
Sejak mengenal nikmatnya hubungan halal, kini hidup Julian nampak lebih berwarna lagi. Cara berpikirnya yang awalnya lurus tanpa ada tikungan, sekarang bisa sedikit lebih nakal seperti layaknya pria pada umumnya. Di dalam pikirannya, cara mengatur jadwal hubungan ranjang dengan istrinya, menjadi salah satu hal yang paling utama dia pikirkan.
Memiliki tiga istri nyatanya memang harus bisa belajar bersikap adil. Selain nafkah berbentuk materi, nafkah tak kasat mata juga harus Julian perhatikan. Salah satunya adalah nafkah batin. Sejak malam pertama terjadi, Julian jadi harus mengatur dan mencari cara supaya bisa melakukan hubungan suami istri dengan lancar.
Saat ini Julian dan ketiga istrinya sedang mempersiapkan segala hal untuk menempati rumah baru mereka. Kebetulan rumah yang direnovasi sudah selesai, sekarang tinggal pelaksanaan acara syukuran untuk penempatan rumah baru dan juga syukuran atas kesembuhan Julian dari kelainan yang selama ini mendera jiwanya jika berdekatan dengan wanita yang meyukainya.
Berita kesembuhan Julian tentu saja membuat tiga sahabatnya terkejut. Berita Julian memiliki dua rumah saja sudah cukup mengejutkan, ditambah lagi berita tentang Julian yang tidak panik lagi terhadap wanita, menjadi kabar yang paling menyenangkan bagi sahabat Julian.
"Gila kau, Jul! Diam diam ternyata kamu keturunan sultan? Keren!" puji Ucup. Saat ini tiga sahabat Julian memang sedang bertandang ke rumah baru milik Julian.
"Keturunan sultan apaan. Biasa aja kali," balas Julian merendahkan diri. Dia tidak ingin terlihat sombong di depan sahabatnya.
"Kenapa kamu nggak bangun rumah yang lebih gede aja sih, Jul? Daripada beli disini?" tanya Adi.
"Orang aku aja nggak tahu udah beliin rumah ini. Kan tadi aku ngomong, aku dapat rumah ini pas nikah. Kalau di angsur sih mungkin masih bisa dibatalin, tapi sudah dibayar kontan ya gimana lagi," jawab Julian sembari menyesap kopinya.
__ADS_1
"Berarti ini udah pasti dari ayah kamu, Jul?" tanya Faiz.
"Kemungkinan besar sih iya. Kalau bukan dia ya siapa lagi."
"Nggak nyangka ya, Jul. Aku punya teman anak sultan. Aku kaget loh mendengarnya. Aku pikir ini bohongan, eh waktu tanya Faiz sama Adi, ternyata beneran."
"Hahaha ... sama, aku juga awalnya nggak percaya waktu Sifa cerita, eh Bibi Atikah juga cerita. Ya udah berarti berita itu benar."
"Eh, Jul. Terus bagaimana ceritanya kamu bisa sembuh dari rasa panik kamu itu terhadap wanita?"
Julian menghembus nafasnya secara kasar, lalu menyesap kopinya sedikit dan menatap ketiga temannya. Sebenarnya Julian enggan bercerita tentang hal ini. Bagi Julian cukup dirinya dan keluarga saja yang tahu. Tapi berhubung sahabatnya sudah pada tahu, mau tak mau Julian menceritakan perjalanannya sampai dia bisa sembuh.
"Nggak tahu juga sih. Soalnya sejak tahu aku sembuh, belum ada cewek yang deketin aku."
"Terus kamu akan tetap menjalankan pernikahan dengan tiga istrimu, Jul?"
__ADS_1
"Iya lah. Bagaimanapun juga mereka berjasa dalam penyembuhanku."
"Lagian pertanyaanmu aneh aneh aja, Di. Julian mana mau melepas salah satu dari mereka. Udah cantik, tiap malam Julian bisa bercocok tanam dengan tiga lahan sekaligus, mana mau Julian lepasin mereka," celetuk Ucap.
"Hahaha ... benar. Apa lagi kamu udah sembuh dari paniknya. Pasti kamu ganas banget ya, Jul," sambung Faiz. "Berarti kamu tiap malam main tiga lawan satu ya, Jul?"
"Apaaan sih kalian. Gitu aja pake ditanyakan segala," sungut Julian. Sedangkan ketiga sahabatnya malah semakin terbahak dan semakin gencar meledek Julian.
Berita tentang Julian yang memiliki rumah baru, tentu saja cukup menggemparkan. Berbagai spekulasi mulai bermunculan. Dari pemikiran yang baik, hingga pemikiran yang buruk, menjadi perpaduan yang pas saat sebuah berita menyebar. Berita itu juga cukup mengusik telinga pria tua yang selalu merasa paling kaya di kampungnya.
"Kalau bukan karena pesugihan, nggak mungkin seorang penjual batagor punya dua rumah di komplek yang kebanyakan isinya orang kaya. Julian pasti pake pesugihan itu."
"Entahlah, Pak, mau pakai pesugihan atau apa, tapi Bapak harus kasih dia pelajaran yang berharga dong, Pak. Soalnya dia itu udah menghina aku habis habisan."
"Menghina bagaimana lagi, Mir? Bapak kemarin udah ngasih dia peringatan loh. Apa dia berulah lagi?" Orang tua dari Mirna itu nampak begitu geram mendengar aduan dari anak bungsunya. Bagi pria bernama Rastam, selama ini tidak ada yang berani mengusik keluarganya. Tapi mendengar pengakuan anaknya, tentu saja sebagai Bapak, dia akan marah dan akan menindak tegas siapapun orang itu. Tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu, Rastam akan menindak pemuda beristri tiga itu.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, Mir. Nanti saat kamu sudah menikah dengan anak temeh Bapak, tunjukkan pada Julian, siapa yang lebih berkuasa!"
...@@@@@@...