PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Hobby Terbaru Dari Julian


__ADS_3

Hubungan ranjang memang alat penyelesaian masalah yang paling mudah bagi pasangan suami istri. Bahkan sang istri yang tadinya marah dan ngambek, langsung nurut begitu saja saat sudah mendapat jatah hubungan ranjang dari suaminya. Suasana hati sang istri langsung membaik begitu hubungan ranjang di mulai.


Seperti yang terjadi malam ini dengan Safira. Dia bahkan dengan senangnya menuruti permintaan sang suami yang memberi perintah agar sang istri mau menikmati miliknya pakai mulut. Meskipun awalnya jijik dan menolak, tapi bujukan dan rayuan suami tampannya membuat wanita itu pasrah dan mau menuruti permintaan sang suami. Safira semakin semangat melahap benda menegang milik suaminya saat sang suami merasakan kenikmatan akibat permainan mulutnya.


"Kamila dan Namira, juga melakukan ini apa, Mas?" tanya Safira di sela sela menikmati batang sang suami.


"Iya, Sayang. Tapi itu aku yang minta loh, karena aku mulai menyukainya," ucap Julian mengatakan yang sebenarnya. Takut Safira salah paham terus ngambek lagi. "Awalnya sih penasaran rasanya gimana, tapi aku sekarang malah ketagihan. Makanya aku ingin kalian tidak keberatan jika aku menyuruh kalian menikmati punyaku dengan mulut ya, Sayang."


Safira hanya tersenyum. Merasa cukup puas memainkan batang sang suami, Safira merebahkan tubuhnya dengan posisi kaki membentang dihadapan sang suami. Julian sontak tersenyum, dia tahu apa yang diinginkan istrinya saat ini. Julian pun segera bergerak dan bersiap diri memasuki lubang istrinya.


"Akhh!" rintihan kenikmatan mencuat saat Safira merasakan lubangnya perlahan dimasuki benda milik suaminya. Rintihan kenikmatan itu terus menggema hingga semua batang Julian berhasil masuk dan mulai menyodak lubang Safira bertubi tubi.


Entah sampai pukul berapa permainan mereka selesai malam itu, tapi yang pasti dipagi harinya Safira merasa malu dengan dua istri Julian yang lain. Apa lagi keduanya kompak saling meledek saat mereka sedang kerja sama membuat sarapan di dapur, membuat Safira semakin salah tingkah.


"Mas Jul, biar nggak ada yang ngambek lagi, mending Mas Jul bikin jadwal agar kita bisa mendapat jatah isi celana yang adil. Biar nggak ada yang ngambek lagi," ucap Kamila saat mereka sedang menikmati sarapan bersama.


"Aku juga sudah memikirkannya. Nanti aku atur deh. Tapi kalau sewaktu waktu aku sedang pengin tapi bukan pada jadwalnya, kalian harap maklum ya. Bukannya aku pilih kasih, kalau aku sedang tiba tiba pengin dan ingin langsung melakukannya, aku harap kalian mengerti," ucap Julian mengantisipasi.

__ADS_1


"Ya harus dong. Kita harus saling mengerti. Biar bagaimanapun kita hanya manusia biasa yang hasratnya bisa datang kapan saja," ucap Namira.


"Iya, iya, semua ini pasti gara gara aku," ucap Safira agak merasa tak enak hati.


"Ya bukan karena kamu, Sayang. Aku memang sudah memikirkannya sebelum acara syukuran di mulai. Cuma baru kali ini aja bisa ngomong," bantah Julian. "Oh iya, kalian kok tidak pernah minta jatah uang sama aku? Apa kalian nggak butuh uang?"


Ketiga istri Julian langsung mengerutkan keningnya dan langsung saling pandang. "Bukankah uang yang ada di dalam lemari itu jatah kami, Mas?"


Kini Julian yang nampak terkejut. "Bukan. Itu kan hanya uang jajan dan untuk memenuhi keperluan kalian sehari hari."


"Ya ampun, Mas. Kirain itu jatah buat kami. Habis tiap hari uangnya ada dan selalu nambah," ucap Namira.


"Emang yang ada di black card uangnya ada berapa sih, Mas? Banyak banget apa?" Safira pun ikut bertanya.


"Ya mungkin memang benar nggak ada habisnya. Tapi kan aku bingung pakainya gimana. Orang disini kan bayarnya pakai uang langsung. Nggak mungkin beli bakso bayarnya pake kartu itu."


"Hahhaa ... benar juga. Tapi uang yang di lemari kan banyak? Mas Jul dapat dari mana?"

__ADS_1


"Ya ambil uang tabunganku, Sayang. Orang uang di rekeningku juga dua minggu terakhir ini nambah banyak. Heran aku."


"Sekaya apa yah ayah mertua kita? Kok bisa seenak gitu loh ngirim uangnya. Kita aja nyari uang lima puluh ribu sehari susahnya minta ampun."


"Kalau seandainya ayah mertua datang, Mas Jul sudah siap untuk ketemu?"


Julian terdiam, wajahnya terlihat langsung gusar. Meski makanannya telah habis. Dia masih duduk bersama ketiga istrinya yang kalau sarapan agak lama.


"Sepertinya Ayah tidak akan mau menemui aku dan Ibu. Mungkin dia sudah punya keluarga baru. Dia ngirim uang banyak mungkin hanya sebagai tanggung jawab karena ayah sudah menelantarkan aku bertahun tahun."


Mendengar ucapan Julian yang terdengar pilu, membuat ketiga istrinya juga merasakan pedih yang sama.


"Jangan berpikiran buruk seperti itu Mas Jul. Bisa saja apa yang terajadi pada ayah mertua tidak seperti yang Mas Jul pikirkan."


"Benar, Mas Jul. Mungkin saja ayah mertua juga mencari Mas Jul dan ibu selama ini. Kalau tidak, mana mungkin tiba tiba dia ngirim uang dan sebagainya."


Julian hanya terdiam.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2