PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Rencana Tiga Wanita


__ADS_3

Safira pulang dengan rasa gelisah. Mendengar Julian dalam bahaya, tentu saja dia sangat khawatir. Tapi Safira dilanda dilema, entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Apa dia harus diam atau mengatakannya pada Julian.


Julian memang pernah sangat mengecewakan Safira. Bahkan hinaan pria penjual batagor itu masih teringat jelas dalam benak wanita berusia dua puluh tiga tahun itu. Wanita mana yang tidak sakit hati dianggap sebagai wanita murah meriah dan tidak malu karena mengejar laki laki. Begitu juga dengan yang dirasakan Safira saat ini. Dia juga masih sakit hati dengan mulut pedas pria itu.


Namun sebagai wanita yang memiliki hati nurani dan juga rasa cinta pada Julian, Safira tidak ingin Julian kenapa kenapa. Apa lagi sampai Julian jatuh kedalam pelulan pria belok, Safira sangat tidak rela jika hal itu sampai terjadi. Tapi Safira bingung, bagaimana cara dia memberitahu Julian kalau pria itu dalam masalah.


"Bagaimana kalau aku menghubungi Kamila dan Namira?" gumam Safira dari atas ranjangnya. "Aku yakin, pasti mereka juga bakalan kaget dan tidak terima jika Julian jatuh ke dalam pelukan laki laki. Baiklah."


Safira lansung mengirim pesan kepada dua wanita saingan cintanya. Setelah pesan terkirim, Safira merasa sedikit lebih lega dan tinggal menunggu kabar dari dua wanita itu.


Benar saja, saat pagi menjelang, Namira dan Kamila dibuat gempar begitu membaca kabar dari Safira. Mereka bertiga langsung membuat janji ketemu siang ini di lapak jualan Safira.


Dan saat siang datang, pertemuanpun terjadi.


"Kamu yakin itu rencana sepupu aku?" tanya Kamila yang merasa tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.


"Yakinlah, Mil. Kuping aku sama Desi masih normal. Kamu ngerasa nggak kalau kamu curhat tentang Julian kepada sepupumu itu?" balas Safira.


"Iya sih, aku cerita sama dia. Habis nyaman. Tapi kan aku nggak tahu kalau sepupu aku itu belok. Orang tidak mencurigakan sama sekali," balas Kamila agak frustasi.

__ADS_1


"Gimana nggak belok, temannya aja lenggok lenggok gitu," cibir Safira. "Temannya udah kayak cewek banget kan?"


Kamila menganguk. Dia tahu siapa teman sepupunya yang dimaksud oleh Safira. Karena Kamila sering melihat sepupunya berdua sama temen gemulainya.


"Emang kapan itu rencana penjebakan yang akan mereka lakukan?" tanya Namira.


"Yang aku denger sih, katanya malam minggu ini, di rumah teman sepupunya Kamila. Kalau nggak salah namanya ... Reynan."


"Apa! Reynan?" pekik Kamila membuat dua wanita yang lain kaget.


"Kamu kenal?" tanya Namira.


"Pernah dengar sih. Dia katanya pria belok juga, padahal ganteng loh," jawab Kamila.


"Setuju!"


Di hari yang sama tapi diwaktu yang berbeda, di salah satu rumah yang terlihat cukup mewah, terlihat seorang pria yang berusia sekitar empat puluh delapan tahun, sedang duduk di dekat sebuah kaca besar sembari menatap pemandangan kota yang hanya terlihat cahayanya saja. Tatapan mata pria itu terlihat sendu. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu yang menyedihkan.


"Tuan ? Kenapa anda tidak tidur? Ini sudah larut malam, ingat kesehatan anda," sebuah suara membuyarkan seorang

__ADS_1


Pria itu menoleh ke sumber suara lalu tersenyum kecut. "Aku belum ngantuk, Jhon."


Pria yang dipanggil Jhon lantas duduk disebuah sofa tak jauh dari keberadaan Tuannya "Apa Tuan masih memikirkan istri dan anak tuan?"


Pria tua itu menghembuskan nafasnya secara kasar, kemudian dia duduk di sofa yang sama dengan Jhon. "Kamu sudah tahu jawabannya, kenapa kau selalu bertanya. Kamu tahu kan kalau mereka satu satunya keluargaku."


John nampak manggut mangut. Jhon yang sudah menemani pria tua itu sejak masih muda itu tentu saja sangat mengerti keadaan tuannya. John juga sangat tahu sekeras apa usaha pria itu mencari satu satunya keluarga yang masih tersisa.


"Lagian tumben bener kamu datang kesini, John? Ini udah hampir pukul dua belas malam?" tanya pria yang merasa heran dengan asistennya itu. "Harusnya kamu istirahat lebih awal. Udah tua masih suka begadang."


"Hahaha ..." John malah terbahak. "Anda sedang tidak ngomongin diri sendiri, kan, Tuan?"


"Cih! Mentang mentang udah punya banyak harta, kamu berani meledekku?" balas pria itu pura pura marah. Tapi yang dimarahin malah tertawa makin kencang, membuat pria itu mau tidak mau mendengus lalu ikut tersenyum.


"Tentu saja aku kesini tidak dengan tangan kosong, Tuan. Aku kesini membawa kabar yang bagus untuk anda," balas John dengan senyum penuh arti.


"Ah ... kabar bagus apaan? Paling kabar biasa, nggak jauh jauh dari pekerjaan."


"Hahaha ... tentu bukan dong, tuan," Jhon menjeda ucapannya lalu dia menatap serius ke arah Tuannya. "Ini kabar tentang putra anda, Julian Alonso Darwin."

__ADS_1


Deg!


...@@@@@@...


__ADS_2