
"Emang Mas Julian mampu bikin anak?" tanya Safira sembari senyum senyum.
"Kamu nantangin apa gimana?" balas Julian yang sempat terperangah mendengar pertanyaan istrinya. Tapi tak lama setelah itu dia langsung cengengesan. "Harusnya semalam aku buktikan sekalian."
"Dihh! Kayak yang berani aja. Semalam aja ampe keringatan waktu ciuman," ejek Safira.
"Hahahha ... sial."
"Bibir aku sampe lecet nih, Mas."
"Hehehe ... maaf."
Sepanjang perjalanan, senyum selalu terpati pada pasangan suami istri tersebut. Berhubung saat pulang, motor yang dikendarai Julian melewati komplek perumahan barunya, Julian membelokan laju motornya masuk ke area perumahan tersebut.
"Kamu telfon Safira dan Namira ya? Suruh kesini kalau mereka lagi nggak sibuk," titah Julian. Sekarang dia sedikit bisa bersikap santai kepada istrinya.
"Sama istri kok ngomongnya gitu banget, Jul. Nggak ada romantis romantisnya," cibir Mas Bari yang kebetulan memang sudah ada disana. "Mbok ya, sama istri panggilnya sayang, Dek, apa mamah gitu."
__ADS_1
"Hehehe ..." Julian hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan sekilas melirik Safira yang sedang menatapnya sembari tersenyum. Dia sendiri bingung mau panggil apa sama istrinya. Sudah dua orang yang mengrkitik sikap Julian itu. Julian langsung masuk. Ke rumah yang sedang di renovasi, sedangkan Safira menuju ke rumah satunya, melihat barang barang yang di beli kemarin.
"Kok kalian langsung kesini? Nggak pulang ke rumah dulu?" tanya Kamila beberapa menit kemudian setelah dia dan Namira datang ke rumah baru mereka.
"Tadi pulangnya lewat situ, jadi sekalian aja mampir," balas Safira. Saat ini ketiganya memilih rebahan di ranjang baru dalam salah satu kamar.
"Gimana? Ada kemajuan apa pada suami kita saat ini?" tanya Narima langsung ke intinya tanpa basa basi. Safira melirik dua istri Julian sambil cengengesan, terus dia langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Loh, kok malah ditutupin?"
"Wahh! Pasti terjadi sesuatu nih?" terka Kamila. "Ceritakan weh! Kalau nggak aku kitikin pinggang kamu!"
"Hahha ... iya iya," Safira menyerah. Dia membuka tangan yang menutupi wajahnya dan menormalkan rasa gugup dalam dadanya. Setelah keadaan membaik, Safira lantas menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan sang suami secara detail.
"Hah! Serius?" pekik Namira. Dia dan Kamila tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Seriuslah, bibir aku aja sampai lecet sedikit ini. Julian ganas banget semalam," balas Safira sembari menunjuk salah satu sisi bibirnya yang lecet.
"Dih! Kayak yang pengalaman aja," cibir Namira. "Jangan jangan kamu udah sering ya?"
"Hahaha ... sialan," maki Kamila. "Pernah, tapi nggak sering. Lagian itu kan alamiah."
"Iya sih. Ya udah nanti kamu juga coba, Mil."
"Beres!"
__ADS_1
Kamila turun dari ranjang dan keluar kamar menuju kamar mandi. Sedangkan di rumah sebelah Julian sedang mengawasi pembangunan kamar mandi yang dia pesan. Saat ini para tukang sedang membuat saluran pembuangan air.
"Ini kira kira jadinya berapa hari Mas?"
"Kurang lebih dua minggu, Jul. Itu aja udah dalam," jawab si tukang. Dia manggut manggut. Setelah puas melihat lihat, Julian keluar hendak ke rumah satunya dimana para istrinya berada. Namun saat kakinya baru beberapa langkah menginjak halaman depan, sebuh suara menghentikan langkah kakinya dan dia menoleh ke arah sumber suara itu.
"Hai,Jul. Kok baru kelihatan?" sapa orang itu.
"Ada apa, Mir?" tanya Julian langsung bersikap dingin.
"Nih, aku bawain udang saus padang," balas orang bernama Mirna itu sembari tersenyum manis dan centil.
"Aku nggak doyan udang," jawab Julian datar dan dia segera saja langsung berbalik badan hendak melanjutkan langkah kakinya namun tangannya malah ditahan oleh Mirna. Julian sontak kaget dan menghempaskan tangan wanita itu dengan keras dan membentaknya. "Apa apaan sih kamu pegang pegang!"
"Sorry, Jul nggak sengaja. Aku tuh cuma pengin ngomong sama kamu," balas Mirna yang tadi sempat kaget saat Julian menghempas tangannya.
"Ngomong apaan?" tanya Julian ketus sembari mundur beberapa langkah menjauhi Mirna.
"Aku tuh suka sama kamu, Jul. Suka banget. Udah lama aku suka sama kamu."
Kening Julian berkerut. Sepertinya dia terkejut mendengar pengakuan wanita itu. "Kamu gila? Sejak kapan kamu menyukai pria miskin? Sorry, aku sudah punya istri. Nggak ada waktu buat cewek lain."
"Tapi kamu nggak cinta sama istri kamu kan?"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...