PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Di Saat Julian Tidur Siang


__ADS_3

"Sekarang kalian boleh bahagia. Tapi nanti jika aku jadi istri ke empat Julian, akan aku tendang kalian satu persatu dari hidup Julian. Lihat aja!"


"Kamu lihat apaan, Mir?"


Wanita yang sedang menatap ke arah jendela pun menoleh ke sumber suara yang baru saja melempar pertanyaan. Wanita bernama Mirna lantas tersenyum dan kembali melihat ke arah jendela. "Tuh! Lihat orang kaya baru, makin enek aja lihat tingkah ketiganya, Mbak."


Wanita yang tadi melempar pertanyaanpun ikut melihat ke arah yang sama dengan adik iparnya. "Kalau enek ya kamu harus gerak cepat. Biasanya kamu paling gesit ngeluluhin laki orang," ucap sang kakak ipar yang akrab di panggil Widia itu terdengar memprovokasi.


Mirna tersenyum miring lalu duduk di kursi yang ada di hadapannya. "Masalah itu sih gampang, Mbak. Cuma kan masalah waktunya itu loh. Istri istri Julian kok ya ngikutin Julian terus. Kayak nggak ada kerjaan lain."


"Hahaha ..." Widia malah tergelak. "Kalau Julian yang nggak ada waktu, kan kamu bisa menciptakan waktu agar Julian bisa berduaan sama kamu. Gimana sih?"


"Benar juga. Sepertinya memang aku yang harus bergerak."


"Ya iya dong. Tunjukan pesona Mirna yang selalu membuat pria terpana."


"Beres! Mbak Widia tenang aja. Hehehe ..."


Kedua wanita itu langsung tertawa bersama. Sedangkan orang yang mereka bicarakan, saat ini sedang duduk bersama ketiga istrinya membahas tentang usaha para istri. Dengan segala perdebatan yang ada, akhirnyya kesepakatan pun terjadi diantara mereka.


"Mas, ini kan motornya hanya satu, kalau aku ngambil motor yang di rumah gimana?" tanya Namira disela sela obrolannya.


"Lah orang rumah make nggak? Kalau orang rumah pakai motor kamu, ya nggak usah di ambil. Kita beli saja," ucap Julian dengan entengnya.


"Ya dipakai sih, buat gantian Bapak sama Mas Yatno."

__ADS_1


"Nah, orang sedang dipakai, kalau diambil ya nggak enak. Kita beli aja yang baru."


"Beli satu apa tiga?" tanya Safira sambil cengengesan.


"Ya sesuai kebutuhan aja. Emangnya kalau beli tiga buat apa? Beli satu saja cukup kan?"


"Iya benar, satu aja cukup," jawab Kamila. "Ngapain banyak banyak. Pasti banyak nganggurnya."


"Emang mau beli kapan, Mas? Sekarang?" tanya Safira lagi.


Julian melihat jam diponselnya. Udah jam satu siang lebih tiga puluh menit. "Besok aja gimana? Sekarang kalian pilih aja motor apa yang kalian ingin kan."


"Oke!"


Julian lantas tersenyum dan dia bangkit menuju salah satu kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada disana. Beruntung dia sudah melakukan kewajibannya sebagai umat beragama saat dia masih di rumah lama tadi, jadi Julian bisa tenang istirahat di rumah itu.


"Berarti aku harus pulang dulu dong, buat ngambil etalase. Lumayan kan ada dua," ucap Kamila.


"Aku juga kayaknya harus pulang dulu. Barang daganganku juga sebagian ada yang di rumah, sebagian lagi ada juga yang di pasar," ucap Safira.


"Ya kalian ngomong aja sama Julian, kalau ingin pulang dulu beresin dagangan kalian. Atau kalian telfon aja orang rumah buat beresin," usul Namira.


"Punya aku ya nggak bisa lah," balas Kamila. "Ibu nggak tahu apa apa soal daganganku."


"Ya sama," Safira menimpali. "Meski Ibuku tahu barang dagangannku, tapi aku nggak enak aja ngerepotin Ibuku."

__ADS_1


"Ya udah kita bicarakan saja sama Julian nanti. Sepertinya dia lagi tidur," ucap Namira.


"Sambil nunggu dia bangun, gimana kalau kita keluar beli bakso," usul Safira.


"Ide bagus, Yuk!"


Ketiga wanita itu bergegas keluar, pergi ke warung bakso yang ada di seberang jalan komplek rumah baru mereka. Tanpa mereka sadari, gerak gerik tiga wanita itu sedang menjadi perhatian dua wanita tetangga mereka.


"Lihat tuh, Mir! Istri Julian lagi pada pergi!" seru Widia.


"Wah! Benar! Sepertinya Julian tidak ikut apa yah?" balas Mirna dengan wajah berbinar karena merasa memiliki kesempatan yang bagus.


"Jelas banget Julian tidak ikut! Pasti istrinya mau pulang tuh ke rumah. Biasa pulang sambil jalan kaki mereka."


"Kok Mbak Widia tahu?"


"Ya tahu lah, orang aku sering lihat."


"Wah! Kesempatan bagus dong!"


"Bagus banget! Ya udah sana cepat bergerak!"


Dengan sangat girang, Mirna langsung beranjak keluar rumah. Tatapannya waspada memperhatikan keadaan sekitar, Wanita itu melangkah menuju rumah Julian dengan sikap setenang mungkin. Begitu sampai didekat rumah Julian, dengan kewaspadaan penuh, Mirna melangkah menuju pintu.


Ceklek!

__ADS_1


"Wahh! Nggak dikunci, benar benar hari keberuntunganku! Hihihi ..."


...@@@@@...


__ADS_2